MINAT MEMBACA BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA ...

21 downloads 89 Views 2MB Size Report
Halima Tusadiah; 107013000234 “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas. VIII MTs. Islamiyah Ciputat”. Penelitian ini dilaksanakan di MTs  ...

MINAT MEMBACA BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) ISLAMIYAH CIPUTAT (Studi Kasus pada Siswa Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat) Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh HALIMA TUSADIAH 107013000234

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432/2011

LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama

: Halima Tusadiah

Tempat/Tanggal lahir

: Bekasi, 25 Mei 1989

NIM

: 107013000234

Jurusan

: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Skripsi

: Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat

Dosen Pembimbing

: Drs. Cecep Suhendi, M.Pd

Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini merupakan karya saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 20 Oktober 2011 Penulis

Halima Tusadiah

LEMBAR PENGESAHAN

MINAT MEMBACA BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) ISLAMIYAH CIPUTAT

Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh Halima Tusadiah 107013000234

Di Bawah Bimbingan

Drs. Cecep Suhendi, M.Pd NIP. 196010171987031001

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432/2011

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudu : “MINAT MEMBACA BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) ISLAMIYAH CIPUTAT”, yang disusun oleh Halima Tusadiah Nomor Induk Mahasiswa 107013000234 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Telah melalui bimbingan dinyatakan syah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang ditetapkan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Jakarta, 20 Oktober 2011 Yang mengesahkan Pembimbing

Drs. Cecep Suhendi, M.Pd NIP. 196010171987031001

ABSTRAK Halima Tusadiah; 107013000234 “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII MTs. Islamiyah Ciputat”. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Islamiyah Ciputat pada bulan Juli 2011, yang bertujuan untuk meningkatkan minat membaca siswa terhadap buku pelajaran Bahasa Indonesia. Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif terhadap aspek-aspek lingkungan minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak kecil sebab minat membaca tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulus yang diperoleh dari lingkungan tempatnya berinteraksi. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan manusia untuk itu orang tua dapat menjadikan dirinya teladan bagi anaknya hal ini agar ada keterkaitan antara penanaman membaca untuk menatap masa depan yang lebih baik. Pelajaran yang diterapkan adalah pelajaran Bahasa Indonesia dengan subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang terdiri dari 36 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pernyataan-pernyataan berupa angket, yang kemudian diberikan kepada objek penelitian, yaitu siswa-siswi yang peneliti pilih dan menjadi sampel dalam penelitian.

Selain angket di atas, peneliti juga menggunakan instrumen wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada guru Bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang penelitian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Data hasil pengamatan dianalisis dengan perhitungan perolehan rata-rata persentase minat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa minat membaca buku pelajaran siswa kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat sangat kurang dan perlu ditingkatkan lagi.

KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah Swt atas berkat rahmat yang telah diberikan-Nya, sehingga skripsi dengan judul Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat dapat penulis selesaikan dengan baik. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah membimbing umatnya ke jalan yang diridhoi Allah Swt. Doa dan dorongan dari berbagai pihak banyak memberikan semangat dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Nurlena, P. Hd. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd. sebagai Ketua Jurusan PBSI. 3. Drs. E. Kusnadi sebagai dosen pembimbing akademik 4. Drs. Cecep Suhendi, M.Pd sebagai dosen pembimbing yang telah banyak membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini dan telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan fikirannya untuk memberikan petunjuk dan pengarahan kepada penulis. 5. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah mengajarkan dan memberikan ilmunya kepada penulis selama proses perkulahan berlangsung. Semoga Allah memberikan balasan dan pahala berganda atas ilmu yang diberikan dengan ikhlas kepada kami semua. 6. Kepala MTs. Islamiyah Ciputat beserta jajaran yang telah membantu penulis dengan memberikan izin untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. 7. Ayahanda dan Ibunda yang penulis sayangi dan cintai, yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan baik dari segi moril maupun materil. 8. Imam Hanafi sebagai adik tersayang yang memberikan bantuan dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi. 9. Keluarga besar Bapak H. Ilyas dan Bapak Madsari yang selalu mendoakan penulis tetap semangat dalam menuntut ilmu yang Allah ridhoi.

10. Teman-teman kosan dan sahabat-sahabatku Intan, Kokom, Famel, Ani, Nuryati, dan seluruh sahabatku PBSI/2007 yang selalu memberikan semangat, semoga Allah melindungi kalian semua. 11. Keluarga besar SDN Sukakarya 03 12. Keluarga besar SMP dan SMA Madinatul Ilmi Ciputat. Akhirnya penulis hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah Swt semoga budi baik dan bantuan-bantuan yang tak ternilai dibalas oleh-Nya sebagai amal kebaikan. Amin yaa robbal’alamin. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi semua pihak yang membacanya. Amin

Jakarta, 20 Oktober 2011 Penulis

Halima Tusadiah

DAFTAR ISI SURAT PERNYATAAN PENULIS ................................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii ABSTRAK ............................................................................................................ iv KATA PENGANTAR .......................................................................................... v DAFTAR ISI......................................................................................................... vii DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ x BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang ......................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ................................................................ 8 C. Pembatasan Masalah ................................................................ 9 D. Perumusan Masalah ................................................................. 9 E. Tujuan Penelitian ..................................................................... 9 F. Manfaat Penelitian ................................................................... 10 G. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 11 H. Sistematika Penulisan .............................................................. 12

BAB II

KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Minat ............................................................................ 13 B. Hakikat Membaca...................................................................... 31 C. Pengertian Buku Teks .............................................................. 43

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 62 B. Sumber Data............................................................................. 62 C. Populasi dan Sampel ................................................................ 62 D. Metode Penelitian.....................................................................63

E. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 63 F. Instrument Penelitian ............................................................... 64 G. Teknik Analisis Data................................................................ 65 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat .. 67 B. Hasil Analisis Data .................................................................. 74 C. Pembahasan.............................................................................. 89

BAB V

PENUTUP A. Simpulan .................................................................................. 90 B. Saran ........................................................................................ 90

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 92

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tabel 2

: Kisi-kisi Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia : Nama Guru di MTs Islamiyah

Tabel 3

: Jumlah Siswa MTs Islamiyah Ciputat Tahun pada Ajaran 2010-2011

Tabel 4

: Keadaan sarana dan prasarana MTs Islamiyah ciputat

Tabel 5

: Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 6

: Nilai Bahasa Indonesia

Tabel 7

: Berminat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 8

: Sikap Mendapatkan Nilai Bahasa Indonesia Kurang Bagus

Tabel 9

: Sikap Orang Tua Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 10

: Tanggapan Teman Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 11

: Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Sebelum Pelajaran Dimulai

Tabel 12

: Membeli Buku Pelajaran Bahasa Indonesia di Toko Buku

Tabel 13

: Yang disukai ketika Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 14

: Frekuensi Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 15

: Berdiskusi Kepada Teman Tentang Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 16

: Alasan berminat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 17

: Sikap Responden Tentang Teman yang Mengejek Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 18

: Keinginan Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 19

: Kondisi Kelas ketika Belajar Bahasa Indonesia

Tabel 20

: Mengulang Membaca Buku Pelajaran di Rumah

Tabel 21

: Tidak Pernah Bosan Membaca Buku pelajaran Bahasa Indonesia

Tabel 22

: Membaca Buku yang Berkaitan dengan Pelajaran Bahasa Indonesia di Perpustakaan

Tabel 23

: Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Membuang Waktu Saja

Tabel 24

: Pengaruh Selesai Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1

: Angket

Lampiran 2

: Data Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat

Lampiran 3

: Lembar wawancara dengan guru

Lampiran 4

: Surat pengajuan judul proposal skripsi

Lampiran 4

: Surat bimbingan skripsi

Lampiran 5

: Surat permohonan izin observasi

Lampiran 6

: Surat permohonan izin penelitian

Lampiran 7

: Surat keterangan sekolah

Lampiran 8

: Profil sekolah

Lampiran 9

: Uji referensi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tachir di dalam Budinuryanta Y menyatakan bahwa pengajaran bahasa Indonesia pada hakekatnya adalah pengajaran keterampilan berbahasa, bukan pelajaran tentang bahasa. Keterampilan berbahasa yang terdiri dari keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis, semua keterampilan tersebut disajikan secara terpadu. Sedangkan Samsuri di dalam Budinuryanta Y menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah mempertinggi kemahiran siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia.1 Pengajaran membaca sebagai bagian dari pengajaran bahasa yang mengalami perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi sosial ekonominya sudah mantap, seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Di sana penelitian telah menghasilkan pemikiran-pemikiran di bidang komunikasi

yang menyebabkan perkembangan

di

negara-negara

tersebut

berpengaruh pula pada belahan bumi lainnya, yaitu di negara-negara berkembang seperti Indonesia.2 Kata-kata bijak yang mengatakan bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan, buku adalah jendela untuk melihat dunia, menemukan relevansinya yang semakin kuat dalam abad informasi dewasa ini. Adanya arus global yang

1

Budinuryanta Y, dkk, Pengajaran Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), h. 11.6. 2 Ibid,. h. 11.6

1

2

melanda dunia dan yang mengandaikan semakin cepatnya arus informasi dari berbagai belahan dunia hanya dapat diikuti dengan baik jika orang mau membaca, tetapi ia akan terkunci dari peradaban modern, ditengah lalu lalangnya kehidupan super modern yang serba teknologis. Dalam bahasa yang sederhana, ia akan ketinggalan zaman, tidak tahu apa yang terjadi di sekeliling padahal manusia dibekali pembawaan rasa ingin tahu yang besar.3 Pentingnya budaya membaca juga telah ditegaskan Tufik Ismail. Dalam tulisannya yang berjudul “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”.4 Memang penyakit malas membaca sekarang ini terjadi kepada siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal ini merupakan suatu keadaan yang sangat memprihatinkan. Banyak orang yang ingin menguasai ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi dan ingin bersaing dengan negara-negara lain tetapi kenyataannya penyakit malas itu sulit di hilangkan. Padahal keadaan suatu bangsa ini lebih di tentukan oleh seberapa besar masyarakat yang mau menjadikan membaca buku itu hal yang utama. Secara umum tujuan membaca dilingkupi oleh empat tujuan berbahasa berikut. Pertama, tujuan penalaran, menyangkut kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap sosial budaya. Pendeknya identitas dan kepribadian seseorang. 3

Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 46. 4 Taufik Ismail. 2003. “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”. Pidato Penganugrahan Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Sastra, di Universitas Negeri Yogyakarta

3

Kedua, tujuan instrumental, menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari itu untuk tujuan-tujuan material dan konkret. Umpamanya, supaya tahu memakai alat-alat, memperbaiki kerusakan mesin, mempelajari satu ilmu, dan melakukan korespondensi komersial. Ketiga, tujuan integratif, menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota suatu masyarakat yang menggunakan bahasa itu sebagai bahasa pergaulan seharihari dengan cara menguasai bahasa itu seperti seorang penutur asli, atau paling sedikit membuat orangnya tidak akan dianggap “asing” lagi oleh penutur –penutur bahasa atau dialek itu. Keempat, tujuan kebudayaan, terdapat pada orang yang secara ilmiah ingin mengetahui atau memperdalam pengetahuannya tentang suatu kebudayaan atau masyarakat. Untuk memenuhi semua tujuan tersebut salah satu cara efektif yang dapat ditempuh adalah dengan membaca. Dengan membaca dunia berada di tangan. Artinya, semua informasi dengan mudah dapat kita ketahui lewat membaca. Mengingat begitu pentingnya membaca, membaca perlu diajarkan kepada setiap generasi. Hasrat dan minat membaca perlu terus ditumbuhkembangkan pada diri setiap orang.5 Minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran mungkin sekali akan menjaga pikiran siswa sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada gilirannya, prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, yang bisa berlanjut sepanjang 5

Budinuryanta Y, dkk, Pengajaran Terbuka, 2008), h. 11.2.

Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Universitas

4

hayatnya. Minat siswa terhadap pelajaran apapun bisa didasarkan kepada bakat yang nyata dalam bidang khusus. Kalau pelajaran terus-menerus dipelajari dan dikaji, maka akan diperoleh kecakapan yang lebih besar disertai dengan bertambahnya minat bukan hanya terhadap lapangan itu sendiri akan tetapi juga dalam bidang-bidang yang berhubungan. Tidak semua remaja memulai bidang studi baru karena faktor minatnya. Ada siswa mengembangkan minatnya pada bidang pelajaran karena pengaruh gurunya, kawan sekelasnya, atau anggota keluarganya. Bagaimanapun, jika para siswa yang serupa itu mempunyai kemampuan sedang atau di atas rata-rata, biasanya mereka dapat mengembangkan minat yang kuat kepada matapelajaran dan mengarahkan tenaga dan usahanya untuk menguasainya sehingga akan membawa kepada prestasi yang berhasil. Jika seorang memang sangat menaruh minat kepada suatu proyek khusus maka mungkin dia akan lebih banyak melakukan tugas pekerjaannya dan juga dilakukannya dengan baik, sekalipun dalam beberapa hal minatnya bisa menyebabkan dia bekerja di luar batas-batas kesehatannya. Demikian pula sebaliknya yang dialami oleh banyak pelajar. Rasa lelah yang agaknya menyertai belajar seringkali tidak lebih daripada kebosanan belaka disertai keinginan untuk melakukan kegiatan lain yang sementara atau segera menarik perhatian dan minatnya. Efisiensi belajar barulah dapat bertambah jika si pelajar menyadari bahwa nilai dan kebaikan yang akan diperoleh dari studi tersebut lebih besar daripada memenuhi dengan segera minat yang sementara. Banyak sekolah, terutama pada tingkat Sekolah Lanjutan faktor minat justru merupakan masalah yang menghendaki perhatian khusus guru. Pada sebagian besar

5

sekolah yang mempunyai program co-kurikuler yang ekstensif, biasanya dijumpai bahwa ada beberapa siswa yang ingin ikut-serta dalam banyak kegiatan rekreasi akan merugikan tugas pekerjaan sekolahnya. Pada sekolah lain yang ekstrim, murid-murid yang menolak ikut-serta dalam tiap proyek yang diselenggarakan di luar kelas karena mereka khawatir bisa mengalihkannya dari usaha belajar yang sungguh-sungguh. Guru-guru itupun perlu kiranya menjaga agar supaya mereka demikian banyak menaruh minat dan perhatiannya kepada murid-murid dan tugas sekolahnya sehingga mereka mencurahkan sejumlah waktunya di luar batas waktu sekolah biasa guna memperhatikan segala kegiatan yang berhubungan dengan profesinya. Guru-guru dan siswa harus mengatur waktunya yang meliputi pekerjaan sekolah, keikut-sertaannya dalam kegiatan rumah dan reaksi yang bermanfaat. Jadi, ada di luar batas yang memang individu tidak boleh dihentikan baik dalam kegiatan yang meniadakan minatnya maupun dalam memusatkan semua minat dan kegiatannya kepada satu bidang.6

Yang dapat menumbuhkan minat dan kemampuan anak membaca adalah: Pertama, hasrat diri sendiri. Minat dan kemampuan membaca tidak bisa dipaksapaksa. Ia musti lahir dari diri sendiri. Tugas dari orang tua hanyalah mendorong akan arti penting aktivitas membaca.

Kedua, dorongan lingkungan. Apabila anak berada dalam lingkungan di mana orang tua dan lingkungan sekitar rumah yang rendah membaca, dan lebih banyak menonton tayangan televisi, umpamanya, niscaya anak juga akan meniru kebiasaan

6

Abdurahman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1999), h. 304-305.

6

tersebut. Ia akan meniru kebiasaan menonton ketimbang membaca. Ketiga, ketersediaan bahan bacaan. Bagaimana mungkin kita akan menumbuhkan minat dan kemampuan membaca anak, sementara tidak ada bahan bacaan yang tersedia. Bahan bacaan pun tidak harus buku-buku baru yang mahal buku-buku atau majalah lama yang bisa dibeli di toko dengan harga terjangkau, sudah cukup untuk merangsang anak mau membaca. Yang penting isi, tata letak, bahasa dan penyajiannya menarik bagi anak.7

Mengembangkan kebiasaan membaca buku, dapat memanfaatkan waktu luang untuk membaca di mana dan kapan saja. Namun banyak pula orang yang tidak mau membaca meskipun waktu luang sangat banyak, mereka lebih banyak berbicara dan membicarakan orang lain dalam keseharian mereka. “Dari segi linguistik, Anderson menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembaca sandi, berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian. Sebuah aspek pembaca sandi adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang mencakup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna”.8 Bahkan ada pula beberapa penulis yang solah-olah beranggapan bahwa “membaca” adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik (Phonics= suatu metode pengajaran membaca, ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi/menuju membaca lisan.9

7

http://dwikisetiyawan.wordpress.com/sisi-lain-masalah-minat-dan-kemampuanmembaca/diakses pada pukul 13.20WIB,tanggal 15-04-2011 8 Isah Cahyani dan Hodijah, Kemampuan Berbahasa Indonesia di SD, (Bandung: UPI PRESS, 2007), h. 98 9 Ibid., h. 98

7

Pada masa sekarang ini, pentingnya membaca telah semakin sering diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat dalam berbagai kesempatan dan forum. Hal ini sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang terasa semakin mendesak. Kehidupan modern yang salah satu ciri pokoknya adalah perkembangan ilmu dan teknologiyang semakin menuntut sikap orang mempunyai ketepatan dan kecepatan yang tinggi untuk menafsirkan dan menyerap berbagai informasi. Informasi bukan hanya sumber-sumber lisan tetapi yang terutama dari sumber-sumber yang tertulis. Sekarang ini sumber-sumber tertulis semakin membudaya sehingga dapat terlihat pentingnya membaca. Untuk memperoleh kemampuan membaca, maka minat baca tinggi memegang peranan penting. Tanpa adanya minat membaca maka kehidupan ini akan diwarnai ketertinggalan. Minat membaca harus dipupuk, dibina dan dibimbing. Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi dan merupakan produk belajar.10 Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah dengan adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar, minat merupakan suatu daya jiwa yang relative menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab melakukan sesuatu yang diminatinya seperti minat untuk membaca buku 10

http://www.infoskripsi.net/pengaruh-minat-baca/diakses pada pukul 20.45, tanggal 12-8-

2011

8

pelajaran bahasa Indonesia. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Siswa yang mempunyai minat untuk membaca buku pelajaran maka ia akan selalu terdorong untuk membaca buku pelajaran, sebaliknya jika ia tidak suka maka ia tidak akan terdorong untuk membaca buku pelajaran. Dalam pembelajaran sehari-hari masih banyak kesulitan yang dialami siswa. Kenyataan dilapangan menunjukan kecenderungan pembelajaran masih kurang. Banyak siswa yang tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas, sering meninggalkan pelajaran akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar. Maka dari itu peneliti ingin mengangkat masalah tentang minat

membaca pelajaran khususnya pelajaran

bahasa Indonesia upaya belajar siswa kemampuannya lebih berpotensi dalam menyumbangkan minat untuk belajar yang lebih baik dan lebih memusatkan perhatiaannya pada pelajaran. Berangkat dari penjelasan di atas, Oleh karena itu penulis memilih judul skripsi :“Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi masalahmasalah yang berkaitan dengan minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sebagai berikut: 1. Kurangnya minat siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat.

