karakteristik dan masalah perkembangan anak ... - WordPress.com

184 downloads 77 Views 112KB Size Report
keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik .... Ada perbedaan struktur otak sehingga mampu menfungsikan kedua belahan otak secara terintegrasi ... Kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusia. 3.

KARAKTERISTIK DAN MASALAH PERKEMBANGAN ANAK BERBAKAT Oleh Kelompok VII

A. Hakekat Keberbakatan - Landasan yuridis formal pelayanan pendidikan bagi anak berbakat adalah : Undang-Undang No. 2/1989 (telah diganti dengan ) Undang-Undang No. 20 / 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 5 : a. Ayat (2):Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan / atau mental berhak memperoleh pendidikan khusus. b. Ayat (4) : Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh pndidikan khusus. (Terakhir dikelola secara khusus dengan PP No. 17 Tahun 2010 mulai dari pasal 134 s/d 137 serta dipertegas melalui PP No. 66 Tahun 2010 pasal Pasal 53 ayat (2) yakni “Satuan pendidikan wajib menjamin akses pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus, dan layanan khusus”. Konsep normatifnya “ Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik keistimewaannya” Sedangkan tujuannya “ untuk mengaktualisasikan seluruh potensi keistimewaannya tanpa mengabaikan keseimbangan perkembangan kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, sosial, estetik, kinestetik, dan kecerdasan lain”. (PP No. 17 Tahun 2010 pasal 134 ayat 1 dan 2 ) - Anak yang memiliki “kemampuan dan kecerdasan luar biasa adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan diatas rerata normal.” - Anak yang berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa disebut juga dengan istilah “Gifed atau anak berbakat”. Sebutan lain bagi anak yang gifed misalnya genius, bright, creative, talented, bakat istimewa. - Ciri umum anak berbakat adalah : memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari pada anak normal. - Menurut pandangan lain keberbakatan tidak hanya ditinjau dari segi kecerdasan saja, tetapi juga dilihat dari segi prestasi, kreatifitas dan karakteristik pribadi dan sosial lainnya, serta dari kemampuan yang bersifat potensial maupun aktual (prestasi). - Menurut Lucito (Cartwight, 1984) definisi keberbakatan sebagai berikut : a. Ex post fakto, yang didasarkan atas penampilan prestasi yang luar biasa dalam bidang tertentu. b. Intelligence test, yang didasarkan atas IQ sebagai tolok ukur tes kecerdasan

1

c. Sosial, yang didasarkan atas kecakapan-kecakapan yang secara sosial dapat disetujui (diterima) d. Presentage, yang didasarkan atas persyaratan masyarakat akan jumlah orang tersebut yang dikehendaki untuk memainkan peran-peran khusus. e. Creativity, yang didasarkan atas perilaku dan/atau unjuk kerja sebagaimana diukur oleh pengukuran kreativitas. - Menurut S.C.U. Munandar, 1982 b anak berbakat diistilahkan sebagai anak cerdas dan cemerlang. - Keberbakatan tidak semata-mata merujuk pada fungsi kofnitif melainkan pada totalitas dan keterpaduan fungsi otak. Keberbakatan harus dipandang sebagai produk perkembangan dari seluruh fungsi otak manusia. - Dalam konsep yang lebih luas istilah keberbakatan mencakup anak yang memiliki kecakapan intelektual superior

yang dapat mencapai keunggulan akademik di

kelompok populasinya. - Rinzully (1978) merumuskan bahwa keberbakatan itu terbentuk dari hasil interaksi tiga aspek penting yaitu : 

Kecakapan diatas rata-rata



Komitmen tugas yang tinggi dan



Kreatifitas, seperti dilukiskan sebagai berikut :

