Chapter II.pdf - USU Institutional Repository - Universitas Sumatera ...

39 downloads 98 Views 427KB Size Report
Kovarian antara return saham A dan B yang ditulis sebagai Cov(Ra, Rb) atau σRa,Rb .... Risk dan return analysis dari Harry Markowitz (1952) yang kemudian.
BAB II URAIAN TEORITIS

A. Teori Portofolio Teori

portofolio

merupakan

teori

yang

berhubungan

mengenai

pengembalian portofolio yang diharapkan dan tingkat risiko portofolio yang dapat diterima, serta menunjukkan cara pembentukan portofolio yang optimal. Teori portofolio ini saling berkaitan dengan teori pasar modal yang berdasar pada pengaruh keputusan investor terhadap harga sekuritas serta menunjukkan hubungan yang seharusnya terjadi antara pengembalian dan risiko sekuritas jika investor membentuk portofolio yang sesuai dengan teori portofolio. Tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) adalah return yang yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang dan sifatnya belum terjadi. Dengan adanya ketidakpastian (uncertainty) tersebut, berarti investor akan memperoleh return di masa mendatang yang belum diketahui persis nilainya. Return ekspektasi dan tingkat risiko mempunyai hubungan yang positif. Semakin besar risiko suatu sekuritas, semakin besar return yang diharapkan, dan sebaliknya. Konsep dari risiko portofolio pertama kali diperkenalkan oleh Harry M. Markowitz pada tahun 1950-an. Kemudian dia memenangkan hadiah nobel di bidang ekonomi di tahun 1990 untuk hasil karyanya tersebut. Markowitz

Universitas Sumatera Utara

menunjukkan bahwa secara umum risiko mungkin dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke dalam bentuk portofolio. Salah satu pengukur risiko adalah deviasi standar atau varian yang merupakan kuadrat dari deviasi standar. Risiko yang diukur dengan ukuran ini mengukur risiko dari seberapa besar nilai tiap-tiap item menyimpang dari rataratanya. Risiko portofolio juga dapat diukur dengan besarnya deviasi standar atau varian dari nilai return-return sekuritas tunggal di dalamnya. Dengan demikian, varian return portofolio yang merupakan risiko portofolio dapat dituliskan sebagai berikut :

Jika return portofolio (Rp) yang ada di atas dan return porotfolio ekspektasi disubstitusikan, maka menjadi persamaan : Var(Rp)

=

E[(a. Ra + b. Rb) – E(a. Ra + b.

Rb)]2 = E[a. Ra + b. Rb – E(a. Ra) – E(b. Rb)]2 = E[a. Ra – a. E(Ra)) + (b. Rb – b. E(Rb))]2 = E[(a. (Ra – E(Ra)) + (b. (Rb – E(Rb))]2 = E[(a2. (Ra – E(Ra))2 + (b2. (Rb - E(Rb))2 + 2.a.b. (Ra – E(Ra)). (Rb – E(Rb))]

Universitas Sumatera Utara

= a2. E[Ra – E(Ra))]2 + b2. E[Rb – E(Rb)2 + 2.a.b. E(Ra – E(Ra)). (Rb – E(Rb))] maka, Var(Rp) = σp2 = a2. Var(Ra) + b2. Var(Rb) + 2.a.b. (Cov(Ra,Rb) Kovarian antara return saham A dan B yang ditulis sebagai Cov(Ra, Rb) atau σRa,Rb, menunjukkan hubungan arah pergerakan dari nilai-nilai return sekuritas A dan B. Nilai kovarian positif menunjukkan nilainilai dari dua variabel bergerak kea rah yang sama, yaitu jika satu meningkat, yang lainnya juga meningkat atau jika satu menurun, yang lainnya juga menurun. Nilai kovarian yang negatif menunjukkan nilainilai dari dua variabel bergerak kea rah yang berlawanan, yaitu jika satu meningkat, maka yang lainnya menurun, dan sebaliknya. Kovarian yang didasarkan pada return-return ekspektasi dari sekuritas A dan B dapat dihitung dengan rumus : Cov(Ra,Rb) = σRa,Rb =

dimana : Cov(Ra,Rb)

= kovarian return saham antara saham A dan saham B

Rai

=

return masa depan antara saham A kondisi ke-i

Rbi

=

return masa depan saham B kondisi ke-i

Universitas Sumatera Utara

E(Ra) =

return ekspektasi saham A

E(Rb) =

return ekspektasi saham B

ρi

=

probabilitas terjadinya masa depan untuk kondisi ke-i

n

=

jumlah dari kondisi masa depan (i = 1,2,…n)

Konsep dari kovarian dapat dinyatakan dalam bentuk korelasi. Koefisien korelasi menunjukkan besarnya hubungan pergerakan antara dua variabel relative terhadap masing-masing deviasinya. Dengan demikian, nilai koefisien korelasi antara variabel A dan variabel B (rab = ρab) dapat dihitung dengan membagi nilai kovarian dengan deviasi variabel-variabelnya.

Persyaratan utama untuk dapat mengurangi risiko di dalam portofolio adalah return untuk masing-masing sekuritas tidak berkorelasi secara positif dan sempurna. Nilai dari koefisien korelasi berkisar dari +1 sampai dengan -1. Nilai koefisien korelasi +1 menunjukkan korelasi positif sempurna, nilai koefisien korelasi 0 menunjukkan tidak ada korelasi dan nilai koefisien korelasi -1 menunjukkan korelasi negatif sempurna. Jika dua buah aktiva memiliki return dengan koefisien korelasi +1 (positif sempurna), maka semua risikonya tidak dapat didiversifikasi atau risiko portofolio tidak akan berubah sama dengan risiko aktiva individualnya. Jika dua buah aktiva memiliki return dengan koefisien korelasi -1 (negative sempurna), maka semua risikonya dapat didiversifikasi atau risiko portofolio akan sama dengan nol. Jika

Universitas Sumatera Utara

koefisiennya di antara +1 dan -1, maka akan terjadi penurunan risiko di portofolio, tetapi tidak menghilangkan semua risikonya. Bagian dari risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang well-diversified disebut dengan risiko yang dapat didiversifikasikan (diversifiable risk) atau risiko perusahaan (company risk) atau risiko spesifik (specific risk) atau risiko unik (unique risk) atau risiko yang tidak sistematik (unsystematic risk). Karena risiko ini unik untuk suatu perusahaan, yaitu hal buruk terjadi di suatu perusahaan dapat diimbangi dengan hal baik yang terjadi di perusahaan lain, maka risiko ini dapat didiversifikasi di dalam portofolio. Contoh dari risiko ini adalah pemogokan bruh, tuntutan pihak lain, dan sebagainya. Sebaliknya, risiko yang tidak dapat didiversifikasikan oleh portofolio disebut dengan non-diversifiable risk atau risiko pasar (marke risk) atu risiko umum (general risk) atau risiko sistematik (systematic risk). Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian di luar kegiatn perusahaan, seperti inflasi, resesi, dan lain sebagainya.

1. Diversifikasi Telah diketahui bahwa risiko yang dapat didiversifikasikan adalah risiko yang tidak sistemik atau risiko spesifik. Diversifikasi ini sangat penting untuk investor, karena dapat meminimumkan risiko tanpa harus mengurangi return yang diterima. Investor dapat melakukan diversifikasi dengan beberapa cara, seperti misalnya dengan membentuk portofolio berisi banyak aktiva,

Universitas Sumatera Utara

membentuk portofolio secara random atau diversifikasi denagn metode Markowitz. 1.1 Diversifikasi dengan Banyak Aktiva Asumsi yang digunakan di sini adalah bahwa tingkat hasil (rate of return) untuk masing-masing sekuritas secara statistik adalah independen. Ini berarti bahwa rate of return untuk satu sekuritas tidak terpengaruhi oleh rate of return sekuritas lainnya. Dengan asumsi ini, deviasi standar yang mewakili risiko dari portofolio dapat dituliskan sebagai :

Dari rumus di atas, terlihat bahwa risiko dari portofolio akan menurun cepat dengan semakin besarnya jumlah sekuritas (n). Semakin banyak sekuritas yang dimasukkan ke portofolio, semakin kecil risiko portofolionya. Kenyataannya, asumsi rate of return yang independen untuk masing-masing sekuritas adalah kurang realistis, karena umunya return sekuritas berkorelasi satu dengan lainnya.

1.2 Diversifikasi Secara Random Diversifikasi secara random merupakan pembentukan portofolio dengan memilih sekuritas-sekuritas secara acak tanpa memperhatikan karakteristik dari

Universitas Sumatera Utara

investasi yang relevan misalnya return dari sekuritas itu sendiri. Investor hanya memilih sekuritas secara acak. Efek dari pemilihan sekuritas sekuritas secara acak terhadap risiko portofolio diteliti oleh Fama (1976). Deviasi standar masing-masing sekuritas dihitung menggunakan data return bulanan dari bulan Juli 1963 sampai dengan Juni 1968. Sekuritas pertama yang dipilih secara acak mempunyai deviasi standar 11%. Kemudian sekuritas kedua juga dipilih secara acak dan dimasukkan ke dalam portofolio dengan proporsi yang sama. Deviasi standar portofolio turun menjadi sekitar 7,2%. Langkah-langkah yang sama dilakukan sampai dengan 50 sekuritas. Penurunan risiko portofolio terjadi dengan cepat sampai dengan sekuritas ke 10 hingga ke 15. Setelah sekuritas ke 15, penurunan risiko portofoliomenjadi lambat. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan diversifikasi dapat dicapai hanya dengan sekuritas yang tidak terlalu banyak, yaitu hanya kurang dari 15 sekuritas sudah dapat mencapai diversifikasi. 1.3 Diversifikasi Secara Markowitz Sebelumnya telah ditunjukkan bahwa dengan menggunakan metode dari Markowitz, sekuritas-sekuritas yang mempunyai korelasi lebih kecil dari 1 akan menurunkan risiko portofolio. Dengan kata lain, saat melakukan diversifikasi, dianjurkan untuk menghindari saham-saham yang berkorelasi positif, atau pilihlah saham yang berkorelasi negative. Semakin banyak sekuritas yang dimasukkan dalam porofolio, semakin kecil risiko portofolio. Misalnya, saham pabrik semen dan saham properti adalah berkorelasi positif. Saham Astra Internasional, saham Astra Otopart, dan saham Gajah Tunggal

Universitas Sumatera Utara

(pabrik ban) juga berkorelasi positif karena ketiga jenis saham ini termasuk dalam satu sektor, yakni sektor otomotif. Jadi, jika sudah memiliki saham semen, jangan memiliki saham property, dan jika sudah memiliki saham Asttra Internasional jangan memiliki saham Astra Otopart, dan seterusnya. Kebaikan dari korelasi positif adalah apabila sekuritas dalam portofolio sedang naik harganya, maka keuntungang akan menjadi sangat besar. Sementara keburukannya adalah jika harga sedang turun, kerugian yang besar akan dialami. Kebaikan dari memiliki sekuritas yang berkorelasi negatif adalah bila yang satu merugi sementara yang lain untung, maka kita tidak mengalami kerugian total. 2. Pemilihan Portofolio Di dalam membentuk suatu portofolio, terdapat permasalahan yakni terdapat banyak sekali kemungkinan portofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi aktiva berisiko yang tersedia di pasar. Kombinasi ini dapat mencapai jumlah yang tidak terbatas. Belum lagi kombinasi ini juga memasukkan aktiva bebas risiko di dalm pembentukan portofolio. Jika terdapat kemungkinan portofolio yang jumlahnya tidak terbatas, maka akan timbul pertanyaan mana yang akan dipilih oleh investor. Jika investor adalah rasional, maka mereka akan memilih portofolio yang optimal. Portofolio optimal dapat ditentukan dengan menggunakan model Markowitz atau model indeks tunggal. Untuk menentukan portofolio yang optimal dengan model-model ini, yang pertama kali dibutuhkan adalah menentukan portofolio yang efisien. Untuk model-model ini, semua portofolio yang optimal adalah portofolio yang efisien. Karena tiap-tiap investor memiliki kurva berbeda, portofolio akan berbeda untuk masing-masing investor.

Universitas Sumatera Utara

Investor yang lebih menyukai risiko akan memilih portofolio dengan return yang tinggi dengan membayar risiko yang juga lebih tinggi dibandingkan dengan investor yang kurang menyukai risiko. Jika aktiva tidak berisiko, seperti SBI, dipertimbangkan, maka aktiva ini dapat merubah portofolio optimal yang mungkin sudah dipilih oleh investor. Portofolio yang efisien didefinisikan sebagai portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan risiko yang sudah tertentu atau memberikan risiko terkecil dengan return ekspektasi yang sudah tertentu. Portofolio yang efisien ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan risikonya atau menentukan tingkat risiko yang tertentu kemudian memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih portofolio yang efisien ini karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return ekspektasi atau risiko portofolio. 2.1 Portofolio Optimal Berdasarkan Model Markowitz Model Markowitz menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. Waktu yang digunakan hanya satu periode. 2. Tidak ada biaya transaksi. 3. Preferensi investor hanya didasarkan pada return ekspektasi dan risiko dari portofolio. 4. Tidak ada pinjaman dan simpanan bebas risiko