9

2. Peran guru untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia.

C. Pembatasan Masalah Agar masalah ini dapat dibahas dengan jelas dan tidak meluas, maka penulis membatasi masalah hanya pada minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia yang meliputi: 1. Meningkatkan minat membaca siswa adalah hal yang sangat penting bagi seseorang. 2. Keaktifan guru untuk memberi motivasi pada siswa untuk membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. D. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah minat siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia? 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui minat siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di MTs Islamiyah Ciputat. 2. Untuk menambah pengetahuan siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di MTs Islamiyah Ciputat.

10

3. Meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam membaca buku pelajaran di MTs Islamiyah Ciputat. F. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian ini menjadi pengalaman, dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Untuk lebih jelas mengenai kedua manfaat tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut. Manfaat Teoretis 1. Sebagai bahan pembelajaran bagi guru dalam mengetahui kemampuan minat membaca siswa. 2. Sebagai panduan guru-guru dan pengajar bahasa Indonesia untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Manfaat Praktis 1. Bagi para siswa, yang mempelajari bahasa Indonesia agar lebih mengetahui kelemahan yang ada pada dirinya, sehingga siswa mengetahui manfaat membaca untuk dirinya. Serta siswa dapat senang dalam belajar bahasa Indonesia. 2. Bagi guru, untuk lebih memotivasi siswa dalam belajar bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan sebagai petunjuk untuk pengajaran dan pengelola pendidikan khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia. 3. Bagi Sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam mengetahui kemampuan membaca siswa.

11

G. Tinjauan Pustaka Minat merupakan suatu sikap yang sangat diperlukan oleh seseorang terhadap sesuatu, karena minat seseorang terhadap sasuatu masih perlu ditingkatkan. Untuk mengetahui perbedaan minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia penulis membuat sesuatu pernyataan kepada responden. Namun, ada beberapa sumber yang menjadi pegangan penulis dalam melakukan penelitian ini. Pertama penulis melihat skripsi Yeti Budiyarti, UIN Syarif Hidayatullah tahun 2011 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan judul ”Minat Belajar Siswa Terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia”, skripsi tersebut berbeda dengan skripsi penulis buat. Perbedaannya adalah Yety Budiyarti membicarakan tentang seberapa besar minat belajar

siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia dan menggunakan

pengambilan sampel dilakukan secara acak (sampling random) sedangkan penulis membicarakan tentang minat membaca buku pelajaran dan menggunakan sampel pertimbangan (sampling purposive). Kedua, penulis melihat skripsi Siti Memah, dari jurusan KI-Manajemen Pendidikan, yang berjudul ”Minat Siswa Terhadap Ekstrakurikuler”. Skripsi tersebut membicarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan pembina kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Penulis sendiri membicarakan skripsi dengan judul ”Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia” berdasarkan semangat, motivasi, dan dorongan dari orang tua maupun guru. Dengan melihat perbedaan-perbedaan minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia yang diteliti akan menambah pengetahuan penulis dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, diharapkan dalam penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian yang lebih luas dan sempurna.

12

H. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan penyusunan skripsi ini, maka dibuat sistematika penulisan yang terdiri dari beberapa bab dan bab-bab tersebut memiliki beberapa sub-bab yaitu: Bab I Pendahuluan, terdiri atas: latar belakang, identifikasi masalah, pembahasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan. Bab II Kajian Teoretis, terdiri atas: hakikat minat, hakikat membaca, dan pengertian buku teks Bab III Metode Penelitian, terdiri atas: tempat dan waktu penelitian, sumber data, populasi dan sampel, metode penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data. Bab IV Hasil Penelitian, terdiri atas: gambaran umum Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat, hasil analisis data, dan pembahasan. Bab V Penutup, terdiri atas: simpulan dan saran.

13

BAB II KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Minat 1. Pengertian Minat Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang mempengaruhi kemampuan membaca. Tampubulon mengatakan bahwa minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Sebagai contoh, seseorang mungkin mempunyai minat untuk membaca sebuah buku bacaan sastra, tetapi karena harganya mahal maka ia tidak melaksanakannya. Harjasujana

mengemukakan

bahwa

ketiadaan

minat

baca

dapat

menimbulkan ketidakmampuan membaca; ketidakmampuan membaca dapat menimbulkan ketiadaan minat baca. Dalam membaca karya sastra pun dapat terjadi hal yang serupa; ketidakmampuan minat terhadap karya sastra dapat menimbulkan ketidakmampuan seseorang membaca karya sastra. Terdapat tiga batasan minat, yakni (1) suatu sikap yang dapat mengikat perhatian seseorang ke arah objek tertentu secara selektif, (2) suatu perasaan bahwa aktivitas dan kegemaran terhadap objek tertentu sangat berharga bagi individu, dan (3) bagian dari motivasi atau kesiapan yang membawa tingkah laku ke suatu arah atau tujuan tertentu. Menurut Hilgard dalam Slameto minat adalah suatu kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang

13

14

diminati akan diperhatikan terus-menerus dan apabila dilakukan akan disertai rasa senang. Hal senada dikemukakan oleh Semiawan bahwa minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya. Minat dapat menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimulasi khusus sesuai dengan keadaan tersebut. Kesiapan berbuat muncul karena ada perasaan senang untuk mengetahui dan mempelajari sesuatu. Dengan demikian, minat dapat dilihat dari aspek perhatian, kesenangan, kegemaran, dan kepuasan sebagai stimulasi bagi tindakan dan perbuatan seseorang. Minat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam diri dan dari luar diri (lingkungan). Namun, faktor yang paling dominan berpengaruh adalah faktor lingkungan. Menurut Bloom minat seseorang dipengaruhi oleh lingkungan. Menurut pendapat ini faktor-faktor yang mempengaruhi minat di antaranya adalah pekerjaan, sosial ekonomi, jenis kelamin, pengalaman, kepribadian, dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi dan saling mempengaruhi walaupun besar pengaruhnya sudah pasti tidak akan sama. Minat akan berkembang membentuk suatu kebiasaan. Dengan kata lain, minat akan menjadi syarat terbentuknya kebiasaan. Bila kegiatan membaca dilandasi minat yang tinggi, maka kegiatan itu akan dilakukan secara tetap dan teratur. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama. Bentuk-bentuk minat akan dimanifestasikan dalam pilihan suka atau tidak

15

suka dan senang atau tidak senang terhadap suatu objek, kegiatan, dan gagasan atau orang yang akan memuaskan kebutuhannya. 11 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan dasar pembentukan suatu kebiasaan. Kebiasaan akan terbentuk manakala pembaca memiliki minat yang tinggi terhadap kegiatan membaca. Kegiatan membaca yang tinggi dan terus-menerus akan membentuk kebiasaan. Ada banyak penelitian mengenai minat yang dilakukan oleh berbagai ahli psikologi, seperti ahli psikologi perkembangan, ahli psikologi pendidikan. Apa yang dikemukakan tampaknya memberikan pengertian yang berbeda-beda mengenai minat. Namun demikian, secara umum banyak yang mengaitkan minat dengan motivasi. Minat merupakan aspek penting motivasi yang mempengaruhi perhatian, belajar, berpikir, dan berprestasi. Untuk lebih jelasnya, Krapp, Hidi, dan Renninger dalam Pintrich dan Schunk mengemukakan berbagai pengertian minat sebagai berikut. 1. Minat Pribadi Minat pribadi memberikan pengertian sebagai suatu ciri pribadi individu yang merupakan disposisi abadi yang relatife stabil. Minat pribadi ini umumnya ditujukan pada suatu kegiatan khusus, misalnya minat khusus pada olahraga, ilmu pengetahuan, musik, tarian, dan komputer. Kebanyakan pemilihan karier seseorang didasarkan pada minat seseorang terhadap berbagai kegiatan dan karier yang disukai dan yang akan ditekuninya. Eccles dan Wigfield di dalam Hera 11

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2008), h. 113-114.

16

mengemukakan mengenai minat intrinsik yang secara konseptual berkaitan sama dengan minat pribadi. Di lain pihak beberapa peneliti lain mengukur minat pribadi berdasarkan topik atau kegiatan apa yang lebih dipilih seseorang (misalnya seseorang lebih memilih matematika dari pada ilmu pengetahuan) atau bisa juga berdasarkan kesukaan pribadi (misalnya saya senang memecahkan soal-soal matematika).12 2. Minat situasional Berbeda dengan pengertian sebelumnya, minat situasional merupakan minat yang ditimbulkan oleh kondisi atau faktor-faktor lingkungan. Hidi dan Anderson dalam Hera mengemukakan bahwa minat situasional berbeda dari sekedar keingintahuan seseorang karena minat ini berkaitan dengan sesuatu yang sangat spesifik, dan bukan hanya merupakan gambaran struktural dari sesuatu hal, lingkungan atau topik. Minat situasional ini pun dapat berkembang menjadi minat pribadi. Misalnya, pengalaman seseorang membaca buku mengenai berbagai percobaan fisika, membuatnya lama-lama menjadi tertarik pada fisika.13 3. Minat sebagai keadaan psikologis Minat sebagai keadaan psikologis menggambarkan pandangan yang interaktif dan berkaitan dengan minat, pada saat pribadi seseorang saling berinteraksi dengan lingkungan untuk menghasilkan suatu keadaan psikologis dari minat pada diri seseorang. Misalnya, anak yang memiliki minat pribadi yang kuat

12

Hera Lestari Mikarsa, dkk, Pendidikan Anak di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 3.4 13 Ibid., h. 3.4

17

pada musik,akan memilih kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan musik. Misalnya, memilih acara atau bacaan yang berkaitan dengan musik di setiap kesempatan, di rumah maupun di sekolah. Dari contoh ini tampak bahwa secara psikologi anak memiliki minat yang tinggi pada musik. Ranninger di dalam Hera telah melakukan berbagai penelitian mengenai hubungan antara nilai dengan minat sebagai keadaan psikologis. Minat terjadi bila seseorang memiliki penilaian yang tinggi terhadap suatu kegiatan, dan telah memiliki pengetahuan yang tinggi terhadap suatu kegiatan tersebut.14 Seseorang akan mengabaikan suatu kegiatan apabila ia kurang memiliki pengetahuan mengenai kegiatan tersebut atau karena kegiatan tersebut kurang memiliki nilai atau memiliki nilai yang rendah bagi seseorang. Sementara jika suatu kegiatan memiliki nilai yang rendah meskipun pengetahuan seseorang terhadap kegiatan itu cukup tinggi maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut tidak memiliki minat terhadap kegiatan tersebut. Sebaliknya jika nilai terhadap suatu kegiatan tinggi, namun kurang diimbangi dengan pengetahuan yang memadai maka kegiatan tersebut hanya merupakan atraksi bagi orang tersebut. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif, yang menyebabkan pilihan terhadap suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan dan lamakelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya. Di lain pihak jika kepuasan berkurang maka minat seseorang pun akan berkurang. 14

Ibid., h. 3.5.

18

Minat berperan penting dalam kehidupan seseorang dan berpengaruh besar pada tingkah laku dan sikap seseorang. Menurut Hurlock (1989) ada empat cara mengenai minat anak pada sekolah yang mempengaruhi perkembangan anak, yaitu sebagai berikut ini. a. Minat dapat mempengaruhi bentuk dan intensitas aspirasi Jika nilai mulai memikirkan tentang masa depan maka anak akan mencoba menentukan tujuan dan sasaran yang akan dicapai dan dilakukan jika ia bertambah besar. Misalnya, anak perempuan yang berminat pada kesehatan, peran dokter atau juru rawat maka ia akan bercita-cita menjadi dokter. Anak laki-laki yang berminat pada film perang dan pesawat, akan bercita-cita menjadi penerbang. b. Minat dapat sebagai pendorong Anak yang berminat pada suatu kegiatan (apakah bermain atau belajar) akan lebih berusaha untuk melakukan kegiatan dengan lebih baik daripada anak yang berminat untuk mandiri dan menjadi pemimpin, tentu ia akan berusaha agar dapat diterima kelompoknya sehingga lama kelamaan diharapkan ia menjadi pemimpin. c. Minat berpengaruh pada prestasi Anak yang berminat pada suatu pelajaran, akan belajar dan berusaha supaya mendapat nilai yang lebih baik. Minat dapat menimbulkan rasa senang pada setiap kegiatan yang dipilih. Jika anak berminat pada suatu kegiatan maka pengalaman terasa akan lebih menyenangkan. Sebaliknya, jika anak gagal mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, anak tidak berminat untuk melaksanakan kegiatan

19

tersebut. Hal ini, kadangkala membuat prestasi lebih rendah dari kapasitas atau potensi yang dimiliki. Akibatnya, timbul rasa salah dan malu pada diri anak tersebut. d. Minat yang berkembang pada masa kanak-kanak dapat menjadi minat selamanya Anak yang selalu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan minatnya, lama-kelamaan akan timbul kebiasaan dan akan terus bertahan menjadi minat selamanya. Misalnya, anak yang sedari kecil senang menggambar dan ia terlibat secara intensif dalam kegiatan ini dan hal ini juga didukung oleh orang tua dan lingkungannya, pada akhirnya akan menjadi minat yang menetap dalam diri anak.15 Berdasarkan uraian di atas maka, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif, yang menyebabkan pilihan terhadap suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan dan lama-kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya. Di lain pihak jika kepuasan berkurang maka minat seseorang pun akan berkurang. Kebiasaan akan terbentuk jika pembaca memiliki minat yang tinggi terhadap kegiatan membaca. 2. Perkembangan Minat Seorang anak tidak lahir dengan minat tertentu. Teori tabula rasa menunjukkan bahwa anak yang lahir laksana kertas putih yang kosong, yang belum diisi berbagai hal. Dengan demikian, minat tidak ada dari lahir karena minat 15

Hera Lestari Mikarsa, dkk, Pendidikan Anak di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 3.3-3.8.

20

berkembang melalui pengalaman belajar. Sejalan dengan makin meluasnya cakrawala mental anak maka minatpun akan berkembang. Minat dapat dipelajari melalui berbagai macam cara yaitu: a. Trial and Error (Coba Ralat) Dengan mencoba-coba secara tidak langsung akan timbul minat terhadap sesuatu, seperti anak yang baru belajar sepeda. Jika ia sudah mahir, ia akan gemar bersepeda. Kegemaran atau minat bermain sepeda akan lebih kuat jika mendapat bimbingan dari lingkungan (khususnya melalui arahan dari orang-orang yang berarti bagi anak). Tumbuhnya minat pada anak akan lebih baik dan dapat bertahan lebih lama. b. Proses identifikasi pada orang yang dicintai (misalnya, Ayah atau Ibu) Anak yang menyukai atau berminat membaca sangat mungkin dikarenakan ia melihat ayah dan ibunya senang membaca. Ibu yang senang menonton sinetron di televisi tanpa sengaja dapat menjadi model atau contoh yang kuat bagi anak untuk juga turut berminat menonton sinetron. Pengaruh tokoh identifikasi ini makin lama semakin berkurang begitu anak menginjak usia dewasa karena bukan hanya keluarga yang berpengaruh pada anak tetapi juga peran kelompok teman sebaya. Jika hal ini terjadi pada anak, tidak jarang akan menimbulkan konflik dalam diri anak.