Perhatikan model keberbakatan dari Rinzully (1978) Komitmen terhadap tugas

Kemampuan diatas rata-rata

Kreatifitas Masalah Keberbakatan Dan Kretifitas - Keberbakatan sebagai sesuatu yang berdimensi ganda karena memadukan semua simu aspek baik intelektual, prestasi akademik, kreatifitas dan bakat, serta aspek sosial. - Masalah kretifitas dan keberbakatan merupakan dua hal yang dapat dibedakan tetapi sangat erat kaitannya - Menurut Guilford (1959), Renzulli (1978), Torrance (1962), Getzles dan Jackson (1962), Clark (1983), dikemukakan bahwa didalam keberbakatan itu ada komponen penting yang disebut kreatifitas. - Kreatifitas jauh lebih luas dari kecakapan umum 2

- Dalam model struktur intelek dari Guilford (1959) digambarkan bahwa struktur intelek manusia terdiri atas tiga dimensi, yakni dimensi operasi, dimensi product, dan dimensi Konten dengan 120 faktor kemampuan intelektual manusia yang dapat diukur dan tahun 1982 memisahkan konten figural dari dimensi auditoris (Khatena J. 1992) sehingga mengembangkan menjadi 150 kemampuan. - Terkait proses berpikir kreatif, perlu dipahami konsep berfikir konvergen dan konsep berfikir divergen. - Konsep berfikir konvergen adalah proses berfikir linier, terarah kepada proses mempersempit alternatif untuk mencari satu jawaban yang benar. - Konsep berfikir divergen adalah proses berfikir alternatif, bahwa suatu persoalan itu dapat dilihat dari berbagai sudut pemikiran. - Faktor-faktor yang terlibat dalam berfikir divergen adalah kepekaan terhadap masalah, kelancaran proses berfikir, kebaruan gagasan, fleksibilitas, kecakapan mensintesis,

kecakapan

menganalisis,

kecakapan

mengorganisasikan,

atau

merumuskan kompleksisitas, dan evaluasi. - Jadi kecerdasan tinggi (Keberbakatan) tidak sama dengan berfikir kreatif. - Keberbakatan banyak digunakan didalam merujuk suatu kecakapan khusus atau prestasi tertentu. - Sedangkan kreatifitas digunakan dalam makna yang lebih luas, karena kreatifitas tidak hanya menyangkut aspek intelektual tetapi juga menyangkut aspek non intelektual. - Keberbakatan akan terwujud didalam perilaku-perilaku kreatif, atau dengan kata lain kreatifitas merupakan ekspresi puncak keberbakatan. (Clark 1988:48) Karakteritik Anak Berbakat - Karakteristik umum anak berbakat mencakup aspek-aspek intelektual, akademik, kreatifitas, kepemimpinan dan sosial, seni, afektif, sensori fisik, intuisi, dan ekologis

B. Perkembangan Fisik Anak Berbakat - Pola perkembangan fisik anak pada umumnya terjadi pula pada anak berbakat - Reaksi-reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara intelektual dia lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar. - Perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderung baik cepat dari rata-rata - Karena sensitifitas

intelektual yang cukup tinggi, anak berbakat cenderung

menunjukan karakteristik (sensasi) fisik seperti; menerima masukan (stimulus) yang luar biasa dari lingkungan melalui kesadaran sensoris yang amat tinggi, 3

kesenjangan antara perkembangan fisik dan intelektual, kurang toleran terhadap kesenjangan antara standar dan keterampilan fisik. - Melihat karakteristik dan kebutuhan (sensasi) fisik anak berbakat, maka program pendidikan bagi mereka sepatutnya mempertimbangkan kebutuhan untuk : 

Melakukan aktifitas yang memungkinkan terjadinya integrasi dan asimiliasi data sensoris