Universitas Sumatera Utara

Asumsi bahwa preferensi investor hanya didasarkan pada return ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisit menganggap bahwa investor memiliki fungsi utiliti yang sama. Pada kenyataannya tiap-tiap investor mempunyai fungsi utiliti yang berbeda. Jika preferensi investor terhadap portofolio berbeda karena mereka mempunyai fungsi utiliti yang berbeda. Demikian juga jika tersedia pinjaman dan simpanan bebas risiko, maka optimal portofolio akan dapat berbeda seandainya pinjaman dan simpanan bebas risiko ini tidak tersedia. Model Markowitz ini tidak mempertimbangkan hal ini. Jika investor hanya mempertimbangkan risiko portofolio yang terkecil tanpa mempertimbangkan simpanan dan pinjaman bebas risiko dan investor diasumsikan sebagai risk-averse individu. 2.2 Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal (Single-Index Model) Terdapat banyak model untuk pengambilan keputusan investasi sekuritas. Ketika memilih investasi sekuritas dalam bentuk saham, obliasi, Reksa dana, atau indeks pasar, investor selalu mempertimbangkan dua hal, yakni risk dan return. Untuk dapat menghitung retun, investor harus mengetahui keberadaan undervalued atau overvalued securities, dan untuk tujuan itu banyak model yang digunakan. Risk dan return analysis dari Harry Markowitz (1952) yang kemudian dikembangkan oleh Jack Treynor (1965), William Sharpe (1966), Michael Jensen (1968), dan Treynor & Black (1973) merupakan suatu cara yang objektif untuk

Universitas Sumatera Utara

memprediksi harga atau return sekuritas karena didasarkan pada data riil masa sebelumnya yang kemudian dirata-ratakan dan diolah. William Sharpe (mengembangkan model yang disebut dengan model indeks tunggal. Model ini dapat digunakan untuk menyederhanakan perhitungan di model Markowitz dengan menyediakan parameter-parameter input yang dibutuhkan di dalam perhitungan model Markowitz. Di samping itu, model ini dapat juga digunakan untuk menghitung return ekspektasi dan risiko portofolio. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Secara khusus, dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan jika indeks harga saham naik. Kebalikannya juga benar. Hal ini menyarankan bahwa return-return dari sekuritas mungkin berkorelasi karena adanya reaksi umum (common response) terhadap perubahan-perubahan nilai pasar. Perhitungan untuk menentukan portofolio optimal sangat dimudahkan jika hanya didasarkan pada sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu sekuritas dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal tersebut. Angka tersebut adalah rasio antara ekses return dengan Beta. Excess return didefinisikan sebagai selisih return ekspektasi dengan return aktiva bebas risiko. Excess return to Beta ini mengukur kelebihan return relative terhadap satu unit risiko yang tidak dapat didiversifikasikan yang diukur dengan Beta. Rasio ini juga menunjukkan hubungan antara dua faktor penentu investasi, yaitu return dan risiko. Portofolio yang optimal akan berisi dengan aktiva-aktiva yang mempunyai nilai rasio tinggi. Aktiva-aktiva dengan hasil rasio yang rendah tidak akan

Universitas Sumatera Utara

dimasukkan ke dalam portofolio optimal. Dengan demikian, diperlukan sebuah titik pembata (cut-off point) yang menentukan batas nilai rasio berapa yang dikatakan tinggi. B. Saham 1. Pengertian Saham Saham dapat didefenisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham suatu perusahaan didaftarkan dibursa efek dengan berbagi alasan diantaranya adalah untuk ekspansi usaha, membayar utang atau membiayai kegiatan operasional perusahaan yang tidak dapat tertutupi dari pendapatan perusahaan. Saham yang didaftarkan tersebut kemudian dibeli oleh investor untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang diberikan oleh saham adalah dividen yang dibayarkan oleh perusahaan dan capital gain yang diperoleh investor ketika menjual kembali saham tersebut. Dividen adalah pembagian yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut (Darmadji, 2001). Besar dividen yang dibayarkan perlembar saham ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Investor yang ingin mendapatkan dividen harus setidaknya memegang saham perusahaan sampai periode dimana pembayaran dividen dilakukan. Umumnya dividen adalah daya tarik perusahaan sehingga investor

Universitas Sumatera Utara

berniat menahan kepemilikan saham (investor dengan orientasi jangka panjang). Dividen yang dibayarkan dapat berupa tunai atau berupa saham. Dividen tunai artinya pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk stiap lembar saham yang dimiliki. Dividen saham berarti setiap pemegang saham diberikan sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang investor akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham. Capital gain merupakan selisih antara harga beli investor atas suatu saham perusahaan dengan harga jual saham dilantai bursa. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham dipasar sekunder. Umunya investor dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan dari kepemilikan saham sebagai capital gain. Misalnya investor membeli saham dipagi hari dan kemudian menjualnya lagi di siang hari jika saham mengalami kenaikan harga. Selain keuntungan keuntungan berupa capital gain tersebut, pemegang saham juga dimungkinkan untuk mendapatkan saham bonus. Saham bonus merupakan saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih harga jual terhadap harga nominal saham tersebut pada saat perusahaan melakukan penawaran umum di pasar perdana. Karena dikenal dengan karakteristik high risk – high return, saham merupakan

surat

berharga

yang

memberikan peluang

Universitas Sumatera Utara

keuntungan tinggi namun juga berpotensi risiko tinggi. Risiko yang dapat dihadapi pemodal dengan kepemilikan sahamnya, adalah seperti capital loss. Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu mendapatkan keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada kalanya pemodal harus menjual saham dengan harga jual yang lebih rendah dari harga beli. Dengan demikian, investor mengalami capital loss. Dalam jual beli saham, terkadang untuk mengahindari potensi kerugian yang makin besar seiring dengan terus menurunnya harga saham, maka seorang investor rela menjual saham dengan harga rendah, yang disebut dengan cut loss. Di samping risiko capital loss, seorang pemegang saham juga masih dihadapkan dengan potensi risiko seperti perusahaan bangkrut atau dilikuidasi. Bila perusahaan tersebut bangkrut, maka otomatis berdampak langsung kepada saham perusahaan tersebut. Sesuai dengan peraturan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, maka jika suatu perusahaan bangkrut atau dilikuidasi, maka secara otomatis saham perusahaan tersebut akan dikeluarkan dari bursa atau di delist. Suatu saham yang didelist dari Bursa umunya memiliki kinerja yang buruk, misalnya dalam waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan Peraturan Pencatatan Efek di Bursa Efek Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

Adanya risiko berupa di suspend alias dihentikannya perdagangan saham tertentu oleh otoritas Bursa juga merupakan ancaman lain bagi para investor. Bila saham tersebut telah di suspend, maka para investor tidak dapat menjual sahamnya hingga suspend dicabut. Suspend biasanya berlangsung dalam waktu singkat, misalnya satu sesi perdagangan, dua sesi perdagangan, namun dapat pula berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan. Hal tersebut dilakukan otoritas bursa jika misalnya suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipailitkan oleh krediturnya, atau berbagai kondisi lain yang mengharuskan. Jika telah didapatkan suatu informasi yang jelas dari perusahaan tersebut, maka suspend atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa atau saham tersebut dapat diperdagangkan lagi seperti semula. 2. Jenis Saham Saham yang dikenal sehari-hari adalah saham biasa (common stock) tetapi ada juga jenis saham yang lainnya. Ada beberapa sudut pandang untuk membedakan saham: 2.1 Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim: a.