21

Dari berbagai penelitian mengenai perkembangan dan perbedaan individu dalam minat. Renninger menyimpulkan sebagai berikut. 1. Jika ditinjau dari sudut pandang perkembangan, pada usia prasekolah, yaitu usia 3-4 tahun umumnya anak-anak memiliki minat yang secara relatife stabil dan minat mereka berhubungan dengan pemilihan kegiatan dan belajar mereka. 2. Minat berperan besar dalam mengarahkan dan membimbing tingkah laku pada masa kanak-kanak akhir dan dewasa. Pada anak yang lebih tua dan memasuki masa dewasa, umumnya menyelesaikan tugas yang tidak terlalu diminati dan kebanyakan mereka tidak mempunyai pilihan terhadap tugas-tugas ini (misalnya tugas di lingkungan sekolah atau lingkungan pekerjaan). Dalam hal ini minat mempunyai pengaruh diferensial tergantung dari tugas dan isinya. 3. Jika ditinjau dari perbedaan perkembangan minat, menunjukkan bahwa minat anak pada sekolah dan tugas sekolah akan berkurang sejalan dengan usia mereka. Minat pada matematika dan ilmu pengetahuan akan berkurang. Sayangnya, penelitian semacam ini belum dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut khususnya mengenai perkembangan dan perbedaan individu dalam minat terhadap belajar dan perkembangan. Perkembangan minat memegang peranan penting dalam pengembangan kepribadian. Minat merupakan aspek kepribadian yang menyangkut rasa senang atau tidak senang terhadap suatu objek dalam mencapai suatu tujuan. Minat yang kuat akan mendorong anak dalam memilih tindakan secara tepat untuk mencapai

22

tujuan. Dalam dunia psikologi pendidikan dikenal ada tiga macam minat dalam diri anak, yaitu minat volunter, minat involunter, dan minat non-volunter. a. Minat volunter adalah minat yang tumbuh dengan sendirinya dalam diri anak. b. Minat involunter adalah minat yang ditimbulkan oleh guru melalui berbagai upaya penciptaan situasi yang kondusif. c. minat non-volunter adalah minat yang timbul dengan dipaksakan. Dengan minat yang kuat, anak akan melakukan suatu tindakan dengan motivasi yang lebih tinggi disertai kepuasaan tertentu. Minat-minat dan aktivitas yang banyak berkembang selama masa ini adalah berikut ini. 1. Permainan konstruktif (construktive plays), yaitu berbagai jenis permainan yang bersifat membentuk atau menghasilkan bentuk-bentuk tertentu. 2. Mengumpulkan (collecting), yaitu kegiatan untuk mengumpulkan suatu yang disukainya, seperti gambar, perangko, buku, dan alat mainan. 3. Permainan dan olahraga 4. Aktivitas yang memberikan hiburan, seperti membaca, menonton film, mendengarkan radio, menonton tv, dan video games. Dalam masa anak-anak, telah terbentuk minat-minat tertentu, antara lain minat terhadap penampilan (unjuk diri). Pakaian, nama, agama, kesehatan, jenis kelamin, sekolah, dan karierdi masadepan. Perkembangan emosional dalam masa ini ikut berpengaruh dalam pembentukan konsep diri dan pembentukan ideal selfy, itu keadaan diri sendiri yang di cita-citakan secara ideal. Hal itu terjadi karena

23

dengan makin luasnya cakrawala lingkungan sosial anak. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri anak, antara lain kondisi fisik, bentuk tubuh, nama, status sosial ekonomi, lingkungan, sekolah, penerimaan sosial, pengalaman sukses atau gagal , dan kecerdasan. 3. Aspek kognitif dan afektif Untuk mengetahui bagaimana minat seseorang berkembang, perlu diketahui aspek-aspek minat, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif didasarkan pada konsep anak yang berkembang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan minat. Aspek kognitif dari minat anak pada sekolah didasari pada konsep anak tentang sekolah. Jika dikatakan sekolah sebagai tempat mempelajari sesuatu, tempat untuk meningkatkan rasa ingin tahu, tempat untuk dapat mengadakan hubungan dengan kelompok teman sebaya maka akibatnya minat setiap anak pada sekolah akan berbeda-beda. Hal ini berbeda jika sekolah lebih ditekankan pada hal-hal yang menimbulkan frustrasi atau menekan karena berbagai aturan sekolah dan tugas-tugas yang berat. Konsep kognitif berkaitan dengan pengalaman seseorang. Pengalaman yang telah diperoleh dari rumah, sekolah, masyarakat, dan media massa berbeda. Dari semua pengalaman inilah anak belajar apa yang dapat dan tidak memuaskannya.16

16

Hera Lestari Mikarsa, dkk, Pendidikan Anak di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 3.8-3.10.

24

Menurut Piaget, pada garis besarnya perkembangan kognitif berlangsung melalui empat tahapan utama, yaitu sebagai berikut. a. Tahap Sensorimotor, sejak lahir sampai usia 2 tahun. Dalam tahapan ini pola kognitif anak masih bersifat biologis yang berpusat pada fungsi-fungsi alat indra dan gerak, kemudian secara bertahap berkembang menjadi kemampuan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih tepat. b. Tahap Praoperasional dibagi: 1. Tahapan prakonseptual atau simbolik, 2-4 tahun 2. Tahap intuitif atau preseptual, 4-7 tahun Dalam tahapan ini pola berpikir anak sudah mulai berkembang kepada polapola berpikir tertentu.Anak sudah mampu membuat logika sendiri meskipun masih bersifat primitif dan kurang rasional .Anak sudah mampu membuat suatu kesimpulan dengan logika sendiri. c. Tahap konkret operasional, usia 7-12 tahun Pada masa ini anak telah mampu menggunakan pola berpikir operasional secara konkret dalam arti masih memerlukan dukungan objek-objek konkret.Pada masa ini anak telah memahami konsep yang berhubungan dengan ukuran kuantitas, seperti panjang, lebar, luas, volume, dan berat. d. Tahap formal operasionalusia 12-15 tahun Beberapa fenomena yang tampak pada tahap ini. 1. Tingkat berpikir formal yang lebih bersifat abstrak dan logis tanpa kehadiran objek-objek konkret. 2. Pola berpikirnya memiliki corak hipotesis deduktif.

25

3. Jalan pikiran anak adalah proporsional, artinya anak mampu berpikir secara menyeluruh dengan kemampuan memberikan argumentasi secara bebas. 4. Bentuk berpikirnya berpolakan pengombanisasian, artinya anak secara efektif dapat berpikir sistematis dengan memisah-misahkan semua variabel yang mungkin ada dari suatu masalah dan mencoba mengombinasikandengan pemecahan masalahnya.17 Aspek afektif atau yang berkaitan dengan suasana hati, merupakan konsep yang diekspresikan dalam sikap orang-orang di sekitarnya. Bagi seorang anak, pengalaman yang menyenangkan dengan guru akan menumbuhkan sikap positif pada sekolah. Baik aspek kognitif maupun aspek afektif berperan dalam menentukan kegiatan yang akan dilakukan atau tidak dilakukan maupun tipe penyesuaian diri pada lingkungan. Dalam beberapa hal aspek afektif lebih penting daripada aspek kognitif, khususnya dalam memotivasi diri agar minat lebih bertahan. Dari bahasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa minat berkembang melalui proses belajar. Perkembangan minat memiliki karakteristikkarakteristik tertentu, sebagai berikut. a. Minat berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental b. Minat sangat bergantung pada kesiapan belajar (misalnya anak tidak akan berminat

pada

bermain

lompat

tali

apabila

anak

belum

dapat

mengkordinasikan gerak otot-ototnya). 17

Surya, dkk, Kapita Selekta Kependidikan SD, (Jakarta: Universitas Tebuka, 2007), h.

7.21-7.22.

26

c. Minat bergantung pada kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk belajar bergantung pada lingkungan serta minat dari anak maupun orang dewasa di sekitarnya. d. Perkembangan minat mungkin saja terbatas, tergantung dari kemampuan fisik, mental serta pengalaman sosial anak. e. Minat dipengaruhi oleh budaya karena anak belajar dan memperoleh pengalaman melalui keluarga, guru, dan orang dewasa lain yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya. f. Minat dipengaruhi oleh faktor emosi atau suasana hati. Jika suasana hati kita sedang gundah, minat pada suatu juga berkurang, demikian pula sebaliknya. g. Minat bersifat egosentris, hal ini dapat dilihat pada masa kanak-kanak.18 Menurut M. Alisuf Sabri minat yang paling penting dan paling universal pada masa kini dapat dikategorikan sebagi berikut: a). Minat pribadi dan sosial; minat pada diri sendiri merupakan minat yang terkuat pada masa anak. Karena mereka sadar bahwa dukungan sosial/penilaian teman-temannya sangat dipengaruhi oleh penampilan dan benda-beda yang dimiliki. Selain itu anak juga mempunyai minat sosial ingin populer dalam kelompok. Tetapi minat sosial ini tergantung pada kesempatan yang dimiliki oleh si anak. Sehingga anak yang kaya akan dapat melaksanakan minat sosialnya dengan lebih baik, sedangkan anak yang tidak populer akan mempunyai minat sosial yang terbatas.

18

Hera Lestari Mikarsa, dkk, Pendidikan Anak di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 3.10-3.11.

27

b). Minat terhadap pekerjaan, terutama terdapat pada anak-anak SMA; mereka mulai bersungguh-sungguh memikirkan masa depan mereka. c). Minat pada simbol status. Simbol status merupakan simbol prestise yang menunjukan bahwa orang yang memilikinya lebih tinggi statusnya dalam kelompok. Simbol status pada anak ini dapat bersumber dari status sosial ekonomi atau dari perolehan prestasi yang bergengsi, atau termasuk dalam tim sekolah.19 Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar hubungannya.20 Jadi, minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Baca a. Faktor intern siswa Yang dimaksud dengan faktor intern siswa ialah faktor-faktor yang terdapat atau bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri. b. Faktor ekstern siswa Faktor ekstern siswa artinya segala faktor yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku siswa termasuk minatnya yang bersumber dari luar siswa yang

19

M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan. (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 2006), h. 163-164. 20 H. Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), h. 121.

28

bersangkutan. Misalnya yang berasal dari lingkungan keluarganya, teman, masyarakat disekitarnya, dan guru dis ekolahnya.21 Chauhan juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi minat adalah: 1. Perkembangan fisik, merupakan hal yang sangat penting dalam memutuskan perkembangan minat. Seseorang secara fisik mengalami kebutaan atau kecacatan pada matanya akan berpengaruh pada ketertarikannya pada aktivitas membaca. 2. Perbedaan seks (identitas kelamin). Ada perbedaan besar antara minat membaca pada perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan fisiologis dan pengaruh budaya, level pendidikan, dan kondisi lingkungan. 3. Lingkungan, menentukan aturan penting dalam memutuskan minat membaca seseorang, misalnya saja lingkungan rumah yang kondusif dan memberikan banyak contoh dan stimulus sehingga seseorang akan memiliki kebiasaan membaca. 4. Status sosial ekonomi, kondisi keluarga juga menentukan dalam pembentukan minat membaca pada seseorang. Seseorang yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah ke atas akan dapat memberikan fasilitas dan stimulus bahan-bahan bacaan yang merangsang minat membaca pada anak. 22

21

Muchlisoh, dkk, Pendidikan Bahasa Indonesia 3, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), h. 296. 22 http://infokiat.ghobro.com/2010/03/kurangnya-minat-baca-anak.htm.diakses pada pukul 12.34, l8-08-2011

29

Jika kita akui secara jujur, rasanya masih sedikit sekali masyarakat Indonesia yang bisa mengisi waktu senggang mereka untuk membaca. Berbeda sekali dengan masyarakat Jepang misalnya, di mana dan kapan saja selama tidak melakukan pekerjaan lain mereka tidak pernah lepas dari buku. Mereka membaca dan membaca terus. Banyak masyarakat kita masih terdapat anggapan bahwa membaca adalah pekerjaan guru atau pekerjaan lainnya. Inilah yang menjadi pokok permasalahan sebagai penyebab utama rendahnya minat siswa untuk membaca. Crow and Crow berpendapat ada tiga faktor yang menjadi timbulnya minat, yaitu: a. Dorongan dari dalam diri individu, misalnya dorongan untuk makan, ingin tahu seks. Dorongan untuk makan akan membangkitkan minat untuk bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan dan lain-lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan membangkitkan minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, dan lain-lain. Dorongan seks akan membangkitkan minat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, minat terhadap pakaian dan lainlain. b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat terhadap pakaian timbul karena ingin mendapat persetujan atau perhatian dari orang lain. Minat untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin mendapat penghargaan dari masyarakat.

30

c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut. 5. Macam-Macam Minat Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, ini tergantung pada sudut pandang dan cara penggolongan misalnya berdasarkan timbulnya minat, berdasarkan

arahnya

minat,

dan

berdasarkan

cara

mendapatkan

atau

mengungkapkan minat itu sendiri. a. Witherington di dalam Abdurahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab mengatakan bahwa berdasarkan timbulnya, minat dan dapat dibedakan menjadi minat primitif dan minat kilturil. Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks. Minat kultural atau minat sosial, adalah minat yang timbulnya karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan diri kita. Sebagai contoh: minat belajar, individu punya pengalaman bahwa masyarakat atau lingkungan akan lebih menghargai orang-orang terpelajar dan pendidikan tinggi, sehingga hal ini akan menimbulkan minat individu untuk belajar dan berprestasi agar mendapat penghargaan dari lingkungan, hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi harga dirinya. b. Joner di dalam Abdurahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab mengatakan bahwa berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar atau minat asli. Sebagai contoh: seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau karena memang senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada kemungkinan minat tersebut hilang. Dalam minat ekstrinsik ada usaha untuk melanjutkan aktivitas sehingga tujuan akan menjadi menurun atau hilang. c. Super & Crites di dalam Abdurahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab mengatakan bahwa berdasarkan cara mengungkapkan minat dapat

31

dibedakan menjadi empat yaitu: Expressed interest, manifest interest, tested interest, inventoried interest. 1. Expressed interest: adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subyek untuk menyatakan atau menuliskan kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas yang disenangi dan paling tidak disenangi. Dari jawabannya dapatlah diketahui minatnya. 2. Manifest interest: adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan mengetahui hobinya. 3. Tested interest: adalah minat yang diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan, nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya menunjukan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut. 4. Inventoried interest: adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat yang sudah distandardisasikan, di mana biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau sesuatu objek yang ditanyakan.23

B. Hakikat Membaca 1. Pengertian Membaca Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat dipungkiri. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu kayakinan/kepercayaan pembaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman astetis, meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebagainya. Beberapa definisi membaca yang dikemukakan oleh para ahli, sebagai berikut. W.J.S. Poerwodarminto mengatakan bahwa membaca yaitu melihat sambil melisankan sesuatu tulisan dengan tujuan ingin mengetahui isinya. Dr. Henry Guntur Tarigan mengungkapkan membaca yaitu suatu pemerolehan pesan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan. A.S. Broto mengatakan bahwa membaca yaitu mengucapkan lambang bunyi. Anderson 23

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar (dalam Perspektif Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 263-268.

32

mengatakan bahwa membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung didalam kata-kata yang tertulis. Finochiaro and Bonomo secara singkat dikatakan bahwa “reading” adalah “bringing meaning to and getting meaning from-printed or written material”, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.24 Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu, para pelajar harus dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda yang sama yang telah mereka tanggapi sebelum itu. Berdasarkan hakikat membaca, ternyata membaca merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Pada saat membaca, anak harus mampu: a. Merasakan perangkat simbol pada teks bacaannya (aspek sensoris) b. Menginterpretasikan apa yang dilihatnya (aspek perceptual) c. Mengikuti pola-pola linier, logika,dan tata bahasa kata-kata yang ditulis (aspek urutan) d. Menghubungkan langsung agar

kata-kata

kembali

kepada

pengalaman-pengalaman

bisa memberi makna pada kata-kata yang ada (aspek

pengalaman) e. Melakukan inferensi dan mengevaluasi materi (aspek berpikir) f. Berhubungan dengan minat dan sikap yang mempengaruhi tugas membaca (aspek afektif)

24

Muchlisoh, Pendidikan Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), h. 133.

33

Lebih sederhana, hakekat pembelajaran membaca merupakan proses memperoleh kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang berupa fisik dan psikologis.25 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses membaca oleh pembaca adalah sebagai berikut: a) Tulisan, yang berfungsi sebagai input grafis, yaitu yang tercetak atau terlihat b) Bagaimana bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu digunakan oleh pembaca. Misalnya pemilihan kata atau diksi c) Seberapa banyak pengetahuan dan pengalaman pembaca yang digunakan untuk merekonstruksi makna yang dituangkan pengarang, misalnya perbedaan profesi d) Sistem perseptual yang termasuk dalam membaca.26 2. Tujuan Membaca Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Dengan melakukan kegiatan membaca tersebut, tentu dengan tujuan yang berbeda-beda. Dengan demikian, orang membaca dengan berbagai tujuan: a. Untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta atau informasi yang dibutuhkan. b. Untuk memperoleh ide pertama dari apa yang dibacanya c. Untuk menyimpulkan dari apa yang dibacanya itu d. Untuk memperoleh kesenangan, e. Mengisi waktu luang atau mencari hiburan. 25

Jauharoti Alfin, Bahasa Indonesia, (Surabaya: LAPIS PGMI, 2008), h. 12. Ibid., h. 15.