Apresiasi kapasitas fisik



Menjelajahi aktifitas fisik yang menimbulkan kesenangan dan kepuasan



Menjelajahi aktifitas yang mengarah kepada keterpaduan antara pikiran dan badan

C. Perkembangan Kognitif Anak Berbakat - Menurut beberapa ahli, ciri/karakteristik perkembangan kognitif anak berbakat, adalah sebagai berikut : 1. Ada perbedaan struktur otak sehingga mampu menfungsikan kedua belahan otak secara terintegrasi sehingga mewujudkan perilaku kreatif. 2. Memiliki kemampuan berpikir analitis, integratif, dan evaluatif. 3. Memiliki Curiosity (rasa ingin tahu), imagination, persistence, commitment to solving problems, dan concern with the future. 4. Memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggeneralisasi fakta, memahami makna, dan memahami hubungan 5. Memiliki kesiapan belajar lebih awal. 6. Memiliki minat luas terhadap masalah manusia dan dunia. 7. Memiliki minat baca dalam berbagai bidang pengetahuan. 8. Menunjukkan kemampuan tinggi

dalam matematika, terutama dalam

memecahkan masalah. - Semua ciri perkembangan kognitif anak berbakat menunjukkan kemudahan yang dimilikinya dalam belajar. - Apabila karakteristik tersebut tidak tersalurkan sebagaimana mestinya tak mustahil muncul masalah sbb : 1. Kebosanan terhadap pengajaran reguler 2. Kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusia 3. Dipandang sombong oleh kawan sebayanya 4. Sulit berkonformitas pada kelompok 5. Frustasi karena dia harus menjadi “penunggu” - Perkembangan kognitif anak berbakat juga disertari dengan perkembangan kemampuan intuitif. 4

- Kaitan intuisi dengan kreatifitas, bahwa fungsi intuitif berperan dalam pemunculan kreatifitas seseorang. Kreatifitas merupakan integrasi fisik maupun psikis dan bukan semata-mata perilaku intelektual. - Keunikan intuisi anak berbakat ditandai dengan kecenderungan untuk : 1. Terlibat dan peduli terhadap pengetahuan intuitif dan fenomena-fenomena metafisik 2. Terbuka terhadap pengalaman-pengalaman metafisis 3. Menunjukkan perilaku kreatif dalam banyak hal - Kebutuhan program pendidikan bagi anak berbakat dalam mengembangkan aspek kognitif yaitu : 1. Pengkajian informasi baru dan menantang 2. Akses terhadap kurikulum dan kehidupan intelektual yang menantang 3. Pengkajian berbagai mata ajaran dan kepedulian 4. Pemecahan masalah dalam berbagai cara 5. Penyediaan pengalaman dan dukungan bagi proses percepatan pencapaian tingkat perkembangan kognitif yang lebih tinggi 6. Kesempatan melakukan dialog bermakna tentang fenomena, memahami energi dan kecakupan intuitif, pengembangan kegiatan kreatif secara berkelanjutan. D. Perkembangan Emosi Anak Berbakat -

Perkembangan emosi anak berbakat cenderung menunjukkan kekukuhan dalam pendirian sebagai manifesasi adanya kepercayaan diri yang kuat dalam upaya mencapai hasil, peka terhadap keadaan sekitar, dan senang terhadap hal-hal baru.

-

Kecenderungan negatif emosi anak berbakat adalah sebagai berikut : 1. Mudah tersinggung 2. Sikap egois 3. Kesulitan dalam penyesuaian diri

-

Kecenderungan negatif emosi ini terjadi karena karakteristik yang tinggi belum tentu disertai dengan terjadinya perkembangan emosi yang tinggi pula. Perkembangan emosi dalam pendidikan anak berbakat seyogyanya terakomodasikan kebutuhan yang berkenaan dengan : 1. Proses-proses kognitif yang memberikan pengalaman emosional yang bermakna 2. Klarifikasi perasaan dan harapan diri maupun orang lain 3. Pemahaman perwujudan komitmen ke dalam tindakan nyata 4. Pengembangan tujuan dan arah perilaku untuk realistik atas dasar nilai-nilai pribadi 5. Validasi timbangan moral yang berbeda di atas rata-rata 5

E. Perkembangan Sosial Anak Berbakat - Menurut Clark (1988), perkembangan sosial dan emosional anak berbakat adalah sebagai berikut : 1. Anak berbakat, jika dibandingkan dengan teman sebayanya, merasa lebih senang dan puas dengan keadaan dirinya sendiri dan hubungan antar pribadinya 2. Anak berbakat cenderung menunjukkan penyesuaian emosional yang lebih baik daripada anak rata-rata walaupun kecenderungan ini lebih erat kaitannya dengan latar belakang sosial ekonomi daripada dengan kecerdasan 3. Anak berbakat cenderung lebih mandiri dan kurang berkonformitas terhadap pendapat sebaya, lebih dominan, lebih mampu mengendalikan lingkungan, dan lebih kompetitif 4. Anak berbakat menunjukkan kecakapan kepemimpinan dan menjadi terlibat dalam kegiatan dan kepedulian sosial 5. Anak berbakat lebih cenderung memilih kawan yang memiliki kesebayaan usia intelektual daripada memilih kawan yang secara kronologis berada pada usia yang sama. - Program pendidikan bagi anak berbakat hendaknya mengakomodasikan kebutuhan akan : 1. Pemahaman tuntutan aktualisasi diri 2. Penyaluran dorongan-dorongan yang divergent 3. Keterlibatan dalam masalah sosial-sosial 4. Pemahaman kepemimpinan 5. Eksplorasi tataran berpikir tingkat tinggi

F. Identifikasi Anak Berbakat Identifikasi anak berbakat hendaknya diawali dengan memahami karakteristik keberbakatan. Karakteristik umum anak berbakat mencakup aspek-aspek; intelektual, akademik, kreatifitas, kepemimpinan dan sosial, seni, efektif, sensoris fisik, intuisi dan ekologis. Karakteristik tersebut erat sekali dengan kemampuan intelektual. Oleh karena itu merupakan cara yang logis jika identifikasi anak berbakat diawali dengan pengujian kemampuan intelektual. Teknik identifikasi anak berbakat yang dapat dilakukan di sekolah

ialah :

a. Penggunaan Tes Kecerdasan Penggunaan tes kecerdasan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap penjaringan dan tahap seleksi. 6



Tahap penjaringan Tahap penjaringan dilakukan secara kelompok dengan menggunakan tes kelompok, dengan cara tersebut diharapkan dapat ditemukan anak berbakat. Secara intelektual anak yang dapat digolongkan ke dalam anak berbakat adalah mereka yang memiliki IQ 130 keatas.



Tahap seleksi Tahap seleksi digunakan tes individual agar membuahkan hasil pengukuran yang lebih teliti, cermat dan akurat. Tes kecerdasan individu yang digunakan untuk mengidentifikasi keberbakatan adalah WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children). Masalah utama yang dihadapi dalam teknik ini ialah karena penggunaan tes berdasar hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang berbalikan dalam hal itu. Akibatnya penggunaan teknik ini memiliki keterbatasan.

b. Studi Kasus Identifikasi anak berbakat dilakukan dengan jalan menghimpun berbagai informasi tentang anak dari berbagai sumber baik orang tua, guru, teman sebaya atau pihak lain yang dianggap mengetahui tentang anak itu

G. Masalah-Masalah Dan Dampak Keberbakatan Anak keberbakatan mengandung atau memunculkan masalah bagi : a. Individu sendiri, b. Keluarga, c. Masyarakat, d. Penyelenggara pendidikan. Secara singkat masalah tersebut adalah : 1. Masalah dan dampak bagi individu Anak berbakat memiliki kemungkinan masalah-masalah individu yang dirumuskan dalam kecenderungan-kecenderungan. 1) Kecepatan perkembangan kognitif yang tidak sesuai dengan kekuatan fisik, sehingga terjadi kesenjangan diantara keduanya, dapat menimbulkan perasaan tidak ade kuat pada diri anak. Perasaan semacam ini dapat mendorong anak tidak peduli terhadap kegiatan fisik kelompok, sehingga dapat menimbulkan frustasi, kecewa dan tidak puas terhadap kehidupan kelompok sebaya. 2) Perkembangan kognitif anak berbakat lebih cepat dari teman sebaya akan menimbulkan kebosanan terhadap pengajaran reguler, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusia, sulit berkonfirmasi dalam kelompok, frustasi 7

