Dalam sejarah Islam, para ulama terbiasa menghafal 30 juz Al-Quran

24 downloads 4 Views 177KB Size Report
Al-Ilmu, ILMU MENDAHULUI AMAL. Pentingnya menggali ilmu sebagai awal pelaksanaan amalan Ibadah. Dirangkum oleh : Yulia Dwi Indriani. Dalam sejarah  ...

Al-Ilmu, ILMU MENDAHULUI AMAL Pentingnya menggali ilmu sebagai awal pelaksanaan amalan Ibadah Dirangkum oleh : Yulia Dwi Indriani

Dalam sejarah Islam, para ulama terbiasa menghafal 30 juz Al-Quran sejak usia 5 hingga 8 tahun. Al-Imam Asy-Syafi'i bahkan telah menghafal kitab tebal karya Imam Malik, Al-Muwaththa', ketika berusia 15 tahun. Sehingga wajar bila para ulama di masa lalu bukan hanya ahli di bidang tafsir, hadits, fiqih dan ushul, tetapi juga mereka ahli di bidang ilmu pengetahuan dan sains.

"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22) Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat. Dan orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan. Sedangkan orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di alam semesta. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan orang-orang yang berakal. Dijelaskan dalam firman Allah :

“ …..Sesungguhnya yang paling takut lepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir : 28) Ulama yang disebutkan dalam ayat diatas berdasarkan tafsir Ibnu Katsir adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang yang ‘alim adalah orang-orang yang mengetahui dan mengenal Tuhannya, tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, menghalalkan apa-apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa-apa yang diharamkan, dan menjaga wasiat-Nya, dan meyakini adanya hari pertemuan dengan Allah serta yakin bahwa amalnya akan dihisab kelak.

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. AzZumar :9) Sebuah gedung yang tinggi pasti memerlukan banyak ahli ilmu teknik bangunan yang memiliki ilmu di bidangnya dan berpengalaman agar gedung itu berdiri dengan kuat, kokoh dan awet. Juga seseorang yang mengobati penyakit haruslah berpendidikan kesehatan (dokter), seorang pengajar/ustadz/dai haruslah orang yang memahami ilmu syar’i sehingga dapat menebarkan kebaikan bagi seluruh alam semesta, sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dalam Al Quran surat Al Mujadilah ayat 11 dijelaskan bahwa tidaklah sama orang-orang yang berilmu dengan orangorang yang tidak berilmu :

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11) Dan tidaklah sama orang-orang yang beribadah terus menerus namun tidak ada landasan ilmu atau dalil atas ibadah yang dia lakukan, dibandingkan dengan orang yang beribadah berdasarkan dalil/ilmu. Sesungguhnya orang-orang yang beribadah berdasarkan ilmu, dia akan mendapatkan kemuliaan, ketenangan dan khusyu dalam beribadah. Sebaliknya jika ibadah dilakukan tanpa ilmu akan terjebak dalam atmosphere keragu-raguan bahkan bisa menimbulkan ibadah-ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasullullah SAW (bid’ah). Padahal ibadah tersebut tidak akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT, berdasarkan sabda Nabi SAW yang artinya : “Barang siapa yang mengerjakan atau mengamalkan suatu amalan yang tidak pernah kami contohkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim) Bahkan Allah SWT telah menyindir orang-orang yang beramal tanpa ilmu dalam firmannya yang berbunyi :

“bekerja/beramal keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (Neraka Hamiyah).” (QS. Al-Ghaasyiyah : 3-4) Ilmu merupakan sendi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal. Firman Allah :

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Illah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”. (QS.Muhammad : 19) Imam Bukhari membicarakan masalah ini dalam kitab Shahih-nya pada bab khusus, yakni bab “Ilmu sebelum berkata dan beramal”. Sehubungan dengan ini Allah memerintahkan Nabi-Nya dengan dua hal, yaitu berilmu lalu beramal, atau berilmu sebelum beramal. Hal ini dapat kita lihat dari susunan ayat diatas, yaitu: “Maka

ketahuilah

bahwa

sesungguhnya

tidak

ada

ilah

melainkan

Allah.”