26

34

f. Kepentingan studi (secara akademik). g. Mencari informasi, menambah ilmu pengetahuan. h. Memperkaya perbendaharaan kosakata.27 i. Memahami isi wacana sehingga mampu menangkap dan memahami isi bacaan secara benar.28 j. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apayang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts). k. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan, dan kejadian buat dramalisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahuiurutan atau susunan, organisasi cerita. l. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh,dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuan. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.29

27

Supriyadi, Pendidikan Bahasa Indonesia 2, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), h. 13. Euis Honiatri dan E. Kosasih, Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 69. 29 Henry Guntur Tarigan, Membaca, Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1983), h. 9. 28

35

Berkaitan dengan tujuan membaca, Rivers dan Temperly mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca: a) Untuk memperoleh informasi untuk suatu tujuan atau merasa penasaran tentang suatu topik. b) Untuk memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas bagi pekerjaan atau kehidupan sehari-hari (misalnya, mengetahui cara kerja alat-alat rumah tangga) c) Untuk berakting dalam sebuah drama,bermain game, menyelesaikan teka-teki d) Untuk berhubungan dengan teman-teman dengan surat-menyurat atau untuk memahami surat-surat bisnis e) Untuk mengetahui kapan dan dimana sesuatu akan terjadi atau apa yang tersedia f) Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi g) Untuk memperoleh kesenangan atau hiburan30 h) Membaca untuk tujuan memperoleh sesuatu yang bersifat praktis; misalnya cara membuat masakan, cara membuat topi, dan sebagainya. i) Membaca untuk menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu. j) Mengganti pengalaman estetik yang sudah usang, misalnya membaca untuk tujuan mendapat sensasi-sensasi baru melalui penikmatan emosional bahan bacaan (buku cerita, novel, roman, dan sebagainya). 31

30

Jauharoti Alfin, Bahasa Indonesia 1, (Surabaya: LAPIS PGMI, 2008), h. 12. Nurhadi, Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan Latihan), (Malang: Sinar Baru Algensindo, 2005), h. 136. 31

36

3. Mengembangkan Keterampilan Membaca Pembelajaran membaca memang benar-benar mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam pembelajaran membaca, guru dapat memilih wacana-wacana yang memudahkan penanaman keindonesiaan pada anak didik. Selain itu, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar, dan kreativitas anak didik. Ada beberapa fase perkembangan membaca, yaitu : 1. Fase pramembaca (3-6 tahun) anak-anak mengenal huruf dan mempelajari perbedaan huruf dan angka. Kebanyakan anak akan mengenal nama jika ditulis 2. Fase ke-1 (7-8 tahun) kira-kira kelas dua, anak-anak memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata, dan kata sederhana melalui cerita. 3. Fase ke-2 kira-kira kelas tiga dan empat anak-anak dapat menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan. 4. Fase ke-4 pada akhir SMP sampai SMA anak mampu menyimpulkan dan mengenal maksud penulis dalam bacaan. 5. Fase ke-5 pada tingkat perguruan tinggi dan seterusnya, orang dewasa dapat mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dan menanggapi materi bacaan kritis.

37

Mikulecky membagi keterampilan membaca atas jenis-jenis yang lebih kecil. Jenis-jenis keterampilan membaca tersebut, antara lain sebagai berikut: a. Kemampuan melakukan decoding secara otomatis. Termasuk dalam jenis keterampilan ini, yaitu kemampuan mengenal atau menyadari sebuah kata dengan sangat cepat, yaitu dengan sekilas lirik. b. Kemampuanmelakukan

previewing

(aktivitas

prabaca)

dan

predicting

(memprediksi). Dengan demikian, pembaca dapat menebak isi bahan bacaan yang disajikan berikutnya. c. Kemampuan menentukan tujuan secara spesifik dalam membaca, yaitu memahami mengapa suatu teks perlu dibaca. d. Kemampuan mengidentifikasi genre tulisan sehingga dapat memprediksi bentuk dan kemungkinan isi bahan bacaan. e. Kemampuan mengajukan pertanyaan terhadap isi bacaan sehingga pembaca dapat melakukan dialog dalam hati dengan penulis selama membaca. f. Kemampuan melakukan scanning, yaitu membaca teks dengan sangat cepat guna memperoleh suatu informasi spesifik. g. Kemampuan mengenal topik yang disajikan dalam teks. h. Kemampuan menentukan ide pokok dan ide-ide penunjang. i. Kemampuan menentukan letak kalimat topik (kalimat utama). j. Kemampuan menentuka ide pokok pada sebuah kalimat dan paragraf. k.

Kemampuan menentukan bentuk-bentuk hubungan antaride dalam keseluruhan teks.

38

l.

Kemampuan mengidentifikasi dan menggunakan kata-kata yang menandai relasi-relasi antara unsur-unsur teks.

m. Kemampuan

menarik

kesimpulan

mengenai

ide

pokok

berdasarkan

penggunaan bentuk-bentuk bahasa dan petunjuk-petunjuk lain. n.

Kemampuan mengenal dan menggunakan unsur-unsur kata ganti (pronouns), kata-kata penunjuk (referents), dan unsur leksikal lainnya sebagai penanda kohesi.

o.

Kemampuan menebak arti kata-kata yang masih asing bagi pembaca melalui konteks.

p.

Kemampuan melakukan skimming, yaitu kemampuan memperoleh kesan umum secara cepat terhadap keseluruhan bahan bacaan, suatu bab atau buku.

q.

Kemampuan melakukan parafrase, yaitu kemampuan mengemukakan isi teks dengan menggunakan kata-kata sendiri guna memonitor pemahaman yang telah diperoleh pembaca.

r.

Kemampuan meringkas isi bacaan, yaitu mengemukakan kembali ide-ide pokok yang terdapat dalam keseluruhan bahan bacaan.

s.

Kemampuan menarik kesimpulan dengan menggunakan informasi dari beberapa bagian bahan bacaan dan ide-ide tambahan dari pembaca sendiri.

t.

Kemampuan mengemukakan inferensi dengan menggunakan bukti-bukti. Dalam hal ini, dengan membaca kalimat-kalimat tertulis dan dengan menggunakan bukti-bukti yang terkandung dalam teks, pembaca dapat mengetahui hal-hal yang tersirat atau yang tidak tertulis.

39

u.

Kemampuan memvisualkan isi bacaan, antara lain dalam wujud kemampuan membuat diagram mengenai isi teks.

v.

Kemampuan membaca secara kritis, antara lain kemampuan menentukan keakuratan bahan bacaan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, dan dapat membedakan antara fakta dan opini.

w. Kemampuan membaca dengan kecepatan yang sesuai guna memungkinkan otak memproses masukan yang diperoleh dari bahan bacaan. x.

Kemampuan menggunakan strategi membaca yang tepat, disesuaikan dengan bahan bacaan dan tujuan membaca.32

4. Masalah membaca Secara keseluruhan mata pelajaran Bahasa Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar, berkomunikasi, dan mengungkapkan pikiran dan perasaan, serta membina persatuan dankesatuan bangsa. Masalah yang dihadapi anak dalam membaca, yaitu: a. Kurang mengenali huruf b. Membaca kata demi kata yang seringkali disebabkan oleh gagal menguasai keterampilan memecahkan kode, gagal memahami makna kata, kurang lancar membaca c. Memparafrasekan yang salah d. Miskin pelafalan atau penghilangan e. Pengulangan 32

Yeti Mulyati, dkk. Keterampilan Terbuka, 2007), h. 9.4-9.6.

Berbahasa Indonesia SD, (Jakarta: Universitas

40

f. Pembalikan g. Penyisipan h. Penggantian i. Menggunakan gerak bibir, jari telunjuk, dan menggerakkan kepala j. Kesulitan konsonan, kesulitan kluster, diftong dan digraph k. Kesulitan menganalisis struktur kata l. Tidak mengenali makna kata dalam kalimat dan cara mengucapkannya.33 Sebagian besar anak belajar membaca pada usia enam atau tujuh tahun, dan dengan berkembangnya kemampuan mental di usia dewasa, anak bahkan mampu mengatasi tantangan-tantangan yang lebih besar. Ada yang menganggap dari berbagai mitos bahwa membaca itu sulit, membaca tidak boleh menggunakan jari ketika membaca, membaca harus dilakukan dengan mengeja kata per kata, dan membaca perlahan-lahan supaya dapat memahami isinya. Anggapan itu kita gantikan dengan gagasan-gagasan baru yang merupakan langkah pertama dalam menciptakan keterampilan baru membaca menjadi, membaca itu mudah, tidak ada salahnya membaca dengan menggunakan jari sebagai petunjuk, kita boleh membaca banyak kata secara sekaligus, dan kita juga boleh membaca dengan cepat dan tetap memahami isi bacaan.34

33

Isah Cahyani, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, (Bandung: UPI Press, 2007), h. 101. 34 Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. Quantum Learning, (Bandung: KAIFA, 2005), h. 252-253.

41

5. Strategi meningkatkan kemampuan membaca Tiga pokok yang perlu diperhatikan guru dalam pengajaran membaca, yaitu: a. Pengembangan aspek sosial anak, yakni: kemampuan bekerja sama, percaya diri, kestabilan emosi, dan rasa tanggung jawab b. Pengembangan fisik, yakni: pengaturan gerak motorik c. Perkembangan kognitif,yakni: membedakan bunyi, huruf, menghubungkan kata dan makna Strategi meningkatkan kemampuan membaca yaitu: 1. Pemilihan bahan ajar membaca Secara garis besar bahan ajar membaca dapat dipilah menjadi dua macam, yaitu: pramembaca dan membaca. Pengajaran pramembaca anak diperkenalkan pada tata cara membaca yang baik, misalnya, duduk yang wajar dan baik, cara meletakan buku, memegang buku dengan baik. 2. Metode pengajaran membaca Pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran membaca yang didasarkan pada kebutuhan anak dan mempertimbangkan apa yang harus dikuasai siswa. Rubin mengemukakan beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pengajaran membaca yaitu: a. Peningkatan ucapan: kegiatan difokuskan pada peningkatan kemampuan siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa

42

b. Kesadaran fonemik bunyi: difokuskan untuk menyadarkan anak bahwa kata dibentuk oleh fonem atau bunyi yang membedakan makna c. Hubungan antar bunyi-huruf: pengetahuan tentang hubungan bunyi-huruf merupakan prasyarat untuk dapat membaca d. Membedakan bunyi-bunyi: yang merupakan hal penting dalam memperolah bahasa, khususnya bahasa e. Kemampuan mengenal huruf f. Orientasi membaca dari kiri ke kanan g. Keterampilan pemahaman h. Penguasaan kosakata 3. Strategi pengucapan: ada beberapa strategi yang digunakan untuk mengenali cara mengucapkan suatu kata yaitu: analisis dan fonik, teknik pengenalan kata, meminta seseorang untuk mengucapkan satu kata untuk anda, unsurekonteks, SAS (StructuralAnalysis dan Synthetis) dan melihat pengucapan dalam kamus. 4. Strategi pengenalan makna kata Dalam pendekatan komunikatif,pengajaran bentuk bahasa sebaiknya tidak dilepaskan dari makna. Untuk mengajarkan makna kata dapat digunakan beberapa strategi berikut: a) Strategi 1: konteks memanfaatkan konteks untuk memakai kata b) Strategi 2: SAS untuk makna c) Strategi 3: bertanya kepada seseorang tentang makna suatu kata

43

d) Strategi 4: memanfaatkan kamus.35 C. Pengertian Buku Teks Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan instruksional”. Definisi buku pelajaran atau buku teks pelajaran menurut Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 11 Tahun 2005. Buku pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.36 Large menjelaskan bahwa “buku teks adalah standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri atas dua tipe, yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. Bacon mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau para ahli bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi”. Buckingham mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolahsekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran” dalam pengertian modern dan yang umum dipahami. 37 Dari berbagai pendapat ahli yang tertera di atas, dapat penulis simpulkan beberapa hal seperti berikut ini. a. Buku teks itu selalu merupakan buku pelajaran yang ditunjukkan bagi siswa pada jenjang pendidikan tertentu. Jadi, kita lihat adanya buku teks untuk SD, SMP, SMA, dan sebagainya.

35

Isah Cahyani, Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, (Bandung: Upi Press), h. 102-103. 36 http://penchenk.blogspot.com/2009/01/definisi-buku-pelajaran.diakses pada pukul 14.34 WIB, 5-05-2011 37 Henry Guntur Tarigan dan Djago Tarigan. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. (Bandung: Angkasa,2009), h. 12.

44

b. Buku teks itu selalu berkaitan dengan mata pelajaran tertentu. Ada buku teks yang mengenai matematika, sejarah, bahasa, ekonomi, dan sebagainya. Lebih khusus lagi, kita sering menjumpai buku teks, seperti bahasa Indonesia untuk SD, SMP, SMA, dan sebagainya. c. Buku teks itu selalu merupakan buku yang standar. Pengertian standar di sini ialah buku, menjadi acuan, berkualitas, dan biasanya ada tanda pengesahan dari badan yang berwenang. Di Indonesia misalnya, badan itu di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. d. Buku teks itu biasanya disusun dan ditulis oleh para pakar (ahli, ekspert) di bidang masing-masing. Di Indonesia, misalnya kita kenal nama pengarang yang ahli pada bidangnya, seperti: Sunan Takdir Alisjahbana, Ramlan, Gorys Keraf dalam bidang tata bahasa. e. Buku teks itu ditulis untuk tujuan instruksional tertentu. Buku teks mengenai keterampilan berbahasa, menyimak, ditulis untuk tujuan pengajaran menyimak tertentu.38 Berdasarkan uraian di atas dapat dsimpulkan bahwa buku teks adalah sama dengan buku pelajaran. Secara lebih lengkap dapat didefinisikan sebagai berikut “buku teks adalah buku pelajaran dalam mata pelajaran tertentu yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu buat maksud-maksud dan tujuan intruksional, yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang sesuatu program pengajaran.

38

Ibid,. h. 13.

45

1. Fungsi Buku Teks Dunia kita kini adalah dunia buku. Betapa pentingnya buku dalam kehidupan pada masa modern. Dengan pertolongan buku-buku ilmu pengetahuan dapat dihimpun ke dalam suatu wadah yang selalu tersedia secara permanen.Bukubuku teks merupakan sarana penting dan ampuh bagi penyediaan dan pemenuhan pengalaman tidaklangsung dalam jumlah yang besar dan terorganisasi rapi. Banyak cara efektif yang dilakukan oleh para siswa dalam menggunakan serta memanfaatkan buku mereka, antara lain, dengan cara melatih mereka membaca intensif. Guru hendak menjelaskan bahwa nilai buku teks bergantung pada penggunaannya bagi tujuan mempelajari keuntungan-keuntungan khusus buku tersebut.

Buckingham

membagi

keuntungan-keuntungan

khas

itu

dapat

dikelompokan menjadi: a. Kesempatan mempelajarinya sesuai dengan kecepatan masing-masing. b. Kesempatan untuk mengulangi atau meninjau kembali. c. Kemungkinan mengadakan pemeriksaan atau pencekan terhadap ingatan. d. Kemudahan untuk membuat catatan-catatan bagi pemakaian selanjutnya. e. Kesempatan khusus yang dapat ditampilkan oleh sarana-sarana visual dalam menunjang upaya belajar dari sebuah buku. Greene dan Petty telah merumuskan beberapa peranan buku teks tersebut sebagai berikut: 1. Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan.

46

2. Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject-matteryang kaya, mudah dibaca, dan bervariasi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan ketika keterampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya. 3. Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi. 4. Menyajikan bersama-sama dengan buku manual yang mendampingi metodemetode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi para siswa. 5. Menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi pelatihan-pelatihan dan tugas-tugas praktis. 6. Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.39 Dari uraian-uraian di atas, tergambar bahwa peranan buku teks ternyata berkaitan erat dengan kurikulum, lebih-lebih dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Buku teks sebagai pengisi bahan haruslah menampilkan sumber bahan yang mantap. Susunannya teraturdan sistematis. Jenisnya bervariasi dan kaya. Daya penariknya kuat karena sesuai dengan minat siswa, bahkan memenuhi kebutuhan siswa. Lebih dari itu, buku teks itu menantang, merangsang serta menunjang aktivitas dan kreativitas siswa.

39

Ibid., h. 17.

