MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA EKSTENSIF DENGAN ...

13 downloads 56 Views 307KB Size Report
Penelitian ini berawal dari keinginan peneliti untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca ekstensif. Implikasinya, peneliti hendak mengujicobakan  ...

MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA EKSTENSIF DENGAN MENGGUNAKAN MODEL QUANTUM THINKER PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUKAWENING GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012

MAKALAH

Oleh: TINI SUHARTINI 10.21.0424

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SILIWANGI BANDUNG 2012

MODEL PEMBELAJARAN MEMBACA EKSTENSIF DENGAN MENGGUNAKAN MODEL QUANTUM THINKER PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUKAWENING GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012

Oleh: TINI SUHARTINI 10.21.0424 Program Studi Bahasa Dan Sastra Indonesia Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi Bandung 2012 ABSTRAK Penelitian ini berawal dari keinginan peneliti untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca ekstensif. Implikasinya, peneliti hendak mengujicobakan salah satu model pembelajaran, yaitu model Quantum Thinker yang diterapkan dalam pembelajaran membaca ekstensif. Terdapat tiga rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimana kemampuan membaca di kelas eksperimen? Bagaimana kemampuan membaca di kelas kontrol? Dan bagaimana tingkat signifikansi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan membaca kelas eksperimen, kemampuan membaca kelas kontrol, dan tingkat signifikasi antara kedua kelas tersebut. Hipotesis yang peneliti ajukan (Ha) adalah adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sementara itu, hipotesis nol (Ho) adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan desain rancangan “the non-equivalent kontrol group” sehingga digunakan dua kelas. Penelitian ini diujicobakan terhadap populasi kelas VIII di SMP Negeri 1 Sukawening Garut dengan sampel kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Thinker yang diterapkan sebanyak tiga kali perlakuan. Kelas kontrol mendapatkan perlakuan menggunakan SQ3R. Berdasarkan hasil penelitian peneliti mendapatkan data rata-rata di kelas eksperimen saat prates sebesar 53.30 dan rata-rata pasca tes di kelas eksperimen sebesar 80.90. Hal itu menunjukkan peningkatan yang tajam. Pada kelas kontrol rata-rata yang didapatkan pada saat prates 59.54 dan rata-rata pada pascates sebesar 69.50. Dalam pengujian hipotesis peneliti menggunakan rumus Uji-t dengan perolehan thitung 3.75 dan ttabel(95%)(64) 1.665 sehingga thitung > ttabel. Dengan perolehan ini Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan merujuk kepada hasil Uji-t maka model Quantum Thinker efektif untuk digunakan dalam pembelajaran membaca khususnya membaca ekstensif. Peneliti berharap dengan model Quantum Thinker dalam pembelajaran membaca ekstensif ini dapat digunakan sebagai alternatif metode dalam pembelajaran membaca guna meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca. Peneliti pun berharap adanya penelitian lebih lanjut tentang model Quantum Thinker ini dengan variabel lain yang lebih luas dan lebih kompleks lagi. Kata Kunci : Membaca, Ekstensif, Quantum Thinker

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan (Depdikbud, 1995). Pembelajaran bahasa diarahkan ke dalam empat aspek keterampilan

berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa, membaca merupakan keterampilan yang sangat penting. Dalam keseharian kita akan dihadapkan pada bacaan karena teks bacaan berada di mana-mana, seperti pada koran, majalah, pamflet, baligo, dan kemasan barang. Meskipun kemampuan membaca sangat penting, banyak masyarakat yang