karena harus “menunggu” kelompok. Kondisi semacam ini menimbulkan kesulitan penyesuaian diri anak berbakat. 3) Kemampuan anak berbakat untuk menyerap dan menghimpun informasi yang tidak

diimbangi

dengan

perkembangan

emosi

dan

kesadaran

dapat

menimbulkan ketidakstabilan perkembangan emosi. Kondisi semacam ini akan membuat individu rawan terhadap kritik, bersikap serius, dan menentang, menentukan nilai sendiri dan tujuan yang mungkin tidak realistis. 4) Kematangan sosial dan kecakapan kepemimpinan yang tumbuh lebih awal pada anak berbakat dapat menimbulkan masalah penyesuaian diri. Kondisi semacam ini akan menumbuhkan perasaan tidak tertantang dan dapat mendorong individu untuk mengambil pemecahan masalah melalui jalan pintas.

2. Masalah dan dampak bagi keluarga Keberbakatan akan membawa dampak iklim dan perlakuan keluarga. Orang tua yang tidak memahami dan menyadari akan potensi yang dimiliki anaknya bisa jadi tidak peduli dan merespon perilaku anak tadi. Orang tua berupaya supaya anaknya patuh dan mengikuti pola interaksi sebagaimana layaknya anak pada umumnya. Kecenderungan orang tua untuk menghardik anaknya kalau anak

itu melibatkan diri dalam urusan orang tuanya,

memaksakannya untuk bermain dengan teman seusianya. Sikap orang tua tersebut akan menimbulkan letak beruntung dalam keberbakatan (disadvantages child). Dalam menghadapai anak berbakat orang tua harus menunjukkan sikap memahami, peduli terhadap pikiran dan perasaan anak, bersikap terbuka dan memberi peluang kepada anak untuk mengekspresikan dirinya. Peran orang tua adalah guru bagi anak berbakat dalam lingkungan. Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua di dalam membantu dan membimbing anak berbakat ialah : 1) Ciptakan komunikasi terbuka antara orang tua-anak dan antar anak dengan disertai kasih sayang 2) Berikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk menghadapi dan memecahkan masalah 3) Sertakan anak dalam kegiatan orang tua sehingga anak memperoleh wawasan yang lebih luas dan mendalam 4) Perhatikan kebutuhan utama anak dan upayakan untuk memenuhinya secara wajar 8

5) Berikan anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang dipikirkan dan disenangi 6) Hargai upaya dan hasil kerja anak dan ikuti perkembangannya 7) Bantulah anak untuk mengembangkan, memahami dan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhannya 8) Bantulah anak menyusun skala prioritas kegiatan 9) Sediakan fasilitas dan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh anak untuk memenuhi hasrat keinginan tahunya 10) Berilah anak untuk memahami perbedaan individu melalui pembentukan pengertian 11) Perhatikan kebutuhan gizi dan kesehatan anak 12) Tanyakan rasa bahagia dalam hidup bersama dia

3. Masalah dan dampak bagi masyarakat Masalah dan dampak keberbakatan bagi kehidupan masyarakat terlebih pada isu sosial maupun politis bagaimana perlakuan terhadap anak berbakat diberikan terutama layanan pendidikan yang mungkin diperolehnya. Contoh, pendidikan khusus yang diperoleh anak berbakat mungkin akan menimbulkan sikap elitisme dan ekslusif atau dintegrasikan ke dalam sistem persekolahan biasa yang mungkin akan menimbulkan masalah-masalah bagi anak itu sendiri. Masalah keberbakatan membawa dampak terhadap pengambilan kebijakan pendidikan.