47

2. Kualitas Buku Teks Buku adalah kunci kearah gudang ilmu pengetahuan. Siapa yang ingin maju dan pandai haruslah menggunakan manfaat buku. Buku memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Banyak hal yang dapat dipelajari dari buku. Bahkan, dapat dikatakan hamper semua segi kehidupan manusia direkam dalam buku. Bagi seorang pelajar salah satu buku yang sangat diperlukan ialah buku teks atau buku pelajaran. Buku teks berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajarmengajar dalam mata pelajaran tertentu. Semakin baik kualitas buku teks, semakin sempurna pengajaran mata pelajaran yang ditunjang. Buku teks mengenai Bahasa Indonesia bermutu tinggi akan meningkatkan kualitas pengajaran dan hasil pengajaran bahasa Indonesia, dan seterusnya. Greene dan Petty telah menyusun cara penilaian buku teks dengan sepuluh kriteria. Apabila buku teks dapat memenuhi 10 berkualitas. Butir-butir yang harus dipenuhi oleh buku teks yang tergolong nategori berkualitas tinggi, antara lain: a. Buku

teks

harusmenarik

minat

anak-anak,

yaitu

para

siswa

yang

mempergunakannya; b. Buku teks harus mampu member motivasi kepada para siswa yang memakainya; c. Buku

teks

harus

memuat

ilustrasi

yang

menarik

para

siswa

yang

memanfaatkannya; d. Buku teks seyogianya mempertimbang aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya;

48

e. Buku teks isinya harus berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya; lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan rencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu; f. Buku teks harus dapat menstimulasi, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya; g. Buku teks harusdengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samarsamar dan tidak biasa, adar tidak sempat membimbing para siswa yang memakainya; h. Buku teks harus mempunyai sudut pandang atau “point of view” yang jelas dan tegas sehingga juga yang pada akhirnya menjadi sudut pandang para pemakaiannya yang setia; i. Buku teks harus mampu member pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa; j. Buku teks itu harus dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para siswa pemakainya.40 Kriteria yang dikemukakan oleh Greene dan Petty

di atas, dapat

diidentifikasi sepuluh butir yang dipakai sebagai titik tolak dalam penentuan kualitas buku teks. Butir-butir itu meliputi minat siswa, motivasi, ilustrasi, kejelasan konsep, titik pandang, pemantapan nilai, dan menghargai perbedaan pribadi. Ada beberapa perubahan atau tambahan yang dapat kita terapkan kepada kriteria di atas. Pertama, mengenai urutan atau susunannya. Kedua, mengenai

40

Ibid,. h. 20-21

49

peristilahan. Dan yang ketiga, mengenai penambahan kriteria. Sementara itu, mengenai urutannya disusun seperti berikut: titik pandang, kejelasan konsep, relevansi,

minat,

motivasi,

menstimulasi

aktivitas,

ilustrasi,

komunikatif,

menunjang pelajaran lain, menghargai perbedaan individu, dan menetapkan nilainilai. Dapat dikemukakan pedoman penilaian buku teks sebagai berikut: a) Sudut pandang Buku teks harus mempunyai landasan, prinsip, dan sudut pandang tertentu yang menjiwai atau melandasi buku teks secara keseluruhan. Sudut pandang ini dapat berupa teori dari ilmu jiwa, bahasa, dan sebagainya. b) Kejelasan konsep Konsep-konsep yang digunakan dalam suatu buku teks harus jelas dan tandas. Keremengan-keremengan dan keamanan perlu dihindari agar siswa atau membaca juga jelas pengertian, pemahaman, dan penangkapannya. c) Relevan dengan kurikulum Buku teks ditulis untuk digunakan di sekolah .Sekolah mempunyai kurikulum. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bahwa buku teks harus relevan dengan kurikulum yang berlaku. d) Menarik minat Buku teks ditulis untuk siswa. Oleh karena itu, penulis buku teks harus mempertimbangkan minat-minat siswa pemakai buku teks tersebut. Semakin sesuai buku teks dengan minat siswa, semakin tinggi daya tarik buku teks tersebut. e) Menumbuhkan motivasi

50

Motifasi berasal dari kata “motif” yang berarti daya pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu motivasi diartikan sebagai penciptaan kondisi yang ideal sehingga seseorang ingin, mau, dan senang mengerjakan sesuatu. Buku teks yang baik ialah buku teks yang dapat membuat siswa, ingin, mau, senang mengerjakan apa yang diinstruksikan dalam buku tersebut. Apalagi bila buku teks tersebut dapat menggiring siswa kearah penumbuhan motivasi intrinsik. f) Menstimulasi aktivitas siswa Buku teks yang baik ialah buku teks yang merangsang, menantang, dan menggiatkan aktivitas siswa. Selain tujuan dan bahan, faktor metode sangat menentukan dalam hal ini. g) Ilustratif Buku teks harus disertai dengan ilustrasi yang mengena dan menarik. Ilustrasi yang cocok pastilah memberikan daya penarik tersendiri serta memperjelas hal yang dibicarakan. h) Buku teks harus dimengerti oleh pemakaiannya, yaitu siswa. Pemahaman harus didahului oleh komuniasi yang tepat. Faktor utama yang berperan di sini adalah bahasa. Bahasa buku teks haruslah: sesuai dengan bahasa siswa, kalimatkalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan, menarik. i) Menunjang mata pelajaran lain Buku teks mengenai bahasa Indonesia, misalnya, di samping menunjang mata pelajaran bahasa Indonesia, juga menunjang mata pelajaran lain. Melalui pengajaran bahasa Indonesia, pengetahuan siswa dapat bertambah dengan soalsoal Sejarah, Ekonomi, Matematika, dan sebagainya.

51

j) Menghargai perbedaan individu Buku

teks

yang baik,

tidak

membesar-besarkan

perbedaan

individu

tertentu.Perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya. k) Memantapkan nilai-nilai Buku teks yang baik berusaha untuk memantapkan nila-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Urian-uraian yang menjurus kepada penggoyahan nilai-nilai yang berlaku pantas dihindarkan.41 3. Keterbatasan Buku Teks Di antara beraneka ragam jenis buku yang beredar, salah satu jenis buku yang paling vital dan fungsional bagi siswa. Bila kita ingin hasil pengajaran setiap mata kuliah atau mata pelajaran berkualitas tinggi, buku teks bagi setiap mata pelajaran harus dilengkapi, dibantu, dan ditunjang oleh buku pendamping lainnya, seperti: a. Buku suplemen (tambahan) bagi buku pokok; b. Buku pegangan guru; c. Buku sumber atau buku acuan lainnya yang relevan. Buku suplemen berfungsi sebagai buku kerja yang menuntun siswa untuk berlatih, berpraktik atau mencobakan teori-teori yang sudah dipelajari pada buku pokok. Buku pegangan guru merupakan buku penuntun bagi guru dalam mengelola interaksi belajar-mengajar dalam mata pelajaran yang relevan. Kedua buku inipun harus ditunjang oleh buku acuan lainnya. Guru harus memadukan buku acuan

41

Ibid., h. 22-24

52

dengan buku teks agar bahan, metode, dan media pengajaran semakin lengkap, sempurna dan mutakhir. Greene dan Petty telah mengidentifikasikan keterbatasan buku teks. Keterbatasan buku teks itu, antara lain: a) Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar (walaupun beberapa kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya) tetapi merupakan suatu sarana pengajaran. b) Isi yang disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar dipadu secara artificial atau secara buatan saja bagi setiap kelas tertentu. c) Pelatihan-pelatihan dan tugas-tugas praktis agaknya kurang memadai karena keterbatasan-keterbatasan dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu banyaknya praktik-praktik, pelatihan yang perlu dilaksanakan secara perbuatan. d) Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit dan singkat karena keterbatasanketerbatasan ruang, tempat, atau wadah yang tersedia di dalamnya. e) Pertolongan-pertolongan atau bantuan-bantuan yang berkaitan dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah mengevaluasi keseluruhan yang diinginkan. 4. Jenis-Jenis Buku Teks Di lingkungan Sekolah Menengah Atas, dikenal beberapa nama buku teks. Misalnya, buku teks dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Di perguruan tinggi, ada berbagai jenis buku teks. Di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai contoh kita kenal buku teks matakuliah Tata Bahasa (Sintaksis dan Morfologi), Menyimak, Membaca, Apresiasi Sastra, dan sebagainya.

53

Buku teks tunggal, buku teks berjilid, dan buku teks berseri. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa buku teks mempunyai aneka jenis atau ragam. Dari segi cara penulisan buku teks dikenal tiga jenis buku teks. Ketiga jenis itu adalah: A. Buku teks tunggal Buku teks tunggal ialah buku teks yang hanya terdiri atas satu buku saja. Berikut ini didaftarkan beberapa contoh buku teks tunggal, antara lain: a) Kerap, Gorys. 1973. Tata Bahasa Indonesia untuk SLA. Ende Flores: Nusa Indah. b) Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Penerbit Angkasa. c) Tarigan, Henry Guntur. 1983. Membaca, Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bndung: Angkasa. B. Buku teks berjilid Buku teks berjilid ialah buku peljaran untuk suatu kelas tertentu atau untuk satu jenjang sekolah tertentu. Berikut ini didaftarkan beberapa contoh buku teks berjilid, seperti: 1. Depdikbud. 1981. Bahasa Indonesia 1, H dan III. Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pelajaran, Perpustakaan & keterampilan SLU 2. Alisyahbana, Sutan Takdir. 1975. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia 1 dan II. Jakarta: Dian Rakyat.

54

C. Buku teks berseri Buku teks berseri ialah buku pelajaran berjilid mencakup beberapa jenjang sekolah, misalnya, dari SD, SMP, dan SMA. Berikut ini disajikan satu contoh buku teks berseri. 1. Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1985. Terampil Berbahasa Indonesia, (untuk SD-9 jilid). Bandung: Angkasa 2. Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1985. Terampil Berbahasa Indonesia, (untuk SMP-6 jilid). Bandung: Angkasa Berdasarkan jumlah penulis buku teks, kita kenal buku teks dengan penulis tunggal dan buku teks dengan penulis kelompok. Penulis tunggal ialah penulis yang menyiapkan buku teks tertentu seorang diri. Penulis kelompok ialah penulis yang terdiri atas beberapa orang untuk menyiapkan buku teks tertentu. Baik penulis perseorangan maupun penulis tim mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Dalam tulisan ini, pembicaraan kita titik-beratkan pada penulis tim. Keunggulan penulis tim itu, antara lain: a. Dapat membagi-bagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing; b. Menghemat waktu dan tenaga; c. Target dapat dicapai sesuai dengan jadwal kerja; d. Dapat saling mengisi dan mengontrol satu sama lain. Di samping keunggulan yang telah kita uraikan tadi, penulis pun tidak jarang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, antara lain: Susahnya kadang-kadang memadukan pandangan dia antara sesame anggota;

55

a) Karena tugas setiap anggota telah dibagi secara khusus, tidak jarang tidak terdapat lagi keterpaduan yang utuh; b) Karena setiap anggota sudah dianggap ahli dalam bidangnya, sering pengawasan atas kontrol kurang diperhatikan (oleh ketua tim); c) Kesinambungan dan keutuhann terkadangsukar untuk dikontrol dan dicapai; d) Tidak jarang terjadi pengulangan atau tumpang tindih sesuatu subpokok bahasan dalam suatu kelas atau jenjang pendidikan tertentu; e) Setiap anggota tim mempunyai gaya (bahasa, menulis) khas sehingga tidak mempunyai keutuhan gaya lagi; f) Adanya anggota yang tidak taat menuruti jadwal penulisan sehingga target waktu sukar tercapai.42 5. Strategi Pengorganisasian Pembelajaran Berdasarkan Urutan Buku Teks Buku teks merupakan penerapan dan pengembangan dari instructional design yang lebih menekankan pada prinsip-prinsip yang diadopsi dari teori dan temuan

penelitian

tentang

belajar.

Orientasi

buku

teks

adalah

untuk

mengoptimalkan kegiatan belajar dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, buku teks harus dapat menyajikan bahan pembelajaran yang bermakna bagi siswa sebagai subjek yang belajar. Dalam kaitan ini Association Of Educational Communications and Technology (AECT) dalam

42

Henry Guntur Tarigan dan Djago Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung: Angkasa, 2009), h.11-33.

56

definisi teknologi pendidikan mempertegas bahwa pemahaman terhadap suatu informasi dapat terjadi apabila bahan yang dipelajari bermakna bagi pembacanya. 43 Agar buku teks sebagai sumber belajar menjadi bermakna bagi siswa, maka pengorganisasian buku teks tersebut harusmemiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dengan buku-buku lainnya. Karakteristik yang perlu diperhatikan dalam merancang buku teks antara lain (1) isi pesannya harus dianalisis dan diklasifikasi ke dalam kategori-kategori tertentu, (2) setiap kategori harus dipenggal menjadi beberapa penggalan teks, (3) perlu ada penyajian format visualisasi untuk memberikan kemenarikan isi, (4) kategori format judul yang berisi bahan harus diseleksi.44 Dalam upaya menghasilkan sajian buku teks yang efektif dalam menunjang keberhasilan proses belajar-mengajar, hal yang tidak dapat diabaikan adalah menjadikan buku teks tersebut menjadi prasyarat bagi pembaca untuk belajar berikutnya, atau menjadi pengetahuan yang baru bagi pembaca. 6. Prinsip Penyusunan Materi Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Kenyataan di lapangan (dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari) menunjukkan materi pembelajaran yang disajikan oleh guru kepada siswa sudah tersedia dalam bentuk Buku Teks, yang disebut buku pelajaran. “Natawidjaja dalam Budinuryanta mengatakan bahwa buku pelajaran terutama buku pelajaran utama merupakan penjabaran bahan pelajaran yang ditata dan disajikan untuk menunjang

43

Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan (et) Munandir, Seri Pustaka Teknologi pendidikan No. 11, (Jakarta: Rajawali bekerja sama dengan PAU di UT, 1991), hlm. 237247 44 Association mof Educational Communications and Technology (AECT), The Definition of Educational Terminology (et) Yusufhadi Miarso, dkk, Definisi Teknologi Pendidikan Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm. 118

57

pencapaian tujuan kurikulum dari bidang studi atau matapelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian, prinsip penyusunan materi pembelajaran (pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia) sesungguhnya adalah prinsip penyusunan Buku Teks/Buku Teks Indonesia”45. Menurut Abdul Syukur Ibrahim dan kawan-kawan ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip penyusunan Buku Teks (Buku Teks Bahasa Indonesia) yaitu sebagai berikut. a. Kurikulum dan Buku Teks Bahasa Indonesia Sesuai dengan fungsinya, Buku Teks haruslah sejajar dengan kurikulum, dalam arti Buku Teks akan dapat menunaikan fungsinya jika bahan pelajaran yang ada dalam Buku Teks itu sendiri dari topik-topik yang sejajar dengan topik-topik bahan pelajaran seperti yang disarankan atau ditentukan dalam silabus kurikulum. Tanpa ada kesejajaran antara kondisi topik Buku Teks dengan topik silabus kurikulum, secara langsung atau tidak, akan menjadikan hambatan bagi kegiatan belajar-mengajar bahasa. b. Ilmu Jiwa Belajar dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Broughton di dalam Budinuryanta mengatakan bahwa “Ilmu jiwa menyelidiki bagaimana bahasa itu dipelajari. Berdasarkan teori-teori dalam ilmu jiwa dihasilkan berbagai metode pengajaran bahasa, termasuk di dalamnya pengelolaan kelas, teknik bertanya, perencanaan pelajaran, strategi mengajar, dan bermacam-macam teknik yang dapat digunakan guru didalam kelas.”46

45

Budinuryanta Y, dkk, Pengajaran Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Universitas Terbuka,2008), h. 225. 46 Ibid., h. 2.26

58

c. Linguistik/Linguistik Terapan dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Loban et al. (1961) menyarankan bahwa bahan pelajaran dalam BTBI haruslah didasarkan pada deskripsi bahasa yang hendak diajarkan. Dengan deskripsi ini siswa diharapkan mengenal dan memahami pemakaian bahan sebagaimana adanya sehingga mereka akan lebih mudah menguasai kaidah bahasa yang dipelajarinya.47 Pada akhirnya, rencana pelajaran atau program pengajaran bahasa harus disusun dengan mengambil linguistik terapan sebagai sumber karena tanpa hal ini pertimbangkan terhadap masalah bahasa yang diajarkan telah menyimpang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa aplikasi pengetahuan linguistik dan linguistik terapan merupakan jawaban yang tepat yang harus sudah dipertimbangkan pada awal perancangan Buku Teks/BTBI karena linguistik menyediakan materi bahasanya, sedangkan linguistik terapan terlibat pada masalah pemlihan data bahasa, organisasi, dan penyajian data bahasa dalam bentuk bahan pengajaran. 7. Penyajian Buku Teks Bahasa Indonesia (BTBI) Penyajian sebuah Buku Teks/BTBI hendaknya meliputi empat hal, yaitu: a. Ruang Lingkup Materi Dengan didasarkan pada prinsip-prinsip penyusunan Buku Teks/BTBI di atas, ditetapkan ruang lingkup materi sebagai berikut. (1) keterampilan reseptif yang meliputi: (a) keterampilan memahami bahasa lisan dan (b) keterampilan memahami bahasa tulisan, (2) keterampilan produktif, yaitu: (a) keterampilan memproduksi bahasa lisan dan (b) keterampilan memproduksi bahasa tulis.

47

Ibid., h. 2.27

59

Dari jabaran ruang lingkup materi itu, dapat dikatakan bahwa materi BTBI mencakup dua hal pokok, yaitu: (1) penguasaan kaidah-kaidah BI dan (2) keterampilan menerapkan kaidah itu dalam komunikasi aktual. 1. Penguasaan Kaidah Bahasa Indonesia Kaidah-kaidah bahasa yang sebaiknya tersaji di dalam BTBI meliputi: (a) sistem bunyi BI, (b) sistem bentuk BI, (c) system kalimat BI, (d) sistem makna, (e) sistem ejaan tata penulisan, dan (f) kaidah wacana BI. 2. Keterampilan Menerapkan Kaidah Kaidah itu harus digunakan dalam konteks komunikasi yang sebenarnya. Berkaitan dengan masalah itu, Corder mengatakan bahwa dalam pemilihan modal pengajaran bahasa ada dua hal yang harus dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut. a) Faktor sosial politik, yakni sikap masyarakat pemakaian bahasa terhadap bahasa yang diajarkan dan sikap masyarakat tempat si belajar berada terhadap bahasa si belajar. b) Faktor potensial komunikatif, yaitu kemampuan si belajar dalam menggunakan bahasa yang dipelajari dalam komunikasi aktual. b. Pembatasan Masalah Bahan yang terlalu luas mengakibatkan kurang terarahnya suatu program. Oleh karena itu, perlu diadakan pembatasan. Adapun norma pembatasan materi yang hendaknya dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

60

1. Kemampuan siswa Yang dimaksud dengan kemampuan siswa, yakni: (1) kemampuan intelektual yang didasarkan pada usia mereka, dan (2) latar belakang bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa lain yang dipelajarinya. 2. Waktu yang tersedia Dalam hal ini waktu dapat ditafsirkan secara formal, yaitu waktu yang disediakan oleh kurikulum. Di samping itu, dapat juga ditafsirkan informal, yaitu waktu yang disediakan oleh pendidik untuk kegiatan di luar kelas. 3. Tujuan program Tujuan program adalah agar siswa mengawasi kaidah-kaidah BI dan dapat menerapkannya dalam komunikasi. c. Sistematika Penyajian Bahan Agar materi pelajaran bahasa tidak menjadi “hafalan” yang dapat mengakibatkan pelajaran bahasa menjadi pelajaran yang membosankan, strategi penyajian bahan dalam BTBI dapat dilakukan sebagai berikut. 1. Sesuai dengan usia siswa BTBI sudah dapat mulai menyajikan kaidah-kaidah bahasa. 2. Penyajian kaidah dapat dilakukan baik secara induktif maupun deduktif. 3. Penguasaan kognitif, yaitu kaidah-kaidah perlu disertai dengan aktivitas yang berpusat pada siswa, yaitu berupa latihan-latihan penerapan kaidah dala, komunikasi actual. 4. Penguasaan aspek kognitif latihan penerapan kaidah bahasa itu dapat ditingkatkan menjadi keterampilan kreatif berupa kegiatan produktif yang bersumber pada diri siswa.