malas untuk membaca. Kegiatan membaca menurut mereka merupakan kegiatan yang membosankan dan membuat mengantuk karenanya mereka lebih suka mendengarkan atau berbicara daripada membaca. Membaca merupakan alat komunikasi. Dengan membaca kita dapat berkomunikasi dengan seluruh insan melalui media tulisan. Simanjuntak (1985) dalam Abdullah (2006:49) mendefinisikan membaca seperti berikut. “Membaca sebagai satu proses yang aktif dan bersungguh-sungguh untuk mencari dan menentukan arti. Pencarian dan penentuan makna dalam membaca ini dilakukan dengan cara mengerahkan arti yang ada di dalam otak kepada teks yang dibacanya dengan pertolongan tiga jenis tanda: tanda grafem/bunyi, sintaksis dan konteks. (Simanjuntak dalam Abdullah,2006:49)” Dilihat dari pengertian tersebut terlihat bahwa membaca merupakan proses mendapatkan gagasan-gagasan atau informasi-informasi yang terdapat dalam sebuah teks bacaan dengan tidak hanya dapat menyebutkan grafemnya, tetapi harus mengerti makna dari kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, setiap gagasan yang peneliti sajikan atau hendak dikomunikasikan dapat tersampaikan dengan jelas kepada kita sebagai pembaca. Sebuah tulisan tidak akan menjadi jembatan informasi yang baik ketika tingkat kemampuan membaca pembaca rendah karena informasi yang hendak peneliti sampaikan tidak akan tersampaikan secara utuh kepada pembaca. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih menonton TV (85,9%), radio (40,3%), dan membaca koran hanya (23,5%). Dalam artikel Wahid yang berjudul “Rendahnya Minat Baca Masyarakat Kita” disebutkan sebagai berikut. Rendahnya kemahiran membaca siswa sekolah didasarkan atas penelitian Tim Program of International Student Assesment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas yang menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6% hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya; 24,8% hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Wahid:2010). Dalam mencapai tahap berpikir kreatif tersebut peneliti menggunakan salah satu metode berpikir kreatif yang disebut dengan metode Quantum Thinker. Metode Quantum memang pernah digunakan dalam penelitian pembelajaran membaca,

yaitu dalam skripsi Rohayati (2009) dengan judul “Penerapan Strategi Quantum dalam Pembelajaran Membaca Puisi”. Namun, yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah pengembangan dari strategi Quantum tersebut, yaitu Quantum Thinker yang menitikberatkan pada perkembangan otak siswa. Metode Quantum Thinker adalah sebuah metode pengembangan pikiran agar pikiran siswa menjadi lebih luas, lebih kreatif dan efektif, serta lebih menyenangkan. Metode Quantum Thinker ini memaksimalkan kemampuan otak siswa yang memang sedang berkembang sehingga melatih mereka untuk lebih cepat menemukan gagasangagasan dalam sebuah teks. Peneliti belum menemukan metode Quantum Thinker ini digunakan dalam metode pembelajaran sehingga peneliti mengujicobakan metode ini dalam pembelajaran membaca ekstensif. Dengan penggunaan metode ini siswa diharapkan dapat lebih mudah menemukan gagasan-gagasan dalam sebuah teks dalam menggunakan teknik membaca ekstensif. Dengan melihat latar belakang yang telah disebutkan maka peneliti mengujicobakan model Quantum Thinker dalam pembelajaran membaca ekstensif. Peneliti berharap model Quantum Thinker ini dapat membantu siswa meningkatkan kemampuannya dalam membaca khususnya membaca ekstensif. Oleh karena itu, peneliti memilih untuk melakukan penelitian dengan judul “Model Pembelajaran Membaca Ekstensif Dengan Menggunakan Model Quantum Thinker Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sukawening Garut Tahun Ajaran 2011/2012”. KAJIAN TEORI DAN METODE Model Pembelajaran Quantum Tokoh utama di balik pembelajaran Quantum adalah Bobbi DePoter. Pembelajaran Quantum dapat diartikan sebagai pembelajaran yang berupaya menciptakan suasana kondusif (nyaman dan menyenangkan), kelas kohesi (rasa kebersamaan tinggi), dinamis, interaktif, partisipatif, saling menghargai, dan setiap siswa penuh rasa percaya diri. Model Quantum Thinker Dunia selalu dipenuhi dengan hal-hal baru seperti ide, fakta, teori ataupun spekulasi baru. Sejalan dengan dunia pemikiran, keterampilan berpikir juga perlu berkembang karena ada begitu banyak yang bisa dipahami, ditemukan, dan dilakukan. Para Quantum Thinker meningkatkan kemampuan berpikir dengan lima prinsip dasar berpikir kuantum. Hal itu akan menumbuhkan