4. Masalah dan dampak bagi penyelenggara pendidikan Perbedaan program pendidikan bagi anak berbakat bukan sekedar berbeda, tetapi secara kualitatif memang menghendaki perbedaan walaupun tidak berarti harus terpisah dari anak-anak biasa. Perbedaan kualitatif perlu karena anak berbakat memiliki karakteristik dan kebutuhan suatu permasalahan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Program pendidikan anak berbakat akan menyangkut berbagai -

Fisiologis

-

Tujuan pendidikan anak berbakat

-

Isi kurikulum

-

Proses belajar mengajar

aspek :

9

H. Dimensi Program Pendidikan Anak Berbakat Dimensi program pendidikan anak berbakat adalah karakteristik dan kebutuhan anak. Dan ada dimensi lain yang harus dipertimbangkan ialah dimensi : a) Filosofis b) Tujuan program c) Struktur isi d) Lingkungan belajar e) Model evaluasi 1) Dimensi Filosofis Landasan filosofis pendidikan anak berbakat yaitu Pancasila. Artinya bahwa pengembangan program pendidikan bagi anak berbakat harus bertolak dari pandangan tentang hakikat manusia menurut Pancasila, yaitu sebagai makhluk indah, sosial dan makhluk Tuhan YME. 2) Tujuan Program Tujuan pendidikan bagi anak ialah tujuan pendidikan nasional, tetapi secara kualitatif intensitas perilaku yang dikembangkan melintasi jumlah peserta didik pada umumnya. Tujuan utama program pendidikan anak berbakat ialah memberikan kesempatan kepada dia untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak ditemukan dalam program kelas biasa. 3) Struktur (isi) program Program pendidikan anak berbakat dengan anak biasa adalah sama atau kurikulum atau struktur program anak biasa sama dengan anak berbakat. Perbedaan program hanya ada karena adanya perbedaan kebutuhan, maka struktur isi program pendidikan anak berbakat merefleksikan pemenuhan kebutuhan tersebut. Program pendidikan anak berbakat secara terpadu hendaknya mencakup unsur-unsur berikut ini : a) Pengembangan ranah kognitif / intelektual b) Pengembangan ranah afektif c) Pengembangan ranah fisik d) Pengembangan ranah intuity e) Pengembangan ranah kemasyarakatan 4) Lingkungan Belajar Lingkungan belajar bagi anak berbakat adalah lingkungan yang menantang dan kondusif untuk terjadinya kegiatan belajar yang berpusat pada peserta didik. 10

Belajar

mandiri,

terbuka,

kompleksitas,

penuh

penerimaan

dan

memungkinkan terjadinya mobilitas. Artinya lingkungan belajar bagi anak berbakat memerlukan penataan tersendiri baik secara fisik, psikolgis maupun sosial. 

Secara fisik : maksudnya lingkungan belajar harus memungkinkan tersedianya sumber informasi untuk pembentukan dan integrasi konsep



Secara psikologis : lingkungan belajar harus mempertimbangkan kesertaan individu untuk mengembangkan konsep diri secara realistis, belajar menerima tanggung jawab, mampu buat kendali diri secara internal, serta mempelajari nilai-nilai intrinsik yang ada pada dirinya



Secara sosial : lingkungan belajar harus memungkinkan peserta didik bekerja sama

dalam

memecahkan

masalah,

mengembangkan

keterampilan

kepemimpinan, dan fleksibilitas komunikasi dalam kelompok 5) Model Evaluasi Evaluasi program anak berbakat adalah program yang bertolak dari kecerdikan dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu evaluasi program dalam arti tingkat kepadanan isi dan kebutuhan tersebut perlu secara berkesinambungan dilakukan. Evaluasi hasil anak berbakat selalu mencapai tingkat penguasaan yang tuntas.