61

d. Evaluasi Dalam Buku Teks/BTBI sebaiknya disertakan pula butir-butir yang menyarankan pengukuran kemampuan siswa. Butir-butir yang perlu dimaksudkan meliputi: (1) tes tentang kaidah-kaidah BI , (2) instruksi mengenai pemancingan keterampilan penggunaan kaidah BI, khususnya dalam komunikasi aktual, dan (3) rambu-rambu yang memancing dan sekaligus membimbing mereka berekspresi kreatif.48

48

Budinuryanta Y, dkk, Pengajaran Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Universitas Terbuka,2008), h. 2.28-2.30.

62

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di MTs Islamiyah Ciputat adapun waktu penelitian tersebut dilaksanakan pada bulan Juli 2011. B. Sumber Data Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subjek darimana data dapat diperoleh. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat pada semester genap tahun ajaran 2011. C. Populasi dan Sampel Populasi adalah himpunan keseluruhan objek yang diselidiki49. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MTs. Islamiyah Ciputat yang berjumlah 225 siswa. Sedangkan populasi terjangkaunya adalah siswa VIII MTs Islamiyah yang berjumlah secara keseluruhan 78 siswa. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.50Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 36 siswa dari populasi terjangkau. Pengambilan sampel dilakukan dengan sampling purposive dikenal juga sebagai sampling pertimbangan yaitu terjadi apabila pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan

49

Sardjana, Satatistik Elementer, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h. 2. Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: ALFABETA, 2009), h. 62.

50

62

63

peneliti. Hanya mereka yang dianggap ahli yang patut memberikan pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan.51 D. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia adalah metode deskriptif, yaitu metode untuk memahami masalah berdasarkan fenomena atau gejala pada saat penelitian berlangsung.Penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu kelompok atau masyarakat tertentu atau orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih.52 Dalam kaitan ini penggunaan metode deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk melihat bagaimanakah minat membaca buku pelajaan bahasa Indonesia siswa kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat. E. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, angket, dan wawancara. 1. Observasi Suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Dalam observasi ini penulis akan melihat sejauh mana minat membaca siswa kelas VIII terhadap pelajaran bahasa Indonesia yang dikaitkan setelah mereka membaca .

51 52

Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung:Tarsito, 2005), h. 168. Irwan Suhartono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Eresco, 1995) , h. 87.

64

2. Angket Memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Adapun

yang dimaksud dengan responden di sini adalah siswa-siswi

kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat. 3. Wawancara Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan sumber data. F. Instrumen penelitian Instrumen yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pernyataanpernyataan berupa angket, yang kemudian diberikan kepada objek penelitian, yaitu siswa-siswi yang peneliti pilih dan menjadi sampel dalam penelitian. Selain angket di atas, peneliti juga menggunakan instrumen wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada guru bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang penelitian mata pelajaran bahasa Indonesia.

65

Tabel 1 Kisi-kisi Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Variabel

Indikator

No. soal

Jumlah

Minat membaca buku Perasaan

1, 2, 6, 15, 13, 17,

8

pelajaran

19

Bahasa senang

Indonesia Perasaan

3,4, 9, 12, 14, 18

6

7, 8, 10, 11, 16, 20

6

5,

1

tertarik Memiliki pengetahuan Semangat Jumlah

20

G. Teknik Analisis Data Untuk mengolah data angket yang telah penulis sebarkan kepada responden, penulis menggunakan teknik sebagai berikut. 1. Skoring Untuk menentukan skoring dalam hasil penelitian ini, penulis menyusun alternatif jawaban. Untuk jawaban tinggi (A) mendapat nilai 4, jawaban yang menengah (B) mendapatkan nilai 3, jawaban (C) mendapatkan 2 dan jawaban (D) 1.

66

2. Rumus Berdasarkan teknik pengumpulan data yang menggunakan angket, maka cara menganalisis data dengan menggunakan skala prosentase, dengan rumus sebagai berikut: P = F X 100 N Keterangan: P = Presentasi % F = Frekuensi (jawaban responden terhadap salah satu alternatif jawaban) N = Number of case (jumlah responden)

67

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat 1. Sejarah Singkat Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat Madrasah Tsanawiyah Islamiyah adalah salah satu unit yang ada dibawah Yayasan Islamiyah Ciputat.Pada mulanya madrasah ini bernama PGA yang berdiri pada tahun 1960. Gedung yang pertama bertempat di depan gedung IAIN (sekarang UIN), tepatnya yang sekarangmenjadi klinik UIN. Madrasah tersebut diberi nama PGA Islamiyah. Pada tahun 1965 PGA Islamiyah pindah ke Al-hidayah (sekarang Plaza Ciputat). Setelah dari Alhidayah PGA Islamiyah pindah lagi ke Jl. Pendidikan Kampung Sawah (sekarang Jl. Ki Hajar Dewantara No. 23 Ciputat), dengan tetap memakai nama PGA Islamiyah. Nama PGA Islamiyah bertahan sampai tahun 1974 dan pada tahun 1975 karena adanya pemekaran, maka Madrasah Tsanawiyah berganti nama dan dipecah menjadi dua lembaga yaitu Madrasah Tsanawiyah Islamiyah dan Madrasah Aliyah Islamiyah sampai sekarang. Madrasah Tsanawiyah menginduk ke Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang DKI Jakarta dari tahun 1975 sampai tahun 1990. Karena pada tahun 1990 ada pemisahan wilayah yaitu ke wilayah Jawa Barat dan menginduk ke Madrasah Tsanawiyah Negeri II Pamulang. Status Madrasah Tsanawiyah Islamiyah terus meningkat dari mulai terdaftar, diakui, dan sekarang sudah disamakan. Dengan statusnya yang disamakan itu Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat berhak melaksanakan ujian dan menandatangani ijazah sendiri. Madrasah Tsanawiyah didirikan oleh para tokoh

67

68

masyarakat dan bahkan tokoh nasional. Mereka itu antara lain Drs. Zarkasih Nur, H. Munir, BA, Hj. Muniroh, Drs. Saiful Milah, Drs. H. Arifin (Alm) dan bapak Jayadi Nur (Alm). Adapun tujuan didirikannya Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat adalah “membentuk generasi muda muslim yang berkualitas dalam ilmu dan amal”. 2. Visi “Unggul dalam Iman, Ilmu dan Amal” 3. Misi a. Membentuk siswa yang berakhlakul karimah b. Meningkatkan Prestasi Siswa c. Mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi d. Melatih dan membimbing siswa yang selalu ikhlas dalam tindakan maupun perbuatan. 4. Tujuan MTs Islamiyah Generasi penerus bangsa yang unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ yang merupakan benteng menuju manusia masa depan. 5. Strategi MTs Islamiyah merupakan lembaga pendidikan yang berdiri sejaka tahun 1978, sampai saat ini kiprahnya sebagai sekolah pencetak pioner-pioner bukan hanya ilmuan tetapi sudah banyak da’i – da’I, tokoh masyarakat, serta kepala daerah merupakan lulusan MTs Islamiyah sejak 30 tahun yang lalu.

69

MTs Islamiyah berdomasili di jalan Kihajar Dewantoro No 23 Ciputat Tangerang Selatan Banten dan secara geografis terletak di jantung kota Ciputat. Sehingga sangat mudah di jangkau dari segala arah. Program kedepan MTs Islamiyah menitik beratkan pada upaya peningkatan kualitas pendidikan dan lulusan, serta pembinaan akhlak mulia sesuai dengan visi dan misinya. Hal lain terus menjadi target strategi MTs dan tidak kalah pentingnya yaitu melatih peserta didik untuk mampu trampil di dalam masyarakat dan bagian dari masyarakat yang mampu menyampaikan ide, hadist Rosulullah, serta isi Al-quran melalui kegiatan pengabdian masyarakat. MTs Islamiyah merupakan lembaga pendidikan menengah setingkat dengan SLTP yang berdasarkan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan sangat berpegang teguh kepada Al-quran dan Hadits sehingga out put dari lembaga ini diharapkan mampu berkiprah di masyarakat manapun dan golongan apapun sebagai manusia Indonesia yang berakhlakul karimah. 6. Keadaan guru dan siswa MTs Islamiyah Ciputat Dalam proses belajar mengajar terdapat komponen-komponen yang saling mendukung satu sama lain. Untuk kelancaran belajar mengajar. Komponenkomponen tersebut yaitu guru, siswa dan saranaprasarana. Ketiga komponen tersebut sangat penting dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Guru adalah salah satu komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena tanpa ada guru, proses belajar mengajar pun tidak akan berjalan

70

dengan baik. Disamping itu guru mempunyai hak secara utuh untuk membimbing dan mengarahkan muridnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya ditangani oleh beberapa guru yang ahli pada bidangnya. Adapun nama-nama guru tersebut sebagaimana terlampir dalam kolom berikut ini. Tabel 2 Nama Guru di MTs. Islamiyah NO

NAMA GURU

MATA PELAJARAN

1

Hj. Yurnelis, BA

Bahasa Inggris

2

Dra. Ch. Suhartini

Pendidikan Kewarganegaraan

3

Dra. Ecin Kuraesin

Bahasa Indonesia

4

Dra. Tatu Uyainah

Alquran Hadits

5

Dra. Masnah

Sejarah Kebudayaan Islam

6

Drs. Aris Herdiana

Fiqih

7

Hikmatullah, Spd

Komputer

8

Aep Saefullah

Matematika

9

Drs. Mutholib

Ilmu Pengetahuan Alam

10

Drs. Hilmudin

Ilmu Pengetahuan Sosial

11

Amirullah, Spd

Baca-Tulis-Quran

12

Tatang Sudrajat, Spd

Bahasa Indonesia

13

Ahmad Djuanda, SE

Ilmu Pengetahuan Sosial

14

Anna Saraswati, Ss

Bahasa Arab

15

Yulia Ruhamayanti, Spd

Kesenian

71

16

M. Hartanto, Spd

Fisika

Selain guru komponen yang tidak kalah penting adalah siswa. Siswa mempunyai peranan yang sangat penting pula dalam proses belajar

mengajar

karena tanpa siswa proses belajar mengajar tidak akan terjadi. Siswa MTs Islamiyah Ciputat kelas 1-3 pada tahun pelajaran 2010-2011 tercatat sebagai berikut. Tabel 3 Jumlah Siswa MTs. Islamiyah Ciputat Tahun pada Ajaran 2010-2011

Kelas

Jurusan

Jumah

Jumlah Siswa

Jumlah

Rombel

Awal Tahun

Keseluruhan

L

P

Awal Tahun

VII

Agama

2

56

26

82

VIII

Agama

2

29

45

74

IX

Agama

2

31

38

69

6

116

109

225

Jumlah

7. Sarana dan Prasarana Selain guru, murid, sarana dan prasarana pun merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam menunjang terlaksananya proses belajar mengajar, karena dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai maka proses belajar mengajar

72

akan berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika sarana dan prasarana kurang memadai maka proses belajar mengajar pun menjadi kurang efektif. Dalam hal sarana dan prasarana ini MTs Islamiyah Ciputat memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut. Tabel4 Keadaan sarana dan prasarana MTs. Islamiyah ciputat Lantai

Jumlah

Ukuran

Keterangan Ruang Kepala dan

1

2

8x8M

Wakil 1

8 x 8 M2 Ruang Tata Usaha

I

1

8 x 8 M2 Ruang Lab. Komputer

1

10 x 12 M2 Mushalla

2

2 x 2 M2 WC

II

4

8 x 8 M2

Ruang Belajar

1

8 x 8 M2

Ruang Guru

1

8 x 8 M2

Ruang Lab. IPA

1

8 x 8 M2

Ruang Perpustakaan

1

2 x 3 M2

Ruang BP

73

3

8 x 8 M2

Ruang Belajar

1

2 x 3 M2

Ruang OSIS

17

670 M2

III

Jumlah

8. Rencana Strategi (Renstra) MTs Islamiyah dibuat dalam 3 tahap, yakni: A. Rencana Strategi Jangka Pendek, meliputi 1. Menyampaikan Ilmu Pengetahuan Umum

dan Agama kepada peserta

didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas. 2. Pembinaan agama, serta sopan, ramah dalam pergaulan dan berakhlakul karimah. 3. Memberi keterampilan Da’wah dan seni dalam bidang muhadhoroh dan pentas baik di dalam maupun di masyarakat. B. Rencana Strategi Jangka Menengah, meliputi: a. Mampu berkiprah di kelompok kerja madrasah (KKM) dengan program Dakwah dan IPTEK melalui kegiatan lomba pentas proseni. b. Pengentasan Buta, Baca, Tulis Al-quran untuk perwujudan nyata sebagai lembaga pendidikan islam. C. Rencana Strategi Jangka Panjang 1. Membentuk Ikatan Alumni/Forum Alumni yang berperan menampilkan mutu MTs melalui informasi Alumnus yang sudah berkiprah dan mengabdi di masyarakat sebagai da’i - da’i, tokoh masyarakat dan umaroh.

74

2. Menjadikan MTs Islamiyah sebagai lembaga pendidikan yang berstandar Nasional dan standar Internasional. B. Hasil Analisis Data 1. Observasi Tahap observasi dilakukan pada pengamatan langsung di Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat yakni pada saat kegiatan belajar mengajar. Pengamatan ini dilakukan oleh penulis, penulis mengamati siswa ataupun guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Setelah kegiatan belajar mengajar di kelas selesai, kemudian penulis mewawancarai langsung kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas. Berdasarkan hasil observasi yang terlampir penulis menyimpulkan bahwa untuk kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat dipilih berdasarkan tingkat kemampuan dan minat siswa.Bagi siswa untuk mata pelajaran bahasa Indonesia sangat memahaminya. Tetapi ada juga siswa yang masih sulit untuk memahami mata pelajaran bahasa Indonesia kurangnya fasilitas sarana dan prasarana.Oleh karena itu, tingkat minat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat masih perlu ditingkatkan lagi dengan memberikan motivasi dan melengkapi sarana dan prasarana. 2. Angket Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan tujuan dapat menarik kesimpulan dengan baik. Pengolahan data yang masuk ditempuh dengan cara menganalisis dan menafsirkan tiap-tiap data dari masing-masing responden atau individu.

75

Setelah diperoleh data dari hasil angket, kemudian data tersebut diolah dalam bentuk tabel deskripsi persentase dengan menggunakan rumus. P = F X 100 N Keterangan: P = Presentasi % F = Frekuensi (jawaban responden terhadap salah satu alternatif jawaban) N = Number of case (jumlah responden) Adapun sejumlah pernyataan yang penulis berikan kepada para responden dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: Tabel 5 Sikap Siswa Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif jawaban

Responden

%

Sangat senang

10

27,7

Senang

21

58,3

Biasa saja

5

13,8

Tidak menyenangkan

-

-

36

100

Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 27,7% sikap siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia menjawab merasa sangat senang, 58,3% menjawab

76

senang, dan 13,8% menjawab biasa saja. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa merasa senang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dan sedikit sekali siswa yang merasakan biasa saja ketika mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 6 Nilai Bahasa Indonesia Alternatif jawaban

Responden

%

-

-

Bagus

26

72,2

Kurang bagus

2

5,5

Sedang

8

22,2

Jumlah

36

100

Sangat bagus

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai pelajaran Bahasa Indonesia siswa menjawab bagus yaitu 72,2 %, 5,5 kurang bagus, dan 22,2 sedang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai bahasa Indonesia siswa bagus. Artinya, siswa sangat memahami pelajaran bahasa Indonesia dan sedikit sekali nilai siswa kurang bagus.

77

Tabel 7 Berminat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif jawaban

Responden

%

25

69,4

Tidak

-

-

Biasa saja

7

19,4

Ragu-ragu

4

Jawaban

36

Ya

100

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa siswa sangat berminat sekali membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sangat besar sekali hingga mencapai 69,4%, dan sisanya 19,4% menjawab biasa saja. Hal ini dapat disimpulkan bahwa peran guru bahasa Indonesia di sekolah sangat berperan dalam membangkitkan minat siswa untuk membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 8 Sikap Mendapatkan Nilai Bahasa Indonesia Kurang Bagus Alternatif jawaban

Responden

%

36

100

Banyak membaca

-

--

Bertanya pada guru

-

-

Tidak mau tahu

-

-

36

100

Berusaha memperbaiki

Jumlah

78

Berdasarkan dari tabel di atas bahwa semua siswa yang mendapatkan nilai kurang bagus menjawab agar berusaha dengan memperbaikidengan cara membaca atau mengulangnya mencapai 100% siswa menyatakan terus berusaha untuk memperbaikinya. Tabel 9 Sikap Orang Tua Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif jawaban

Responden

%

Sangat bagus

11

30,5

Cukup baik

17

47,2

Biasa saja

8

22,2

Diam saja

-

-

36

100

Jumlah

Berdasarkan dari tabel di atas menunjukkan sikap orang tua siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia mengatakan cukup baik berjumlah 47,2%, sangat bagus 30,5%, dan biasa saja 22,2%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa peran orang tua pun sangat diperlukan dalam proses belajar siswa.