Saham Biasa (common stock), yaitu saham yang menempatkan

pemiliknya berada diurutan paling akhir terhadap pembagian dividen dan hak atas harga kekayaan perusahaan apabila perusahaan dilikuidasi.

Universitas Sumatera Utara

b.

Saham Preferen (prefered stock),

yaitu

saham yang

memiliki

karakteristik gabungan obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi) tetapi bis juga tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis diatas lembaran saham tersebut dan mendapat dividen. Sedangkan persamaannya antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal: ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya; dividennya tetap selama masa berlaku dari saham; memilki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham preferen diperdagangkan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. 2.2 Dilihat dari cara peralihannya saham dapat dibedakan atas: a.

Saham Atas Unjuk (bearer stocks), artinya saham tersebut tidak tertulis

nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah yang diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS. b.

Saham Atas Nama (registered stocks), yaitu saham yang ditulis dengan

jelas siapa nama pemiliknya, dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

Universitas Sumatera Utara

2.3 Ditinjau dari kinerja perdagangan maka saham dapat dibedakan atas: a.

Blue Chip Stocks, yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki

reputasi tinggi sebagai leader di industri sejenis, memilki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen. b.

Income Stocks, yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan

membayar dividen yang lebih tinggi dari rata-rata yang mampu dibayarkan oleh perusahaan lain sejenis. Emiten seperti ini biasanya menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur mampu membayarkan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham. c.

Growth Stocks (well-known), yaitu saham-saham dari emiten yang

memiliki pertumbuhan pendapatan yamg tinggi sebagai leader di industri sejenis yang memiliki reputasi tinggi. Selain itu terdapat juga growth stock (lesserknown), yaitu saham dari emiten yang tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki cirri growth stocks. d.

Speculative Stocks, yaitu saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara

konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan tinggi dimasa mendatang. e.

Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh

kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagaimana akibat dari kemampuan emiten memperoleh

Universitas Sumatera Utara

penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang sangat atau selalu dibutuhkan masyarakat seperti rokok, consumer goods. Ada juga literatur yang menyebutkan saham jenis ini dengan nama defensive stocks. f.

Cyclical

Stocks,

yaitu

saham emitien

yang

mempunyai

masa

kemakmuran pada masa-masa tertentu saja. Misalnya, perusahaan yang memproduksi perlengkapan sekolah akan menghasilkan penjualan penjualan pesat menjelang tahun ajaran baru dimulai perusahaan yang memproduksi perlengkapan sekolah akan kebanjiran order. Begitu juga dengan perusahaan yang memproduksi seragam sekolah. g. Junk Stocks, yaitu saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang tidak memiliki manajemen yang baik dan seringkali mengalami kerugian. Perusahaan seperti ini memiliki uang yang banyak dan tidak memiliki produk yang berprospek cerah. Kalaupun pernah membagikan dividen jumlahnya kecil dan seringkali dilakukan karena dipaksa akibat adanya peraturan. 3. Indeks Harga Saham Jenis-jenis Indeks Harga Saham di Bursa Efek Indonesia: a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Perhitungannya menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks dimana satuan perubahan indeks dinyatakan dengan satuan poin.

Universitas Sumatera Utara

b. Indeks Individual Indeks individual menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya. Perhitungan indeks ini menggunakan prinsip yang sama dengan IHSG yaitu: Harga pasar / Harga dasar x 100%

Dimana: IHST

= Indeks saham periode t

NPt

= Nilai pasar pada hari ke-t

ND

= Nilai Dasar

c. Indeks Harga Saham Sektoral Indeks ini mulai diberlakukan tanggal 2 januari 1996 dari BEJ, indeks sektoral terdapat 9 sektor. Menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor: a. Sektor-sektor primer (ekslaratif) 1. Pertanian 2. Pertambangan

Universitas Sumatera Utara

b. Sektor-sektor sekunder (industri manufaktur) 3. Industri dasar dan kimia 4. Aneka Industri 5. Industri barang konsumen c. Sektor-sektor tertier (jasa) 6. Properti dan real estate 7. Transportasi dan infrastruktur 8. Keuangan 9. Perdagangan, jasa dan investasi

d. Indeks LQ 45 Indeks LQ 45 yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Indeks ini terdiri dari 45 saham / emiten dengan likuiditas yang tinggi, yang dipilih setelah melalui beberapa kriteria pemilihan saham. Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas saham tersebut juga mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Berikut adalah kriteria tertentu dan seleksi utama sebuah saham untuk masuk dalam LQ45:

Universitas Sumatera Utara

1. Masuk dalam ranking 60 besar dari total transaksi saham di pasar regular (rata–rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir). 2. Ranking berdasar kapitalis pasar (rata – rata kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir). 3. Telah tercatat di BEJ minimum 3 bulan. 4. Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhannya, frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi pasar reguler. BEJ secara rutin memantau perkembangan komponen saham yang masuk dalam perhitungan indeks LQ45. Pergantian saham akan dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali, yaitu pada awal bulan Februari dan awal bulan Agustus. Indeks LQ45 dihitung mundur hingga tanggal 13 Juli 1994 sebagai Hari Dasar, dengan Nilai Dasar 100. Untuk seleksi awal digunakan data pasar Juli 1993 – Juli 1994. Hasilnya, ke 45 saham tersebut meliputi 72% total market kapitalisasi pasar dan 72,5 % dari nilai transaksi di pasar reguler. e. Indeks Jakarta Islamic (JII) Merupakan indeks terakhir yang dikembangkan oleh BEI, indeks ini merupakan indeks yang mengakomodasikan syariat-syariat investasi dalam islam atau indeks yang berdasarkan Syariah Islam. Dalam indeks ini terdapat 30 saham pilihan yang telah memenuhi syarat menurut Syariah Islam, sebagai tolak ukur saham-saham yang dihalalkan dalam melakukan jual beli saham. C. Valuasi Harga Wajar Saham

Universitas Sumatera Utara

1. Valuasi Saham Preferen Dalam menghitung harga wajar saham preferen relatif mudah, yaitu dengan mendiskontokan (discounting) dividen ke nilai sekarang (present value) dengan required rate of return selama periode waktu yang tidak terhingga (infinite) atau selama memiliki saham preferen tersebut. Rumusnya adalah V = D/k p

dimana: V

= Nilai intrinsik (nilai wajar) saham preferen

D

= Dividen tetap

k

= required rate of return atau discount rate

p

2. Valuasi Saham Biasa Penilaian (valuation) adalah proses penentuan proses penentuan berapa harga yang wajar untuk suatu saham (Parahita,2008). Harga saham atau nilai saham

merupakan nilai sekarang dari aliran kas di masa mendatang. Harga saham atau nilai saham dapat ditentukan berdasarkan nilai buku (book value), nilai pasar (market value), dan nilai intrinsik (intrinsic value). Nilai buku (book value) merupakan nilai yang tertera dalam neraca yang dihitung dengan cara membagi total seluruh ekuitas atau modal sendiri dengan jumlah lembar saham yang beredar (outstanding shares). Harga pasar atau nilai pasar merupakan harga jual saham di pasar. Sedangkan nilai intrinsik atau sering disebut dengan nilai teoritis

Universitas Sumatera Utara

adalah

harga

yang

ditentukan

setelah

mempertimbangkan

faktor-faktor

mempengaruhi saham. Tujuan utama analisis nilai intrinsik adalah untuk mengetahui harga sesungguhnya dari suatu saham pada periode tertentu dengan mempertimbangkan faktor-faktor fundamental keuangan suatu perusahaan sehingga diketahui sekuritas tersebut apakah undervalued, overvalued, atau pun wajar. Sekuritas yang ternyata undervalued berarti pasar gagal atau tidak menemukan adanya faktor-faktor yang membenarkan harganya harus tinggi. Artinya nilai sekuritas lebih tinggi daripada harga jualnya. Segera setelah masyarakat investor menyadari situasi tersebut, misalnya karena manajemen mengumumkan EPS (earning per share) lebih tinggi dari yang diharapkan, para investor akan membeli saham dan akan memaksa harga naik. Perseorangan atau perusahaan yang menjual saham pada waktu undervalued akan mendapat keuntungan (capital gain) tetapi investor yang menjual pada saat saham overvalued akan menderita kerugian (capital loss). Sementara investor yang sebelumnya telah memiliki saham dalam portofolionya, jika saham overvalued, maka ia akan segera melepasnya (cut loss) dan jika undervalued akan tetap mempertahankannya (hold). Adalah bijaksana untuk tidak membeli saham overvalued sebab cepat atau lambat akan terjadi koreksi pasar. Dalam melakukan analisis dan memilih saham, terdapat dua aspek atau pendekatan yang sering digunakan, yakni aspek fundamental dan aspek teknikal. Analisis fundamental berpendapat bahwa suatu sekuritas memiliki nilai intrinsik tertentu (nilai yang seharusnya). Nilai intrinsik suatu sekuritas ditentukan oleh

Universitas Sumatera Utara

faktor-faktor fundamental yang berasal dari dalam perusahaan, industri maupun keadaan perekonomian makro. Analisis fundamental akan membandingkan nilai intrinsik suatu sekuritas dengan harga pasarnya guna menentukan apakah harga pasar sekuritas sudah benar- benar mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, maka akan ditentukan strategi investasi, apakah dibeli, dijual atau dipertahankan. Ide dasar pendekatan ini adalah bahwa harga sekuritas akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, misalnya tingkat penjualan, pertumbuhan penjualan, kebijakan dividen, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), manajemen, kinerja, laba usaha, dan lain-lain. Analisis teknikal memulai analisisnya dengan (hanya) memperhatikan perubahan harga sekuritas itu sendiri dari waktu ke waktu. Para pendukung pendekatan ini berpendapat bahwa faktor-faktor fundamental dari suatu sekuritas tercemin dalam harga sekuritas. Analisis teknikal didasarkan pada anggapan bahwa harga suatu sekuritas akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap sekuritas tersebut. Oleh karena itu, teknik-teknik analisis dalam pendekatan ini dirancang untuk mengukur kedua aspek, yakni permintaan dan penawaran. Analisis teknikal didasarkan pada beberapa asumsi dasar, yaitu : 1. Harga sekuritas akan ditentukan oleh onteraksi antara permintaan dan penawaran sekuritas.

Universitas Sumatera Utara

2. Penawaran dan permintaan sekuritas itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang rasional maupun irrasional. 3. Perubahan harga sekuritas cenderung bergerak pada satua rah tertentu (trend). 4. Pergeseran penawaran dan permintaan sekuritas akan mempengaruhi arah perubahan harga. 5. Pola-pola tertentu yang terjadi pada masa lampau akan terulang kembali pada masa yang akan datang. Pada hakekatnya, penilaian saham melalui analisis fundamental dapat dibedakan menjadi dua metode, yaitu pendekatan nilai sekarang (present value approach) dan pendekatan Price Earning Ratio (P/E Ratio). Pendekatan nilai sekarang menganggap bahwa harga teoritis (intrinsik) saham merupakan total nilai sekarang dari seluruh aliran kas yang akan diterima selama periode pemegangan saham (holding period). Sementara itu, penghitungan harga teoritis saham dengan pendekatan P/E Ratio dilakukan dengan menentukan harga dari setiap Rupiah pendapatan yang akan diterima. Pendekatan nilai sekarang juga disebut dengan metode kapitalisasi laba (capitalization income method), karena melibatkan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depam yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Jika investor percaya bahwa nilai dari perusahaan tergantung dari prospek perusahaan tersebut di masa mendatang

dan prospek

ini

merupakan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan aliran kas di masa depan, maka nilai perusahaan tersebut dapat

Universitas Sumatera Utara

ditentukan dengan mendiskontokan nilai-nilai arus kas (cash flow) di masa depan menjadi nilai sekarang. Arus kas merupakan komponen di dalam penentuan nilai perusahaan. Arus kas merupakan kas yang diterima oleh perusahaan emiten. Sebagai alternatif dari arus kas, laba perusahaan (earnings) juga dapat digunakan untuk menghitung nilai intrinsik. Earnings yang diperoleh perusahaan dapat ditahab sebagai sumber dana internal (retained earnings) atau dibagikan dalam bentuk dividen. Arus dividen dapat dianggap sebagai arus kas yang diterima oleh investor. Dengan alasan bahwa dividen merupakan satu-satunya arus pendapatan yang diterima oleh investor, model diskonto dividen (Dividend Discount Model) dapat digunakan sebagai pengganti model diskonto arus kas untuk menghitung nilai intrinsik saham.

Penilaian harga wajar saham dengan menggunakan pendekatan dividen ini dapat dibedakan menjadi : 1. Model Tanpa Petumbuhan (zero growth model) Model ini berasumsi bahwa dividen yang dibayarkan perusahaan tidak akan mengalami pertumbuhan. Dengan kata lain, jumlah dividen yang dibayarkan akan tetap sama dari waktu ke waktu. Jika perusahaan membayar dividen secara konstan yang nilainya sama dari waktu ke waktu, yaitu sebesar D, maka nilai intrinsik harga saham menjadi :

Universitas Sumatera Utara

dan dapat disederhanakan menjadi :

dimana :

D = Dividen yang akan diterima dalam jumlah konstan selama periode pembayaran dividen dimasa datang. k = Tingkat return yang diisyaratkan. 2. Model Pertumbuhan Konstan (Constant Growth Model) Model ini dipakai untuk menentukan nilai saham, jika dividen yang akan dibayarkan mengalami pertumbuhan secara konstan selama waktu tak terbatas. Jika dividen periode awal adalah D0, maka dividen periode kesatu adalah D0(1+g) dan periode kedua adalah D0 (1+g) (1+g) atau D0(1+g)2 dan seterusnya. Untuk kasus pembayaran dividen yang bertumbuh secara konstan ini, rumus nilai intrinsik saham menjadi :

Rumus ini disederhanakan menjadi :

Universitas Sumatera Utara

dimana :

Po = nilai intrinsik atau nilai teoritis saham D

= dividen yang diharapkan pada tahun n

K

= required rate of return yang dihasilkan melalui CAPM

g

= pertumbuhan dividen

3. Model Pertumbuhan Berganda atau Supernormal (multiple growth model) Asumsi perusahaan akan membayarkan dividen secara konstan dalam kenyataannya kadangkala kurang tepat karena pada beberapa tahun awal selama masa pertumbuhan fantastis, perusahaan mungkin akan mampu membayarkan dividen dengan pertumbuhan di atas normal dan setelah melewati masa pertumbuhan fantastis di tahun awal tersebut, pertumbuhan tingkat dividen (g) yang akan dibayarkan perusahaan mungkin akan menjadi lebih rendah dibanding masa sebelumnya dan selanjutnya akan bertumbuh secara tetap. Proses ini menghitung nilai saham dengan menggunakan model pertumbuhan dividen tidak konstan adalah sebagai berikut :

dimana : Po

= harga intrinsik saham

Universitas Sumatera Utara

D0

= dividen saat ini

gt

= pertumbuhan dividen di atas normal

gc

= pertumbuhan dividen normal

k

= required rate of return

n

= periode pertumbuhan dividen di atas normal

dn

= dividen pertumbuhan normal Selain menggunakan arus kas atau arus dividen dalam menghitung nilai

intrinsik saham adalah dengan menggunakan nilai laba perusahaan (earnings). Salah satu metode nya adalah Relative Valuation Techniques.Melalui pendekatan ini, dikenal beberapa metode, yaitu Price Earnings Ratio, Price Book Value atio, dan Price Dividend Ratio. Dalam penelitian ini, penulis hanya memakai metode Price Earnins Ratio atau disebut juga dengan pendekatan earnings multiplier dalam mengadakan valuasi terhadap harga saham. P/E Ratio menunjukkan rasio dari harga saham terhadap earnings. Rasio ini menunjukkan berapa besar investor menilai harga dari saham terhadap kelipatan dari earnings. Misalnya nilai P/E Ratio adalah lima, maka ini menunjukkan bahwa harga saham perusahaan merupakan kelipatan dari lima kali earnings perusahaan tersebut. Misalnya earnings yang digunakan adalah earnings tahunan dan semua earnings dibagikan dalam bentuk dividen, maka nilai P/E Ratio sebesar lima juga menunjukkan lama investasi pembelian saham akan kembali selama lima tahun. Rumus P/E Ratio dapat djelaskan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

dimana : D1/E1 = rasio pembayaran dividen terhadap earnings (disebut dividend payout ratio) k

=

tingkat keuntungan yang diharapkan

g

=

tingkat pertumbuhan dividen normal

Rumus di atas menunjukkan faktor-faktor yang menentukan besarnya P/E Ratio , yaitu: 1.

P/E Ratio berhubungan positif dengan rasio pembayaran dividen

terhadap earnings (dividend payout ratio). 2.

P/E Ratio berhubungan negatif dengan tingkat pengembalian atau

keuntungan yang diharapkan. 3.

P/E Ratio berhubungan positif dengan tingkat pertumbuhan dividen.

D. Capital Asset Pricing Model (CAPM) Capital Assets Pricing Model (CAPM) dikembangkan pertama kali pada tahun 1960 oleh William F. Sharpe, Lintner, dan Mossin. CAPM merupakan suatu model yang menghubungkan tingkat return

Universitas Sumatera Utara

yang diharapkan dari suatu aset berisiko dengan risiko dari aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang (Tandelilin, 2001:90). CAPM didasari oleh teori portofolio yang dikemukakan oleh Markowitz. Berdasarkan model Markowitz, masing-masing investor diasumsikan akan mendiversifiksikan portofolionya dan memilih portofolio yang optimal atas dasar preferensi investor terhadap return dan resiko, pada titik-titik portofolio yang terletak di sepanjang garis portofolio efisien. Disamping asumsi itu, ada beberapa asumsi lain dalam CAPM yang dibuat untuk menyederhanakan realitas yang ada, yaitu: 1.

Semua investor mempunyai distribusi probabilitas tingkat return dimasa

depan yang identik, karena mereka mepunyai harapan atau ekspektasi yang hampir sama. Semua investor menggunakan sumber informasi seperti tingkat return, varians return, dan matriks korelasi yang sama dalam kaitannya dengan pembentukan portofolio yang efisien. 2.

Semua investor mempunyai satu periode waktu yang sama, misalnya satu

tahun. 3.

Semua investor dapat meminjam (borrowing) atau meminjamkan

(lending) uang pada tingkat return yang bebas risiko (risk-free rate of return). 4.

Tidak ada biaya transaksi

5.

Tidak ada pajak pendapatan.

6.

Tidak ada inflasi.

Universitas Sumatera Utara

7.

Terdapat banyak sekali investor, dan tidak ada satu pun investor yang

dapat mempengaruhi harga suatu sekuritas. Semua investor adalah price-taker. 8.