perasaan lebih bahagia dan lebih banyak bertindak, berpikir untuk lebih banyak yang harus dilakukan dan lebih banyak yang ingin dilakukan. Gunakan peningkatan berpikir tersebut untuk berbagai hal dan mengembangkan ide-ide serta mendapatkan hasil yang dinginkan di sekolah dan juga di kehidupan. Pengertian Apakah otak secara otomatis akan mampu mengambil berbagai macam ide dalam sebuah informasi yang baru didapatkan? Otak memang diciptakan untuk berpikir seperti itu, otak akan bekerja saat mencocokan, meniru, memerhatikan, mempertanyakan, memutuskan, dan menilai segala hal yang terjadi di dunia ini. Oleh karena itu, keterampilan berpikir ini harus ditingkatkan dengan cara yang postif dan bermakna. Quantum Thinker merupakan sebuah model perkembangan otak dengan menekankan kepada perkembangan berpikir secara efektif dan kreatif sehingga dapat meningkatkan keterampilan berpikir untuk menciptakan peluang dan solusi apapun yang ingin dilakukan, ciptakan atau pecahkan. Model Quantum Thinker ini berorientasi pada model mengajar peningkatan kapasitas berpikir yang mengacu pada teori perkembangan Jean Piaget. Tahap-tahap berpikir menurut Piaget adalah sebagai berikut: 1) Tahap sensorimotor (0-2 tahun) 2) Tahap praoperaional (2-7 tahun) 3) Tahap operasional (7-16 tahun) Pengertian Membaca Membaca merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang harus dipelajari dengan baik. Berikut ini akan dijelaskan apa sebenarnya pengertian dari istilah membaca menurut para ahli. Tarigan dalam bukunya “Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa” menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca melalui media katakata/bahasa tulis. (Tarigan, 1983). Anderson (1972) (Tarigan, 1983). menyatakan dalam segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recoding and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang jusru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (language meaning) yang mencangkup perubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Istilah-istilah decoding dan encoding tersebut akan lebih mudah untuk dipahami ketika kita dapat memahami bahasa sebagai sebuah sandi (code) yang direncanakan untuk dapat mengandung makna

(meaning). Apabila kita menyimak ujaran pembicara maka pada dasarnya kita membaca sandi (decoding) makna ujaran tersebut. Apabila kita berbicara, maka pada dasarnya kita menyandikan (encoding) bunyibunyi bahasa untuk membuat/mengutarakan makna (meaning). Sama halnya dalam berbicara dalam bentuk grafik, maka menulis pun merupakan suatu proses penyandian (encoding prosess), dan membaca sebagai suatu proses penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding prosess). Beberapa ahli cenderung menggunakan istilah recoding (penyandian kembali). Pengertian Membaca Ekstensif Membaca ekstensif tidak jauh beda dari membaca kilat karena saat kegiatan membaca ekstensif siswa dituntut untuk mampu membaca dengan cepat dan menemukan gagasan-gagasan yang terdapat dalam teks yang dibacanya tersebut. Setiawan (2010) mengatakan: “Pembelajaran membaca kilat memiliki empat tahap. Tahap pertama adalah masuk ke dalam kondisi genius. Ini adalah kondisi yang dapat mempercepat pembelajaran dan meningkatkan IQ siswa. Tahap kedua adalah melakukan tinjauan awal. Tinjauan awal adalah suatu cara untuk mengerti sebuah teks dalam waktu sesingkat mungkin. Tinjauan adalah peta bagi penjelajah. Ini adalah gambaran besar bagi pikiran siswa untuk mengupas teks yang akan dibacanya. Tahap ketiga adalah baca kilat. Siswa menggunakan mata secara berbeda, mengaktifkan kondisi pandangan yang reseptif. Tahap keempat mendalami bacaan dengan proses aktif, membaca judul dan atau subjudul, mulai menyerap informasi, dan menandai kata kunci.” Menurut Tarigan (1983) Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tuntutan kegiatan membaca ekstensif adalah untuk memahami isi yang penting-penting dengan cepat dan dengan demikian membaca secara efisien dapat terlaksana. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode Eksperimen. Eksperimen merupakan salah satu jenis penelitian eksperimen yang tidak menggunakan randomisasi pada awal penentuan kelompok dan juga kelompok sering dipengaruhi oleh variabel lain bukan semata-mata oleh perlakuan (Yusuf:2007). Desain penelitian pada kuasi eksperimen ini menggunakan desain “the non-equivalent kontrol