79

Tabel 10 Tanggapan Teman Terhadap Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif jawaban

Responden

%

Sangat senang

4

11,1

Senang

22

61,1

Biasa saja

10

27,7

36

100

Tidak menyenangkan Jumlah

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 11,1% tanggapan teman siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia sangat senang, 61,1% senang, dan 27,7% mengatakan biasa saja. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semua siswa senang terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 11 Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Sebelum Pelajaran Dimulai Alternatif jawaban

Responden

%

Sering

3

8,3

Jarang

25

69,4

Sesekali

4

11,1

Tidak pernah

4

11,1

Jumlah

36

100

80

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 8,3% siswa membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sebelum pelajaran dimulai menjawab sering, 69,4% menjawab jarang, 11,1% menjawab sesekali, dan 11,1% tidak pernah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sangat bervariasi sekali ketika siswa membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sebelum pelajaran dimulai bahkan yang paling banyak menjawab adalah siswa jarang membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 12 Membeli Buku Pelajaran Bahasa Indonesia di Toko Buku Alternatif jawaban

Responden

%

Sering

1

2,7

Jarang

11

30,5

Sesekali

15

41,6

Tidak pernah

9

25

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel di atas beragamnya jawaban siswa terhadap membeli buku pelajaran bahasa Indonesia di toko buku 2,7% sering, 30,5% jarang, 41,6% sesekali, dan 25% tidak pernah. Hal ini menggambarkan bahwa guru bahasa Indonesia sangat berperan dalam membangkitkan minat siswa untuk lebih giat lagi dalam membaca.

81

Tabel 13 Yang disukai ketika Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

-

-

Isi

30

83,3

Gambar

6

16,6

Jumlah

36

100

Sampul

Tabel tersebut menggambarkan bahwa siswa dapat tertarik membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia dilihat dari isi buku tersebut yang mencapai 83,3% dan 16,6% siswa tertarik pada gambar buku pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan siswa yang menyukai isi buku pelajaran bahasa Indonesia siswa dapat lebih memahami dan mengerti terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 14 Frekuensi Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

1x

9

25

2x

23

63,8

3x

4

11,1

36

100

Tidak pernah Jumlah

82

Berdasarkan tabel di atas bahwa frekuensi siswa yang membaca buku pelajaran bahasa Indonesia dalam seharinya 1x sebanyak 25% siswa,2x sebanyak 63,8%, dan 3x sebanyak 11,1%. Hal ini menandakan bahwa minat baca siswa terhadap buku pelajaran bahasa Indonesia cukup baik. Tabel 15 Berdiskusi Kepada Teman Tentang Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

Ya

12

33,3

Tidak

3

8,3

Kadang-kadang

21

58,3

-

-

36

100

Tidak pernah Jumlah

Berdasarkan tabel di atas menjawab ya, siswa berdiskusi kepada teman tentang pelajaran bahasa Indonesia sebanyak 33,3 %, yang menjawab tidak sebanyak 8,3%, dan menjawab kadang-kadang sebanyak 58,3%.

83

Tabel 16 Alasan berminat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

Diri sendiri

14

38,8

Perintah guru

4

11,1

Ikut-ikutan teman

-

-

18

50

36

100

Isi, cerita, dan bahasa yang menarik Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa alasan berminat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia 38,8 % siswa menjawab diri sendiri, perintah guru 11,1% perintah guru, dan 50% isi, cerita, dan bahasa yang menarik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa alasan siswa berminat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia karena dilihat dari isi, cerita, dan bahasa yang menarik dan atas kesadaran diri sendiri.

84

Tabel 17 Sikap Responden Tentang Teman yang Mengejek Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

Menasehati

16

44,4

Diam

5

13,8

Menegurnya

7

19,4

Biasa saja

8

22,2

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel di atas sikap siswa terhadap teman yang mengejek pelajaran bahasa Indonesia sebanyak 44,4% menjawab menasehati, 13,8% diam, 19,4 menegurnya, dan biasa saja 22,2%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya kesadaran siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia mengatakan menasehati bagi teman yang mengejek terhadap buku pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 18 Keinginan Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

36

100

Ayah

-

-

Ibu

-

-

Teman

-

-

Jumlah

36

100

Diri sendiri

85

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa keinginan membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sebanyak 100% siswa menjawab atas keinginan diri sendiri. Tabel 19 Kondisi Kelas ketika Belajar Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

Senang

19

52,7

Sangat senang

5

13,8

Biasa saja

12

33,3

-

-

36

100

Tidak senang Jumlah

Tabel ini menggambarkan bahwa sebanyak 52,7% siswa merasakan suasana senang dalamkelas ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Ini disebabkan peran guru bahasa Indonesia yang dapat mengkondisikan ruang kelas sehingga siswa merasa senang didalamnya. Tabel 20 Mengulang Membaca Buku Pelajaran di Rumah Alternatif Jawaban

Responden

%

Ya

1

2,7

Tidak

2

5,5

Kadang-kadang

30

83,3

86

Tidak pernah

3

8,3

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa siswa mengatakan ya 2,7% mengulang membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di rumah, 5,5% tidak, 83,3% kadang-kadang, dan 8,3 tidak pernah. Tabel 21 Tidak Pernah Bosan Membaca Buku pelajaran Bahasa Indonesia Alternatif Jawaban

Responden

%

Sangat setuju

4

11,1

Setuju

24

66,6

Tidak setuju

-

-

Ragu-ragu

8

22,2

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 11,1% siswa tidak pernah bosan membaca buku pelajaran bahasa Indonesia, 66,6% setuju, dan 22,2% raguragu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian siswa setuju tidak pernah bosan membaca buku pelajaran bahasa Indonesia.

87

Tabel 22 Membaca Buku yang Berkaitan dengan Pelajaran Bahasa Indonesia di Perpustakaan Alternatif Jawaban

Responden

%

Sangat setuju

16

44,4

Tidak setuju

-

-

Kadang-kadang

19

52,7

Ragu-ragu

1

2,7

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel di atas bahwa 44,4% siswa sangat setuju membaca buku pelajaran bahasa Indonesia, 52,7% kadang-kadang, dan 2,7% ragu-ragu. Tabel 23 Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Membuang Waktu Saja Alternatif Jawaban

Responden

%

Sangat setuju

-

-

Setuju

3

8,3

Tidak setuju

31

86,1

Ragu-ragu

2

5,5

Jumlah

36

100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebanyak 8,3% siswa menjawab setuju membaca buku pelajaran bahasa Indonesia membuang waktu saja,

88

86,1 menjawab tidak setuju, dan 5,5% menjawab ragu-ragu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh siswa tidak membuang waktu ketika membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Tabel 24 Pengaruh Selesai Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Alternatf Jawaban

Responden

%

Ada perubahan

28

77,7

Biasa saja

8

22,2

Tidak ada perubahan

-

-

Tidak tahu

-

-

36

100

Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 77,7% siswa menjawab ada perubahan ketika selesai membaca buku pelajaran bahasa Indonesia dan 22,2% siswa menjawab biasa saja. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengetahuan siswa bertambah ketika selesai membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. 3. Wawancara Berdasarkan hasil wawancara yang terlampir, penulis menyimpulkan bahwa minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di MTs Islamiyah masih perlu ditingkatkan lagi.

89

C. Pembahasan Minat membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah masih kurang dan perlu ditingkatkan lagi. Karena siswa ketika mengisi angket terdapat pada angket nomor tujuh membaca buku pelajaran bahasa Indonesia sebelum jam pelajaran mereka menjawabnya dengan jarang, sesekali dan bahkan sampai tidak pernah. Hal ini terbukti bahwa banyak kendala yang menjadi berkurangnya minat terhadap mereka. Minat tergantung pada kesempatan anak untuk belajar. Kesempatan untuk belajar bergantung pada lingkungan dan minat, baik anak-anak maupun dewasa, yang menjadi bagian dari lingkungan anak. Karena lingkungan anak kecil sebagian besar terbatas pada rumah, minat mereka “tumbuh dari rumah” sehingga kesempatan pertama untuk belajar berasal dari rumah dan lingkungan rumah merupakan tahap awal. Minat membaca salah satu contoh paling relevan, dimana lingkungan rumah merupakan stimulus paling awal dan tempat belajar utama bagi seseorang anak untuk belajar membaca. Kurangnya minat membaca pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat salah satunya adalah dalam bidang sarana dan prasarana. Terutama pada perpustakaan di sekolah ini terdapat perpustakaan namun bukan milik sekolah MTs Islamiyah tetapi digunakan secara bersamaan dengan Aliyah, SMK, dan SMP hal ini sehingga timbul rasa malu dan malas pada siswa MTs membaca buku di setiap menggunakan waktu yang senggang.

Islamiyah untuk

90

BAB V PENUTUP Berdasarkan uraian di atas mengenai “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat” yang dibahas pada bab dan pasal sebelumnya ini akan penulis kemukakan beberapa simpulan dan saran. A. Simpulan 1. Minat siswa dalam membaca buku pelajaran bahasa Indonesia di MTs Islamiyah masih sangat berkurang. 2. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa adalah faktor intern siswa dan faktor ekstern siswa. Faktor intern siswa yaitu faktor-faktor yang terdapat atau bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri. Sedangkan faktor ekstern siswa yaitu segala yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku siswa termasuk minatnya yang bersumber dari luar siswa yang bersangkutan. Misalnya, yang berasal dari lingkungan, teman, masyarakat disekitar, dan guru di sekolahnya. B. Saran Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut, penulis memandang penting untuk menyampaikan saran sebagai berikut: 1. Peran orang tua sebagai pendidik utama bagi anaknya yang membekali anakanaknya dengan pendidikan yang memotivasi anaknya untuk gemar membaca. Begitu juga dengan guru, seorang guru harus dapat menumbuhkan minat

90

91

membaca, mengembangkan daya kreativitas siswa dan sikap yang merangsang siswa untuk mencontohnya. 2. Hendaknya seluruh personil sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat saling bekerja sama dalam kegiatan sehari-hari mereka bermain, belajar, dan bermasyarakat karena usia dini masih perlu bimbingan semua jaringan masyarakat. Dengan demikian, generasi yang intelektual gemar membaca dapat mengembangkan pengetahuan siswa.

92

DAFTAR PUSTAKA

Abror, Abdurahman. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1999.

Association of Educational Communications and Technology (AECT), The Definition of Educational Terminology (et) Yusuf Hadi Miarso, dkk. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan Satuan Tugas Definisi dan Terminologi Aect. Jakarta: Rajawali Cahyani, Isah dan Hodijah. Kemampuan Berbahasa Indonesia di SD. Bandung: UPI PRESS, 2007. Deporter, Bobbi dan Mike Hernacki. Quantum Learning. Bandung: KAIFA, 2005. Djaali, H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007. Gredler Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan (et) Munandir, Seri Pustaka Teknologi pendidikan No. 11. 1991. Jakarta: Rajawali. Honiatri, Euis dan E. Kosasih. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia, 2003. Ismail, Taufik. 2003. “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”. Pidato Penganugrahan Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Sastra, di Universitas Negeri Yogyakarta.

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: UPI, 2008. Jauharoti, Alfin. Bahasa Indonesia. Surabaya: LAPIS PGMI, 2008. Mikarsa, Hera Lestari. Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. Muchlisoh. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Bandung: Universitas Terbuka, 1995.

93

Mulyati, Yeti, dkk. Keterampilan Berbahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. Nurgiantoro, Burhan. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005.

Nurhadi. Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan Latihan). Malang: Sinar Baru Algensindo, 2005. Sabri M, Alisuf. Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan. Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 2006. Sardjana. Satatistik Elementer. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005. Shaleh Abdul, Rahman dan Muhbib Abdul Wahab. Psikologi Suatu Pengantar (dalam Perspektif Islam). Jakarta: Prenada Media, 2004.

Sudjana. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito. 2005. Suharsimi, Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 1998. Surya, dkk. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. Tarigan Henry, Guntur dan Djago Tarigan. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa, 2009. Tarigan Henry, Guntur. Membaca, Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 1983.

Y, Budinuryanta, dkk. Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, 2008. http://penchenk.blogspot.com/2009/01/definisi-buku-pelajaran.(diakses pada pukul 14.34, 5-05-2011) http://www.infoskripsi.net/2010/04/005-pengaruh-minat-baca-terhadap.(diakses pada pukul 20.45, tanggal 5-5-2011)

94

http://dwikisetiyawan.wordpress.com/sisi-lain-masalah-minat-dan-kemampuanmembaca (diakses pada pukul 13.20,tanggal 15-04-2011) http://infokiat.ghobro.com/kurangnya-minat-baca-anak.htm. (diakses pada pukul 12.34, l8-08-2011)

ANGKET PENELITIAN Identitas Responden : Nama

:

Kelas

:

Jenis kelamin

:

Petunjuk pengisian angket : 1. Berilah tanda silang(x) pada salah satu jawaban a, b, c, atau d, yang anda anggap paling sesuai dengan keadaan dari anda! 2. Jawaban yang anda berikan hanyalah untuk kepenyingan penelitian ilmiyah saja dan tidak akan mempengaruhi nilai raport anda pada mata pelajaran apapun, jadi jawablah dengan jujur 3. Saya harapkan semua soal dalam angket ini dapat terisi dan atas partisipasinya saya ucapkan terima kasih 1. Bagaimana sikap kamu terhadap pelajaran bahasa Indonesia? a. Sangat senang

b. Senang

c. Biasa saja

d. Tidak menyenangkan

2. Bagaimana nilai bahasa Indonesiamu? a. Sangat bagus

b. Bagus

c. Kurang bagus

d. Sedang

3. Apakah kamu berminat untuk membaca buku pelajaran bahasa Indonesia? a. Ya

b. Tidak

c. Biasa saja

c. Ragu-ragu

4. Bagaimana sikap kamu ketika nilai bahasa Indonesia kurang bagus? a. Berusaha memperbaiki

b. Banyak membaca c. Bertanya pada guru

d. Tidak mau tahu 5. Bagaimana sikap orang tuamu terhadap pelajaran bahasa Indonesiamu? a. Sangat bagus

b. Cukup baik

c. Biasa saja

d. Diam saja

6. Bagaimana tanggapan temanmu tentang pelajaran Bahasa Indonesia? a. Sangat senang

b. Senang

c. Biasa saja

d. Tidak menyenangkan

7. Apakah kamu membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia sebelum jam pelajaran? a. Sering

b. Jarang

c. Sesekali

d. Tidak pernah

8. Membeli buku bacaan khusus bahasa Indonesia di toko buku?

a. Sering

b. Jarang

c. Sesekali

d. Tidak pernah

9. Yang kamu sukai ketika membaca buku pelajaran bahasa Indonesia? a. Sampul

b. Isi

c. Gambar

10. Berapa kali kamu membaca buku bahasa Indonesia? a.1 x

b. 2x

c. 3x

d. Tidak pernah

11. Setelah membaca buku pelajaran bahasa Indonesia apakah kamu mendiskusikannya dengan teman-teman? a. Ya

b. Tidak

c. Kadang-kadang

d. Tidak pernah

12. Alasan berminat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia? a. Dirisendiri

b. Perintah guru

c. Ikut-ikutan teman

d. Isi, cerita, dan bahasa yang menarik 13. Jika temanmu mengejek kamu yang sedang membaca buku bahasa Indonesia apa yang kamu lakukan? a. Menasehati

b. Diam

c. Menegurnya

b. Biasa saja

14. Atas keinginan siapa kamu membaca buku bahasa Indonesia? a. Diri sendiri

b.

Bapak

c. Ibu

d. Teman

15. Bagaimana keadaan kelasmu ketika belajar bahasa Indonesia? a. Senang

b. Sangat senang

c. Biasa saja

d. Tidak senang

16. Setelah membaca buku bahasa Indonesia apakah kamu membaca ulang dirumah? a. ya

b. Tidak

c. Kadang-kadang

d. Tidak pernah

17. Tidak pernah bosan membaca buku pelajaran bahasa Indonesia? a. Sangat setuju

b. Setuju

c. tidak setuju

d. Ragu-ragu

18. Jika pergi keperpustakaan lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan pelajaran bahasa Indonesia? a. Sangat setuju

b. Tidak setuju

c. Kadang-kadang

d. Ragu-ragu

19. Membaca buku pelajaran bahasa Indonesia membuang-buang waktu saja? a. Sangat setuju

b. Setuju

c. Tidak setuju

d. Ragu-ragu

20. Bagaimana pengaruh selesai membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia? a. Ada perubahan

b. Biasa saja c. Tidak ada perubahan

d. Tidak tahu

WAWANCARA 1. Saya Guru 2. Saya

: “Sudah berapa lamakah Bapak mengajar di MTs. Islamiyah Ciputat?” : “Saya mengajar MTs. Islamiyah Ciputat sudah 27 tahun”. : “Sebelum pelajaran dimulai apakah siswa diperintahkan untuk membeca pelajaran terlebih dahulu?”

Guru

: “Tidak, saya memerintahkan mereka membaca di rumah. Agar jam pelajaran dimulai saya dapat langsung menjelaskan”.

3. Saya Guru

: “Setelah siswa membaca pelajaran apakah siswa ditanya terlebih dahulu?” : “Tidak, saya menjelaskan terlebih dahulu kemudian menanyakan kepada siswa, apakah mereka paham atau tidak”.

4. Saya Guru

: “Materi apa yang disukai siswa ketika diperintahkan untuk membaca?” : “Biasanya siswa sangat suka dengan materi tentang drama dan cerita pendek”.

5. Saya Guru

: “Hambatan apa yang tidak disukai siswa jika mereka tidak mau membaca?” : “ Hambatan keadaan siswa di sini yaitu malas membaca, ada yang takut jika diperintahkan membaca, dan bahkan ada salah satu siswa yang membacanya masih kurang”.

6. Saya

: “Apa yang menjadi kendala dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?”

Guru

: “ Yang menjadi kendala yaitu fasilitas di kelas seperti KBM, kondisi kelas seperti kebersiahan dan penataan kelas”.

7. Saya Guru

: “Menurut Bapak apa yang dimaksud dengan minat baca?” : “Menurut saya mereka harus mencintai dalam hal sesungguhnya membaca itu dapat dinikmati”.

8. Saya

: “Menurut Bapak sampai seberapa besar pengaruh minat membaca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?”

Guru

: “ Minatnya sangat buruk diperkirakan sampai 40% di karena mereka malas membaca”.

9. Saya

: “Apa solusi yang dapat Bapak berikan demi meningkatkan prestasi belajar siswa?”

Guru

: “Solusinya yaitu siswa harus mempunyai jadwal belajar baik di sekolah maupun di rumah, siswa harus mengerjakan tugas pribadi dan kelompok, adanya umpan balik, dan 70 untuk praktik 70 untuk teori”.

No

Nama

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

M. Atta Lucky Pandi M. Bilal Rasyid Amir Agung Reno Mustari Aldi Abdurrahman M. Hafid Hendi Septo Indah Meckey Elma Didi Wisnu Irma Umul Anita Tazqiyah Fahru Ridwan Ardi Nur Nazmi

No. Item Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia 1 2 3 4 3 3 4 3 2 4 4 4 2 3 2 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3

2 3 3 3 3 3 1 1 2 3 3 3 2 1 1 3 1 3 3 3 3 1 3 3 3 1 3 3

3 2 2 4 4 2 2 1 1 4 2 4 1 4 4 2 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

4 4 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

5 3 3 2 3 2 3 2 3 4 3 4 3 3 2 2 3 2 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4

6 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 2 1 2 4 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 4

7 1 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3 4 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 4 3

8 1 2 2 2 3 2 1 1 2 2 2 2 3 2 3 1 1 3 2 4 1 3 1 2 2 3 3

9 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3

10 3 4 3 3 4 3 3 2 3 4 3 4 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3

11 2 2 2 2 2 4 3 2 2 4 4 3 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 4 4 4 4

12 4 1 4 4 1 4 4 1 1 3 1 1 4 3 4 3 1 4 4 1 1 4 1 1 3 1 1

13 3 4 3 4 1 4 4 1 2 4 3 2 2 4 4 2 4 3 2 1 4 4 4 4 1 3 4

14 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

15 4 4 4 4 4 3 2 4 2 2 3 2 4 4 4 2 2 2 4 4 4 4 2 4 3 4 4

16 2 2 2 2 2 2 3 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2

17 1 1 3 3 1 3 1 3 3 4 3 1 4 3 3 4 1 3 3 3 3 3 1 3 4 3 3

18 2 2 2 1 2 4 2 2 2 4 4 4 2 2 4 4 2 2 4 4 2 4 2 2 2 2 4

19 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2

20 JUMLAH 4 52 3 52 4 60 4 61 3 52 4 61 4 53 4 48 4 56 4 61 4 64 4 53 4 61 4 57 3 60 3 56 3 49 4 62 4 63 4 60 4 55 4 67 4 54 4 70 3 70 3 60 4 66

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

Ikhsan Abdul Malik Dewi Nur Afizah Rahmat Ihza Adelia Gerry Kaisar Jumlah

3 3 3 2 3 3 3 4 3

3 3 3 3 3 3 3 3 1

4 4 4 4 4 4 4 4 4

4 4 4 4 4 4 4 4 4

4 4 4 2 4 4 2 4 3

3 2 4 2 3 3 2 3 3

3 2 4 1 2 3 1 3 3

2 2 3 1 2 3 1 3 3

3 3 3 2 3 3 2 3 3

2 4 3 4 3 3 4 3 2

2 4 4 2 2 4 2 4 2

1 1 1 4 1 4 4 4 1

3 1 4 1 1 4 1 2 4

4 4 4 4 4 4 4 4 4

2 2 4 2 3 4 2 4 3

3 3 4 2 3 2 2 2 2

3 3 4 4 1 3 3 3 3

4 4 4 2 2 4 2 4 4

3 1 2 2 2 2 2 2 3

4 3 4 4 4 4 4 4 4

58 57 70 51 54 68 52 67 54 2114

PROFIL SEKOLAH

Nama dan Alamat sekolah Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat Jalan Kihajar Dewantara No. 23 Ciputat Telp. 021.7409814, - 021.28752974 Kecamatan Ciputat Kota/Kabupaten Tangerang Selatan Nomor Rekening : 0994-01-023437-53-58 (BRI Cabang Ciputat)

1. Nama dan Alamat Yayasan/Penyelenggara sekolah : Yayasan Islamiyah Ciputat Jl. KH. Dewantara No. 23 Ciputat, 15411 Telp. 021. 7409814 – 021. 28752974 2. Nama Kepala Madrasah

: Drs. Oding

3. Nama Wakil Kepala Madrasah

: Hj.Yurnelis R, S.Pd

4. NSS/NSM

: 21.2.28.04.06.045

3. Jenjang Akreditasi

: Terakreditasi A

4. Tahun didirikan

: 1978

5. Tahun Beroperasi

: 1978

6. Status Tanah

: Milik Yayasan

a. Surat Kepemilikan Tanah

: Sertifikat/Akte

b. Luas Tanah

: 770 M

8. Status Bangunan

2

: Milik Yayasan

a. Surat Ijin Bangunan

: No. 642.2 / 836 – DB / 2000

b. Luas Tanah

: 300 M

2

9. Data Siswa

Jenis Kelamin

Kelas

Jumlah

VII

VIII

IX

Laki-laki

51

34

33

118

Perempuan

29

41

33

103

Jumlah

80

75

66

221

10. Data Guru, TU dan Karyawan Jumlah Guru, TU dan Karyawan

Jabatan

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Guru

9

11

20

Tata Usaha

1

-

1

Karyawan

1

-

1

Jumlah

11

11

22

11. Jumlah Ruang Belajar dan Kantor Lantai

Jumlah

Ukuran

Keterangan

2

1

I

8x8M

Ruang Kepala dan Wakil

2

1

8x8M

1

8x8M

1

10 x 12 M

2

Ruang Tata Usaha

2

Ruang Lab. Komputer 2

2

2x2M

Mushalla WC

2

4

II

Jumlah

2

1

8x8M

1

8x8M

1

8x8M

1

III

8x8M

Ruang Belajar Ruang Guru

2

Ruang Lab. IPA

2

Ruang Perpustakaan

2

Ruang BP

2x3M

2

3

8x8M

1

2x3M

17

670 M

2

2

Ruang Belajar Ruang OSIS

VISI DAN MISI 1. VISI “ Unggul dalam Iman, Ilmu dan Amal “ 2. MISI a. Membentuk siswa yang berakhlakul karimah b. Meningkatkan Prestasi Siswa c. Mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi d. Melatih dan membimbing siswa yang selalu ikhlas dalam tindakan maupun perbuatan. 3. Tujuan MTs. Islamiyah Generasi penerus bangsa yang unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ yang merupakan benteng menuju manusia masa depan. 4. Strategi MTs. Islamiyah merupakan lembaga pendidikan yang berdiri sejaka tahun 1978, sampai saat ini kiprahnya sebagai sekolah pencetak pioner-pioner bukan hanya ilmuan tetapi sudah banyak da’i – da’I, tokoh masyarakat , serta kepala daerah merupakan lulusan MTs. Islamiyah sejak 30 tahun yang lalu. MTs. Islamiyah berdomasili di jalan Kihajar Dewantoro No 23 Ciputat Tangerang Selatan Banten dan secara geografis terletak di jantung kota Ciputat. Sehingga sangat mudah di jangkau dari segala arah. Program kedepan MTs. Islamiyah menitik beratkan pada upaya peningkatan kualitas pendidikan dan lulusan, serta pembinaan akhlak mulia sesuai dengan visi dan misinya. Hal lain terus menjadi target strategi MTs dan tidak kalah pentingnya yaitu melatih peserta didik untuk mampu trampil di dalam masyarakat dan bagian dari masyarakat yang mampu menyampaikan ide, hadist Rosulullah, serta isi Al-quran melalui kegiatan pengabdian masyarakat. MTs. Islamiyah merupakan lembaga pendidikan menengah setingkat dengan SLTP yang berdasarkan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan sangat berpegang teguh kepada Al-quran dan Hadits sehingga out put dari lembaga ini diharapkan mampu berkiprah di masyarakat manapun dan golongan apapun sebagai manusia Indonesia yang berakhlakul karimah.

Rencana Strategi (Renstra) MTs. Islamiyah dibuat dalam 3 tahap, yakni: 1. Rencana Strategi Jangka Pendek, meliputi 1. Menyampaikan Ilmu Pengetahuan Umum dan Agama kepada peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas. 2. Pembinaan agama, serta sopan, ramah dalam pergaulan dan berakhlakul karimah. 3. Memberi keterampilan Da’wah dan seni dalam bidang muhadhoroh dan pentas baik di dalam maupun di masyarakat. II Rencana Strategi Jangka Menengah, meliputi: 1. Mampu berkiprah di kelompok kerja madrasah (KKM) dengan program Dakwah dan IPTEK melalui kegiatan lomba pentas proseni. 2. Pengentasan Buta, Baca, Tulis Al-quran untuk perwujudan nyata sebagai lembaga pendidikan islam. III Rencana Strategi Jangka Panjang 1. Membentuk Ikatan Alumni/Forum Alumni yang berperan menampilkan mutu MTs melalui informasi Alumnus yang sudah berkiprah dan mengabdi di masyarakat sebagai da’i - da’i, tokoh masyarakat dan umaroh. 2. Menjadikan MTs. Islamiyah sebagai lembaga pendidikan yang berstandar Nasional dan standar Internasional.

WAWANCARA 1. Saya Guru 2. Saya

: “Sudah berapa lamakah Bapak mengajar di MTs. Islamiyah Ciputat?” : “Saya mengajar MTs. Islamiyah Ciputat sudah 27 tahun”. : “Sebelum pelajaran dimulai apakah siswa diperintahkan untuk membeca pelajaran terlebih dahulu?”

Guru

: “Tidak, saya memerintahkan mereka membaca di rumah. Agar jam pelajaran dimulai saya dapat langsung menjelaskan”.

3. Saya Guru

: “Setelah siswa membaca pelajaran apakah siswa ditanya terlebih dahulu?” : “Tidak, saya menjelaskan terlebih dahulu kemudian menanyakan kepada siswa, apakah mereka paham atau tidak”.

4. Saya Guru

: “Materi apa yang disukai siswa ketika diperintahkan untuk membaca?” : “Biasanya siswa sangat suka dengan materi tentang drama dan cerita pendek”.

5. Saya Guru

: “Hambatan apa yang tidak disukai siswa jika mereka tidak mau membaca?” : “ Hambatan keadaan siswa di sini yaitu malas membaca, ada yang takut jika diperintahkan membaca, dan bahkan ada salah satu siswa yang membacanya masih kurang”.

6. Saya

: “Apa yang menjadi kendala dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?”

Guru

: “ Yang menjadi kendala yaitu fasilitas di kelas seperti KBM, kondisi kelas seperti kebersiahan dan penataan kelas”.

7. Saya Guru

: “Menurut Bapak apa yang dimaksud dengan minat baca?” : “Menurut saya mereka harus mencintai dalam hal sesungguhnya membaca itu dapat dinikmati”.

8. Saya

: “Menurut Bapak sampai seberapa besar pengaruh minat membaca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia?”

Guru

: “ Minatnya sangat buruk diperkirakan sampai 40% di karena mereka malas membaca”.

9. Saya

: “Apa solusi yang dapat Bapak berikan demi meningkatkan prestasi belajar siswa?”

Guru

: “Solusinya yaitu siswa harus mempunyai jadwal belajar baik di sekolah maupun di rumah, siswa harus mengerjakan tugas pribadi dan kelompok, adanya umpan balik, dan 70 untuk praktik 70 untuk teori”.

KE]IiENTERIAN AGAMA UIN JAKARTA

ffi :

ii]h : ';'lfr,,o" * r, c*x,tat1s4,2

: Terbit : No. Revisi: :

02

Hal

111

No.

Dokumen

Tgl.

FORU tFR)

t,oon"**)

FITK-FR-AKD'081

1 Maret 2010

SURAT BII'BINGAN SKRIPSI Nomor

:

Un.0

lff . 1/KM.Al 3 /......../201

Jakart4 ZDMlei?Oll

I

Lamp.

Hal

'

m.niog"o Skripsi

KepadaYth. Drs. Cecep Suhendi, M.Pd Pembimbing Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. A s s alarnu' alaila*n w

Dengan

r.w b.

ini

diharapkan kesediaan Saudara untuk menjadi pembimbing

(materilteknis) penulisan skripsi mahasiswa: Nama

HalimahTusadiah

NIM

rc7013004n4

Jurusan

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Semester

VIII (Delapan

Judul Skripsi

Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas

VII MTS Islamiyah Ciputat. Judul tersebut telah disetujui oleh Jurusan yang bersangkutan pada tanggal 05 Mei 2011, abstraksiloutline terlampir. Saudara dapat melakukan perubahan redaksional pada judul tersebut. Apabila perubahan substansial dianggap perlu, mohon pembimbing menghubungi Jurusan terlebih dahulu.

Bimbingan skipsi

ini

diharapkan selesai dalam waktu

6

(enam) bulan, dan dapat

diperpanjang selama 6 (enam) bulan berikutnya tanpa surat perparrjangan. Atas perhatian dan kerja sama Saudar4 kami ucapkan terima kasih. Was

s

alarnu' alaikum wr.w b. a.n. Dekan

Indonesia

yahZA, M.Pd Tembusan: Dekan FITK Mahasiswa ybs.

l. 2.

No. Dokumen

KEMENTERIAN AGAMA UIN JAKARTA FITK Jl.

lr

Tgl. Terbit

FORM (FR)

No

H. Juanda No 95 Cipulat 1 5112 lndonesia

Revisi: :

Hal

01

1t1

SURAT PERMOHONAN IZIN OBSERVASI Nomor : Un.0 l/FI./KM.Ol St$.*.Y.tZOt Larnp. : ......

Hal

Jakarta, l2 JLrli 20ll

t

: Observasi

Kepada Yth.

Kepala Sekolah MTs. Islamiyah Ciputat di Tempat Asso I a nttt' al aikurn wr.u, b.

Dengan honnat kami sampaikan bahu,a: Nama

Halima Tusadiah

NIM

l 070 r 3000234

Jurusan /Prodi

Pend. Bahasa dan Sastra Indotresia

Semester

IX

adalah benar mahasiswa pada FakLrltas Ilrnu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakar-ta dan sehubungau deugan penyelesaian tugas rnata kuliah "Penelitian Skripsi", mahasisr.va tersebut rnemerlukan observasi dengan pihak terkait. Oleh karena ittr. kami mohon kesediaan Saudara untuk menerima malrasiswa tersebut dan memberikan barrtuannya.

Demikianlah, atas perlratian dan bantuan Saudara karni ucapkan terirna kasih. trYas s a l a

iltu' a lai ku nr u,r.w

b.

a.n. Dekan

,,, lfubus Tata Usaha

rI -:"NIP; 19610805 198903 2 001

Y

Terlbusan: Dekan Fakultas IlmLr T'arbiyah dan Keguruan

KEMENTERIAN AGAMA UIN JAKARTA FITK

W;rl lawswl

lw&m

. FITK+R4KD"082 Terbit : t tvtaret ZO1O

No. Dokumen Tgl.

FORM (FR)

Jl. lr. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 lndonesia

SURAT PERMOHONAN

IM

Nomor : Un.01/F. 1/KM.01.3/ 6065 t2011 Lamp. : Outline/Proposal : Permohonan lzin penelitian

Jakarta, 26 Juti 2011

Hal

Kepada Yth. Kepala Mts lslamiyah di

Ciputat Assal am u' al a i ku m wr.wb.

Dengan hormat kami sampaikan bahwa,

Nama NIM Jurusan

. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Semester

: lX

Judul

: Halima Tusadiah

:107013000234

Skripsi Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Ketas " VIII

adalah benar mahasiswa/i Fakultas llmu

Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta yang sedang menyusun skripsi, dan akan mengadakan- p"n"riti"n f*"tl di

instansi/sekolah/madrasah yang Saudara pimpin.

Untuk

itu kami mohon Saudara dapat mengizinkan

melaksanakan penelitian dimaksud.

mahasiswa tersebut

Atas perhatian dan kerja sama saudara, kami ucapkan terima kasih. Wassal am u' alai ku m wr.wb.

Sastra Indonesia

itriyah ZA, M.Pd Tembusan: 1. Dekan FITK 2. Pembantu Dekan Bidang Akademik 3. Mahasiswa yang bersangkutan

199703 2 001

Vry\SAN ISLAMIV\H

C

IPU TI\T

Akta Nomor 16, Tanggal 11 Agustus 1978 Bank: BN dan BPD Rek.

ZlZ0l

MADRASAH TSANAWIYAH ISLAMIYAH STATUS : TERAKREDITASI A Alamat : fl. Kihajar Dewantara No. 23 Ciputat Kota Tangerang Selatan Telp. (021) 7409814 - 28752974

SURAT KETERANGAI\ Nomor : 105/8. l/Ks .02.00NT112011

Yang bertanda

tangan

menerangkan bahwa

dibawah

ini

Kepala MTs. Islamiyah Ciputat Tangerang Banten,

:

Nama

: Halima Tusadiah

NIM

: 107013000234

Bidang Study

: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Adalah benar telah melalcukan Penelitian pada MTs. Islamiyah Ciputat, pada tanggal 18 Agustus - 13 Desember 2011. Demikian surat keterangan ini kami buat, agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ciputat, 26

Juli20ll s. Islamiyah Ciputat rJ/'

& s.Pd.I

Suggest Documents