I.

Telaah Model Program Alternatif a. Menurut Getzelsde Dillon secara konvensional model-model program alternatif dapat digolongkan ke dalam model akselerasi, pengayaan dan kelas khusus.

b. Sedangkan Mitchel,

kesimpulan studi sekolah-sekolah di Amerika Serikat

cenderung meninggalkan model pengayaan, karena model ini hanya menambah program khusus untuk memenuhi kebutuhan anak bakat tanpa harus memisahkan mereka dari kelasnya. c. Bentuk lainnya adalah model pengelompokan kecakapan, dengan sistem “pullout” yaitu memisahkan anak berbakat dari kelas reguler pada kegiatan tertentu. Sedangkan pada kegiatan lainnya mereka bergabung kembali dengan kelas reguler.

d. Sedangkan telaah yang dilakukan oleh Findley dan Bryan menyatakan bahwa model pengelompokan ini tidak secara konsisten menunjukan nilai positif dalam membantu peserta didik mencapai hasil belajar yang lebih tinggi atau mengalami kondisi belajar yang lebih efektif. 11

e. Studi lain yang dilakukan oleh Halinan dan Sorensen bahwa pengelompokan kecakapan ini memiliki keunggulan dan kelemahan dalam perkembangan sosial peserta didik. Keunggulannya bahwa model bisa memperkuat ikatan sosial sesama anggota kelompok, tetapi dipihak lain jika tingkat kecakapan itu berkaitan dengan status sosial, ekonomi, etnis atau kelompok model ini akan menumbuhkan kelas yang tidak sehat. f. Model selanjutnya adalah model akselerasi. Model ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk mulai dari memasuki sekolah formal dalam usia dini, loncat kelas atau mengikuti bidang studi tertentu di kelas yang lebih tinggi. Pada akhirnya peserta didik dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu yang lebih singkat. J.

Alternatif Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia Hasil-hasil studi yang dikemukakan menunjukkan bahwa model akselerasi cenderung merupakan model yang paling memadai. Sedangkan model pengayaan adalah model yang tidak direkomendasikan. Sementara model pengelompokan kecakapan yang mengarah kepada pembentukan kelas atau sekolah khusus merupakan model kontroversial. Melihat kemungkinan-kemungkinan diatas tampaknya model akselerasi merupakan model alternatif yang dapat dipertimbangkan sebagai model yang cocok untuk sistem pendidikan anak berbakat di Indonesia. Karena model ini bisa diselenggarakan disetiap sekolah tanpa memerlukan guru khusus kecuali membekali guru itu dengan kesiapan dan kemampuan tertentu. Dengan model ini memungkinkan akan mengatur semua aspek perkembangan kepribadian peserta didik sehingga terhindar dari disintegrasi kepribadian.

November 2013 Kelompok 7 : Anggota : 1. B. Daru Sucipto BTN 2. Yuswan 3. Wartini 4. Sugiarti 5. Paryatmi 6. Siti Sutarmi 7. Atut Yuliarni 8. Agus Hertopo 9. Wahyu Dwiana Safitri 12

Sebagai tambahan informasi normative sbb : K. Program Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia (sekarang) UU No. 20 Tahun 2003 melalui pasal 5 ayat (4) menegaskan bahwa “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”. Sebagai konsep pendidikan khusus dituangkan dalam pasal 32 ayat (1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Secara teknis program penanganan anak berbakat saat ini diatur dalam PP No. 17 tahun 2010 sebagai berikut : Pasal 135 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan formal TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; dan/atau b. program pengayaan. (3) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan persyaratan: a. peserta didik memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang diukur dengan tes psikologi; b. peserta didik memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni dan/atau olahraga; dan c. satuan pendidikan penyelenggara telah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan. (4) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan dengan menerapkan sistem kredit semester sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (5) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas biasa; b. kelas khusus; atau c. satuan pendidikan khusus. Kelompok 7 : 13