Pasar dalam keadaan seimbang (equilibrium) Model CAPM merupakan model yang bisa menggambarkan atau

memprediksi realitas dipasar yang bersifat kompleks, meskipun bukan kepada realitas asumsi-asumsi yang digunakan. Oleh karena itu, CAPM sebagai sebuah model keseimbangan bisa membantu kita menyederhanakan gambaran realitas hubungan return dan risiko dalam dunia nyata yang terkadang sangat kompleks. Jika semua asumsi diatas terpenuhi maka akan terbentuk suatu pasar yang seimbang. Dalam kondisi pasar yang seimbang, investor tidak akan bisa memperoleh return abnormal (return ekstra) dari tingkat harga yang terbentuk, termasuk bagi investor yang melakukan perdagangan spekulatif. Oleh karena itu, kondisi tersebut akan mendorong semua investor untuk memilih potorfolio pasar, yang terdiri dari semua aset berisiko yang ada. Portofolio pasar tersebut akan berada pada garis permukaan efisien (efficient frontier) dan sekaligus merupakan portofolio yang optimal. Apa yang bisa dijadikan ukuran portofolio pasar? Berdasarkan model CAPM, portofolio pasar seharusnya meliputi semua aset berisiko yang, baik itu aset financial (obligasi, opsi, future dan sebagainya) maupun aset riil (emas, real estate). Tetapi dalam kenyataannya hal itu sulit dilakukan karena jumlahnya yang banyak sekali dan tidak mungkin diamati satu persatu. Untuk itu, diperlukan suatu proksi portofolio pasar, yang bisa diwakili oleh portofolio yang terdiri dari semua saham yang ada di pasar. Proksi ini bisa diwakili oleh nilai indeks pasar, seperti

Universitas Sumatera Utara

Indeks Pasar Gabungan (IHSG) ataupun LQ45 (harga satuan untuk sekuritas yang paling aktif) untuk kasus di Indonesia. Untuk selanjutnya indeks pasar inilah yang digunakan sebagai portofolio pasar. Portofolio tersebut merupakan portofolio yang terdiri dari aset berisiko, dan risiko portofolio akan diukur dengan menggunakan nilai standar deviasi pasar (σm). Menurut teori CAPM tingkat pendapatan yang diharapkan dari sekuritas dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

dimana : ks

= tingkat pendapatan yang diharapkan dari suatu sekuritas yang mengandung risiko (required rate of return).

Rf

= tingkat pendapatan bebas risiko.

β

= tolak ukur risiko yang tidak bisa terdiversifikasi dari surat berharga

E(Rm)

= tingkat pendapatan yang diharapkan dari portofolio pasar (expected return).

E(Rm) - Rf = premi risiko E. Beta (β) Risiko (risk) didefinisikan dalam kamus Webster sebagai suatu halangan, gangguan, eksposur terhadap kerugian atau kecelakaan. Jadi, resiko diartikan

Universitas Sumatera Utara

sebagai peluang akan terjadinya suatu peristiwa yang tidak diinginkan (Brigham, 2004). Risiko sistematik adalah bagian dari risiko sekuritas yang tidak dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio atau didiversikfikasi. Risiko sistematik ini dimiliki atau melekat pada semua perusahaan, karena disebabkan oleh faktor makro ekonomi, misalnya inflasi dan tingkat suku bunga. Sumber risiko dapat dibagi atas dua kelompok, yaitu risiko yang sistematis merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan dan risiko tidak sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi sekelompok kecil perusahaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa risiko sistematik suatu saham merupakan indikator yang menunjukkan sensivitas pergerakan return saham terhadap pergerakan return saham-saham lainnya di pasar. Adanya kaitan antara saham individual dengan pasar membawa pemikiran bahwa besarnya risiko sistematik suatu saham seharusnya diperkirakan dari aspek fundamental perusahaan dengan karakteristik pasar. Jika aspek fundamental keuangan tersebut, maka akan sangat membantu investor dalam menganalisa kepekaan pergerakan return saham terhadap pergerakan saham. Faktor-faktor fundamental keuangan merupakan data akuntansi berupa rasio-rasio yang dapat membantu investor untuk memprediksi risiko saham. Parameter yang digunakan dalam mengukur risiko ini adalah beta (β). Beta merupakan suatu pengukur volatilitas (volatility) return suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar. Beta sekuritas ke-I mengukur volatilitas return sekuritas ke-I dengan return pasar. Beta portofolio mengukur volatilitas

Universitas Sumatera Utara

return portofolio dengan return pasar. Dengan demikian, beta merupakan pengukur risiko sistemik dari suatu sekuritas relative terhadap risiko pasar (Jogiyanto, 2003:265-266). Volatilitas dapat didefinisikan sebagai fluktuasi dari retrun-return suatu sekuritas dalam suatu periode waktu tertentu. Jika fluktuasi return-return sekuritas secara statistik mengikuti fluktuasi dari retrun-return pasar, maka beta dari sekuritas tersebut dinyatakan bernilai satu. Misalnya apabila return pasar naik sebesar 5%, maka investor akan mengharapkan kenaikan return sekuritasnya sebesar 5% pula. Beta suatu saham lebih besar dari satu (β>1) berarti saham tersebut memiliki risiko lebih tinggi dari risiko rata-rata pasar atau return sekuritas lebih besar dari return pasar (IHSG) dan saham tersebut termasuk saham agresif. Sebaliknya, suatu beta suatu saham lebih kecil dari satu (β harga pasar, maka harga saham undervalued

strategi beli (buying).

Bila harga pasar saham < harga pasar, maka harga saham overvalued

strategi

jual

(selling)

dan

strategi mempertahankan (holding). 2. Berinvestasi dalam jangka panjang Time horizon panjang akan menyebabkan compounding effect dapat bekerja secara optimum. Sentimen dan tekanan jangka pendek yang mengaburkan dapat dinetralisir dengan investasi jangka panjang. Investasi

Universitas Sumatera Utara

dalam satu tahun merupakan pilihan yang cukup baik bagi para investor dan lebih pendek untuk para spekulator. 3. Gunakan pialang yang bonafit Ada empat jenis pialang dalam pasar modal, yaitu : (1) perantara, (2) penasihat investasi, (3) manajemen investasi, dan (4) underwriter (penjamin emisi). Memilih salah satu di antara pialang-pialang di Indonesia perlu diingat bahwa pialang yang berpengalaman dan dapat dipercaya sesuai dengan kebutuhan, didukung oleh permodalan yang cukup dengan sistem operasional yang baik serta fasilitas kemudahan akan amat membantu investor melakukan investasinya. 4. Memilih saham yang aman Harga beberapa saham bagaikan sebuah yoyo yang naik turun contihnya saham perbankan yang selalu berfluktuasi (tidak stabil), tetapi ada pula saham yang selalu stabil tenang dan tidak terlalu berfluktuasi, contohnya sahamsaham yang berada di Indeks LQ45. Kelompok saham pertama mempunyai volatilitas tinggi sebagai pencerminan kekhawatiran dan ketidakpastian di masa depan, sedangkan kelompok lainnya mempunyai track records earnings performance yang stabil. Volatilitas harga dan peningkatan risiko yang disebabkan oleh berbagai macam hal seperti rumor, politik, bencana alam, kondisi keamanan, dan lain sebagainya yang menimbulkan kekalutan dan ketidakpastian. 5. Membeli saham yang menawarkan buyback