Ayat ini menunjukkan perintah untuk berilmu. Selanjutnya perintah ini diikuti perintah beramal, yaitu: ‘…Dan mohonlah ampunan bagi dosamu…” Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa urutan ilmu mendahului urutan amal. Ilmu merupakan syarat keabsahan perkataan dan perbuatan. Shahihnya amal karena shahihnya ilmu. Disamping, itu ilmu merupakan tempat tegaknya dalil. Dan setiap Muslim memiliki tanggung jawab penting untuk menerangkan Al Qur’an kepada setiap orang. Ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadist ke 1390 kitab Riyadhus Shalihin; Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasullullah SAW bersabda : “Barang siapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitnpun. (HR. Muslim) Dalam riwayat lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Risalah Nabi meliputi dua hal yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:

“Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) al Huda / petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS.at Taubah : 33) Al Huda pada ayat ini ialah: ilmu yang bermanfaat sedangkan Dienul Haq ialah amal shalih yang terdiri dari ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (mengikuti/meneladani) Rasulullah SAW. Sedangkan perumpamaan orang-orang yang berilmu dan sejauh mana mereka mengamalkan ilmunya ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW: Dari Abu Musa ra, dia berkata : “Nabi SAW bersabda : “Perumpamaan apa yang aku diutus oleh Allah dengannya dari ilmu dan hidayah adalah bagaikan air hujan yang mengguyur bumi, maka ada diantara bagian bumi itu yang menerima air kemudian dia menumbuhkan rerumputan dan ilalang yang banyak, dan ada sebagian lagi yang gersang yang menyimpan air, kemudian Allah menjadikannya manfaat bagi manusia, maka mereka minum darinya serta mengairi dan menanam, dan ada macam tanah yang disiram air hujan tadi, akan tetapi ia hanyalah tanah tandus yang tidak bisa menyimpan air juga tidak bisa menumbuhkan rerumputan, maka itulah perumpamaan orang yang mengetahui agama Allah dan lalu bermanfaat baginya apa yang aku diutus oleh Allah, sehingga ia mengetahui dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya untuk itu, serta orang yang tidak mau menerima hidayah Allah yang aku diutus denganya. (HR. BukhariMuslim) Dari hadist diatas dapat disimpulkan adanya 3 golongan yaitu : 1. Orang yang berilmu dan beramal sholih, bagaikan tanah subur yang bisa menghasilkan berbagai tanaman yang bermanfaat bagi manusia. 2. Orang yang berilmu namun tidak beramal, bagaikan tanah gersang yang menyimpan air, dengan ijin Allah sumur air tersebut dapat memberi manfaat bagi manusia 3. Orang yang tidak berilmu, tidak beramal dan menolak hidayah Allah, bagaikan tanah tandus yang tidak bisa memberikan manfaat. Cara Mendapatkan Ilmu 1.

Berdo’a kepada Allah “…Dan katakanlah, ’Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha :114)

2.

Bersungguh-sungguh dan berkeinginan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah SWT. Imam Syafi’i mengatakan. “Kamu tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan enam hal: kecerdasan, gemar belajar, sungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru dan perlu waktu lama”

3.

Menjauhi segala maksiat dengan bertakwa kepada Allah SWT. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan/ pembeda…” (QS. Al Anfal: 29)

4.

Tidak

sombong

dan

tidak

malu

dalam

mencari

ilmu.

Aisyah ra. pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum Anshar, karena mereka tidak malu bertanya tentang agama.” 5.

Ikhlas

dalam

mencari

ilmu.

Rasulullah

SAW

bersabda:

“Barang siapa belajar suatu ilmu yang terkait dengan maksud karena Allah, tetapi dipelajari untuk tujuan keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) 6.

Mengamalkan ilmu. Sabda nabi SAW tentang keutamaan ilmu Islam yang disebutkan dalam hadist dari Mu’awiyah yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya maka ia dipahamkan dalam agama ini.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikianlah keutamaan ilmu yang harus terus menerus kita kaji dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan apa-apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, yang dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik bagi setiap manusia. Wallahu A’lamu bishowab.

Sumber: http://assunnah-qatar.com/ Kitab Riyadhus Shalihin, Takhrij : Syekh M. Nashiruddin Al Albani Tafsir Ibnu Katsir http://www.harunyahya.com http://www.alsofwah.or.id

: