kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat tolire gam ...

9 downloads 16 Views 66KB Size Report
memenuhi ambisi orang dewasa dan ketika ia tidak bisa memenuhi, anak akan diperlakukan ... berita-berita yang kemudian berkembang menjadi cerita rakyat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan aset, anak adalah titisan darah orang tua, anak adalah warisan, dan anak adalah makhluk kecil ciptaan Tuhan yang kelak menggantikan peran orang tua sebagai generasi penerus kehidupan. Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Namun, entah sejak kapan dan siapa yang memulai, berita kekerasan terhadap anak, baik kekerasan fisik, psikis maupun pelecehan seksual, beritanya kerap menghiasi media massa bahkan terjadi di lingkungan kita dan keluarga kita, bukan hanya di Indonesia, di luar negeri pun kekerasan terhadap anak sudah merupakan permasalahan yang amat serius. Berbagai perundangan yang mengatur mengenai hak-hak anak pun sudah banyak dirumuskan, tetapi sampai saat ini kekerasan terhadap anak terus berlangsung dan cenderung meningkat (Internet dalam Kalianda, 2010). Kekerasan orang tua terhadap anak dewasa ini kerap terjadi, tidak pernah berhenti, dan sulit dihentikan. Angka-angka kekerasan terhadap anak tidak pernah menunjukkan

angka menurun,

bahkan

kecenderungannya

selalu

meningkat, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Angka pastinya sulit diperoleh karena banyak kasus kekerasan tidak dilaporkan, terutama apabila kekerasan tersebut terjadi di rumah tangga. Banyak masyarakat menganggap bahwa kekerasan di rumah tangga adalah urusan domestik sehingga tidak selayaknya orang luar, aparat hukum sekali pun ikut campur tangan (Internet dalam Harian Keadulatan Rakyat, halaman 1).

1

2

Hal ini juga merupakan pelanggaran yang sering diperbincangkan oleh kalangan praktisi dan masyarakat luas. Ada kultur kekerasan yang sangat kuat di sebagian masyarakat kita. Anak dilihatnya sebagai milik mutlak yang harus takluk untuk menggayuh keinginan orang dewasa. Anak menjadi target dalam rangka memenuhi ambisi orang dewasa dan ketika ia tidak bisa memenuhi, anak akan diperlakukan dengan kekerasan. Banyak orang tua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan bahwa kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah insan yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sudah tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan. Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak patut. Namun, orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini dengan kekerasan. Bagi orang tua, tindakan anak yang melanggar perlu dikontrol dan dihukum. (Internet dalam Dunia Psikologi, 2008). Sebenarnya sepanjang zaman kekerasan terhadap anak itu tak pernah luput dalam kehidupan. Pada zaman dahulu kerap terjadi berbagai kasus yang sama. Belum adanya teknologi media seperti dewasa ini menyebabkan tidak terlalu banyak diketahui. Masyarakat pun menyampaikan kisah-kisah kekerasan hanya dengan lisan. Turun-temurun dan menjadikan berita-berita kekerasan tersebut

3

sebagai pelajaran untuk diketahui. Selain itu mengambil hikmah yang baik dari berita-berita yang kemudian berkembang menjadi cerita rakyat. Ada banyak cerita rakyat atau dongeng di masyarakat yang berisi kearifan lokal. Selain berisi ajaran hubungan manusia dengan manusia, banyak pula yang berisi ajaran hubungan manusia dengan alam atau manusia dengan Tuhan. Muatan kearifan lokal dalam tradisi lisan itulah merupakan pelajaran tersembunyi yang selama ini masih belum banyak dipahami masyarakat luas. Kemudian tradisi lisan juga dapat menjadi kekuatan kultural dan salah satu sumber utama yang penting dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban. Penempatan cerita rakyat sebagai salah satu kategori folklore , yang oleh Danandjaja (2002:6) disebut cerita rakyat dipandang perlu karena pada awalnya cerita rakyat merupakan ragam sastra lisan. Cerita rakyat dituturkan, bukannya dituliskan. Cerita rakyat yang merupakan bagian dari sastra lisan merupakan kekayaan budaya yang turut membentuk jati diri sebagai bangsa beradab. Pada zaman modern ini peneliti berhadapan dengan arus globalisasi yang makin deras dan terus menawarkan nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa kita. Sastra lisan sebagai suatu alternatif pencerahan dapat menjadi solusi yang tepat, yaitu obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit zaman, mencegah, atau mengatasi persoalan dalam masyarakat. Cerita rakyat sebagai bagian dari sastra lisan tetap relevan untuk masa kini dan masa depan karena mengandung nilai-nilai yang luhur dan selalu ada sepanjang zaman. Apabila makna kearifan lokal sungguh-sungguh dijiwai oleh penuturnya, maka peneliti berharap agar mentalitas instan cepat atau lambat boleh

4

pupus dari masyarakat peneliti. Nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk zaman ini bertaburan di mana-mana. Sebagai contoh adalah cerita rakyat dari Ternate terdiri atas beragam jenis dan isi. Isinya menunjukkan kekayaan rohani, dalam bentuk nilai-nilai moral, cita-cita, dan pedoman hidup masyarakat yang tinggal di semenanjung daratan Maluku Utara, baik sebagai manusia sebagai pribadi maupun manusia dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan hidupnya. Umumnya cerita rakyat yang tersebar di Nusantara, yaitu cerita rakyat yang bertemakan anak durhaka pada orangtua, namun pada cerita rakyat dari Ternate ini berlaku sebaliknya, yaitu telah terjadi penyimpangan orang tua dalam mendidik anaknya. Selama ini mungkin para peminat sastra lisan belum banyak mengkaji hal yang fenomenal ini ataupun mengumpulkan cerita rakyat dalam jenis ini yang memiliki pesan moral yang agak kontras dan hal itu pun berlaku pada masyarakat kita. Hal ini juga disebutkan oleh Pudentia (2008:313) bahwa cerita tentang anak durhaka menarik untuk diiventarisasi dan diteliti sampai beberapa banyak tema ini dimiliki oleh semua suku bangsa yang diteliti. Kemudian, seberapa banyak cerita tentang orang tua durhaka, yaitu orang yang mengabaikan anaknya Cerita seperti itu baru sedikit yang dikumpulkan selama ini. Adapun salah satu cerita rakyat di Ternate yang bertemakan kekerasan orang tua terhadap anak adalah Tolire Gam Jaha. Cerita itu mengisahkan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak gadisnya. Dahulu kala, ada sebuah kampung di Pulau Gapi (sekarang Ternate) yang namanya Kampung Tolire. Warga kampung tersebut hidup sejahtera dan mempunyai tali

5

persaudaraan yang kuat sehingga tidaklah aneh jika semua warga di desa tersebut saling mengenal pribadi satu sama lain. Sampai suatu ketika terjadi kejadian yang di luar dugaan. Seorang bapak menyetubuhi anaknya sendiri. Hal itu dipercayai oleh masyarakat setempat bahwa kejadian tersebut akhirnya mendapatkan hukuman dari Tuhan dengan mendatangkan bencana yang amat dahsyat. Kampung Tolire pun tenggelam bersamaan dengan masyarakatnya. Kampung tersebut menjelma menjadi danau. Satu danau besar yang kemudian disebut Tolire besar (lamo) yang menggambarkan sang ayah. Satu lagi danau yang lebih kecil yang disebut Tolire kecil (ici) yang mencerminkan sang anak. Cerita rakyat dari Kota Ternate yang berjudul Tolire Gam Jaha Jika dikaitkan dengan konteks sekarang seperti baru-baru ini diberitakan oleh TV swasta yaitu Trans Tv 25 Oktober 2012 bahwa seorang pria warga Cakung, Jakarta Timur tega melakukan pelecehan seksual kepada tiga anak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun. Selain itu, sebelumnya juga sering diberitakan dari daerah-daerah lain di Indonesia juga dengan berita dan kasus yang sama. Hal itu pun terjadi di sekitar Kota Ternate. Ada beberapa kasus yang serupa, yaitu anak menjadi korban pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri. Fenomena semacam itu sering mendapat liputan media (TV dan surat kabar). Walaupun terdapat berbagai motifnya, seperti yang sering dianggap media lebih disebabkan oleh adanya disharmonisasi dalam kehidupan keluarga, seperti ketidakharmonisan orang tua, himpitan ekonomi, dan lainnya. Dapat dilihat bahwa pada banyak orang tua yang masih melakukan kekerasan seksual tanpa

6

menyadari bahwa sudah ada Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23, Tahun 2002. Salah satu pasalnya adalah sebagai berikut: “Bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi”. Pernyataan undang-undang tersebut belum tentulah dipikirkan oleh para penutur cerita yang hidup pada zaman dulu. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anak cucunya. Hal ini menunjukkan bahwa nenek moyang masyarakat Ternate Maluku Utara yang membuat cerita rakyat sudah mempunyai intelektualitas pada masa yang jauh sebelum ada sekolah yang bersifat formal. Di samping itu juga terkandung nilai kehidupan masyarakat di tempat cerita rakyat di Ternate Maluku Utara. Di Nusantara ini sangat jarang cerita rakyat yang menyinggung tentang durhaka orang tua terhadap anak. Dalam

cerita rakyat Tolire Gam Jaha di

Ternate di atas bertemakan tentang suatu penyimpangan orang tua terhadap anak. Pada masyarakat Ternate Maluku Utara dan pada umumnya orang tua yang keras atau berbuat salah adalah normal dan tidak terlalu dipermasalahkan. Sebaliknya, jika anak yang durhaka pada orang tua selalu menjadi sorotan masyarakat. Hal itu juga tercermin pada cerita-cerita rakyat di Nusantara yang pada umumnya menyoroti anak yang durhaka pada orang tua semisal dari Sumatra Barat, yaitu cerita Maling Kundang. Berdasarkan penjelasan yang telah diungkap menarik untuk dianalisis sastra lisan yang terkandung dalam cerita rakyat dari Ternate

7

Maluku Utara dengan judul “Kekerasan Orang Tua terhadap Anak dalam Cerita Rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara”.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan ini dapat dirumuskan ke dalam tiga pertanyaan berikut: 1. Bagaimanakah bentuk kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara? 2. Bagaimanakah resepsi masyarakat Kota Ternate Maluku mengenai fenomena kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara? 3. Apa sajakah dampak dan makna kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara?

1.3 Tujuan Penelitian Terdapat dua tujuan yang hendak dicapai oleh penulis tesis dalam melakukan penelitian tentang kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate, yaitu sebagai berikut.

1.3.1

Tujuan Umum Cerita rakyat termasuk salah satu budaya daerah yang merupakan

kekayaan bangsa pada kenyataannya dapat memberikan andil bagi proses regenerasi bangsa kita. Secara umum diharapkan cerita rakyat Tolire Gam Jaha

8

ini dapat menjadi cerminan atau pelajaran hidup bagi orang tua dan anak yang memahami norma-norma warisan budaya bangsa ini.

1.3.2

Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bentuk kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara. 2. Untuk memahami resepsi masyarakat Kota Ternate Maluku Utara pada masa sekarang mengenai fenomena kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara. 3. Untuk mengintrepetasi dampak dan makna kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara.

1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoretis dan bermanfaat secara praktis.

1.4.1 Manfaat Teoretis a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan serta lebih mengerti dan memahami kekerasan orang tua terhadap anak dalam cerita rakyat Tolire Gam Jaha di Ternate Maluku Utara. b.

Hasil penelitian ini bisa menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi keilmuan terutama pada keilmuan kajian budaya dan dapat dijadikan rujukan untuk peneliti lain dalam melakukan penelitian yang sejenis.

9

1.4.2

Manfaat Praktis Penelitian ini dapat menambah referensi yang ada dan dapat digunakan

oleh semua pihak yang membutuhkan. Penelitian ini, juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada para orang tua yang berada di daerah Ternate Maluku Utara dan sekitarnya tentang tanggung jawab yang harus dipikul sebagai orang tua terhadap anak-anaknya.

Suggest Documents