Universitas Sumatera Utara

Buyback artinya ada opsi yang dibeli kembali oleh emiten yang mengeluarkan saham tersebut. Opsi ini menjadi suatu tawaran yang menarik dan menjanjikan di masa depan. Strategi buyback ini sering digunakan oleh emiten untuk meningkatkan harga. G. Penelitian Terdahulu Andrian Lorand Manurung (2008) melakukan penelitian dengan judul “Valuasi Harga Wajar Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk” menyimpulkan bahwa : 1.

Hasil harga saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk yang divaluasi

dengan Dividend Discounted Model (DDM) pertumbuhan supernormal periode 2002 – 2003 dinilai wajar, sedangkan periode 2004 – 2006 dinilai tidak wajar dan harga saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk yang divaluasi dengan P/E Ratio periode 2002 – 2006 dinilai wajar. 2.

Harga wajar saham PT Telekomunikasi, Tbk yang dihitung dengan DDM

pertumbuhan supernormal dan P/E Ratio tidak memiliki beda yang signifikan terhadap harga pasar saham.

Erawan (2002) melakukan penelitian dengan judul “Penilaian Harga Saham Pada Sektor Industri Rokok Yang Go Public Selama Tahun 1995-1999 Dengan Menggunakan Analisa Fundamental Price Eaning Ratio (PER)” menemukan bahwa:

Universitas Sumatera Utara

1.

Berdasarkan harga wajar saham PT.BAT Indonesia,Tbk maka dapat

disimpulkan bahwa nilai pasar untuk saham BAT Indonesia selama bulan Januari hingga April 2000 lebih tinggi (overvalued) dibandingkan dengan nilai intrinsik dari saham tersebut. Sedangkan untuk periode Mei hingga Juli 2000, saham BAT Indonesia jika dilihat memiliki harga pasar yang lebih kecil dari nilai intrinsiknya (undervalued). Pada bulan Agustus 2000 harga pasar saham BAT Indonesia mengalami kesamaan nilai (correctly valued) dengan nilai intrinsik saham tersebut. 2.

Penilaian Harga Saham PT Gudang Garam dan PT HM Sampoerna dapat

disimpulkan bahwa saham-saham perusahaan tersebut selama periode Januari hingga Agustus 2000 memiliki nilai pasar yang lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsik saham PT.Gudang Garam dan PT.HM Sampoerna. 3.

Saham untuk PT Gudang Garam dan PT.HM sampoerna layak untuk

dijadikan investasi karena bila nilai intrinsik saham tersebut lebih besar dari harga pasarnya maka investasi akan menghasilkan keuntungan bagi investor. Sedangkan saham PT.BAT Indonesia tidak layak untuk dijadikan investasi karena harga saham yang tidak stabil dan harga saham yang selalu tinggi.

I Putu Darma Putra (2009) mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Valuasi Saham pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Gudang Garam Tbk, dan PT Unilever Tbk” dengan kesimpulan bahwa :

Universitas Sumatera Utara

1.

Dari perhitungan yang telah dilakukan maka estimasi nilai intrinsik

saham ketiga perusahaan tersebut periode 30 Juni 2009 adalah sebagai berikut. Saham INDF Jika dihitung dengan pendekatan Discounted Cash Flow diperoleh sebesar Rp 258,45 dengan pendekatan Relative Valuation diperoleh sebesar Rp 2.032,61 dan dengan pendekatan Capital Asset Pricing Model diperoleh sebesar Rp 214,60. Sedangkan untuk saham GGRM Jika dihitung dengan pendekatan Discounted Cash Flow diperoleh sebesar Rp 1.980,17 dengan pendekatan Relative Valuation diperoleh sebesar Rp 27.423,61 dan dengan pendekatan Capital Asset Pricing Model diperoleh sebesar Rp 2.280,63. Dan yang terakhir untuk saham UNVR Jika dihitung dengan pendekatan Discounted Cash Flow diperoleh sebesar Rp 8.157,79 dengan pendekatan Relative Valuation diperoleh sebesar Rp 446,96 dan dengan pendekatan Capital Asset Pricing Model diperoleh sebesar Rp 2.873,06. 2.

Saham INDF dan GGRM berada dalam kondisi Overvalued jika dihitung

dengan pendekatan Discounted Cash Flow dan Capital Asset Pricing Model. Namun jika dihitung dengan menggunakan pendekatan Relative Valuation saham INDF dan GGRM berada dalam kondisi Undervalued. Sedangkan untuk saham UNVR jika dihitung dengan pendekatan Discounted Cash Flow, Relative Valuation, dan Capital Asset Pricing Model berada dalam kondisi Overvalued.

Triyanti Fabrina Simamora (2009) mengadakan penelitian dengan judul “Penilaian Kewajaran Harga Saham Dengan Pendekatan

Universitas Sumatera Utara

Analisis Fundamental Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI)” dengan menyimpulkan bahwa : 1.

Harga saham Indosat,Tbk yang divaluasi dengan DDM pertumbuhan

supernormal periode 2003 sampai 2007 dinilai tidak wajar demikian juga halnya dengan PBV rasio menunjukkan bahwa harga saham Indosat,Tbk tahun 20032007 tidak wajar. 2.

Harga saham PT Telekomunikasi yang divaluasi dengan DDM

pertumbuhan supernormal periode 2003 dinilai wajar sedangkan periode 20042007 dinilai tidak wajar dan harga saham PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk yang divaluasi dengan PBV periode 2003-2007 dinilai tidak wajar. 3.

Harga

wajar

saham Indosat,Tbk

yang

dihitung

dengan DDM

pertumbuhan supernormal memiliki beda yang signifikan terhadap harga pasar saham. 4.

Harga wajar saham Indosat,Tbk berdasarkan PBV memiliki beda yang

signifikan terhadap harga pasar saham. 5.

Harga wajar saham PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk yang dihitung

dengan DDM pertumbuhan supernormal tidak memiliki beda yang signifikan terhadap harga pasar saham. 6.

Harga wajar saham PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk berdasarkan PBV

memiliki beda yang signifikan terhadap harga pasar saham.

Universitas Sumatera Utara