group”. Desain ini hampir sama dengan pretestpostest kontrol group, tetapi subjek yang diambil tidak secara random, baik untuk kelompok eksperimen maupun untuk kelompok kontrol. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Kemampuan Membaca Kelas Eksperimen Setelah instrumen tes dinyatakan layak dan dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, tahapan selanjutnya adalah melakukan prates (tes awal) dan pascates (tes akhir) untuk mengetahui kemampuan membaca ekstensif siswa pada kelas eksperimen. Dari hasil tes terhadap kelas eksperimen, yaitu kelas VIII A yang terdiri dari 33 siswa Berdasarkan tabel deskripsi data di atas, diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh oleh kelas eksperimen pada prates adalah 35, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 75 dengan nilai ratarata 53.03. Dari hasil prates pada kelas eksperimen tersebut ada 4 siswa yang berhasil dan 29 siswa yang gagal. Sedangkan hasil pascates diperoleh nilai terendah sebesar 60, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 85 dengan nilai rata-rata 80.90. Dari hasil pascates pada kelas eksperimen tersebut terdapat 27 yang berhasil dan 6 siswa yang gagal berdasarkan pada KKM yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII yaitu 68. Kemampuan Membaca Kelas Kontrol Untuk menguatkan hasil penelitian maka dihadirkan kelas kontrol sebagai pembanding kelas eksperimen. Kelas kontrol pun telah diberikan prates dan pascates untuk mengetahui kemampuan mereka dalam membaca ekstensif. Dari hasil tes di kelas kontrol, yaitu kelas VIII B yang terdiri dari 33 siswa. Berdasarkan tabel deskripsi data di atas, diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh oleh kelas kontrol pada prates adalah 35, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 75 dengan nilai rata-rata 59.54. Dari hasil prates pada kelas kontrol tersebut ada 6 siswa yang berhasil dan 27 siswa yang gagal. Sedangkan hasil pascates diperoleh nilai terendah sebesar 55, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 80 dengan nilai rata-rata 69.70. Dari hasil pascates pada kelas kontrol tersebut terdapat 21 yang berhasil dan 12 siswa yang gagal berdasarkan pada KKM yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII yaitu 68. Uji Normalitas Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran data pada setiap kelompok. Setelah normalitas data diketahui, normalitas tersebut digunakan sebagai asumsi

penentuan metode statistik yang akan dipergunakan dalam penganalisisan data selanjutnya. Apabila hasil dari normalitas data tersebut berdistribusi normal maka metode statistik yang digunakan adalah metode statistik parametris. Sebaliknya, jika hasi uji normalitas data tersebut menunjukkan data berdistribusi tidak normal maka metode statistik yang digunakan adalah metode statistik non parametis. Uji normalitas yang peneliti gunakan adalah rumus chi kuadrat sebagai berikut Dengan asumsi jika hitung ≤ tabel, maka data berdistribusi normal. Tapi jika hitung ≥ tabel maka data berdistribusi tidak normal. Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan hasil meliputi penjabaran secara keseluruhan mengenai hasil penelitian yang dilihat dari hasil pengolahan data sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengujicobakan keampuhan salah satu model pembelajaran, yaitu model Quantum Thinker yang akan diterapkan kedalam pembelajaran membaca ekstensif, khususnya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sukawening. Data sampel penelitian yang diperoleh berdiistribusi normal dan homogen berdasarkan perhitungan statistik sebelumnya berdasarkan taraf kepercayaan 95%. Data sampel berdistribusi normal berarti ksampel hasil penelitian tersebar dalam kurva normal. Sedangkan data bersifat homogenitas berarti terdapat keseragaman variansi antara sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama. Dilihat dari data yang dihasilkan terdapat peningkatan nilai rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Namun, masih terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata peningkatan nilai di kelas eksperimen yang menggunakan dengan kelas Kontrol. Rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandungkan dengan kelas kontrol. Rata yang diperoleh kelas eksperimen pada pasca tes adalah 80.90. sedangkan di kelas kontrol rata-rata yang diperoleh 69.70. Nilai terendah yang diperoleh kelas eksperimen pada prates adalah 35 dan nilai tertinggi yang diperoleh adalah 75. Pada awal tes banyak siswa kelas eksperimen yang tidak lulus atau tidak sesuai dengan standar KKM di SMP Negeri 1 Sukawening, yaitu 68. Jumlah siswa yang lulus hanya 4 dan siswa yang tidak lulus sebanyak 29 siswa. Hal ini wajar terjadi karena mereka belum mendapatkan materi membaca ekstensif dan juga masih banyak kebiasaan-kebiasaan yang tidak efisien yang mereka lakukan saat membaca. Hal itu menyebabkan saat menjawab prates dengan waktu

yang terbatas mereka kewalahan dalam membaca sekaligus menjawab soal. Siswa juga banyak yang belum paham bagaimana cara menemukan gagasangagasan dalam teks bacaan yang mereka baca sehingga saat mereka menjawab soal banyak yang bingung untuk menentukan gagasan dalam teks. Pada pasca tes nilaiterendah yang di dapat adalah 60. Sedangkan nilai tertinggi adalah 85. Siswa yang lulus pun meningkat menjadi 27 dan yang gagal hanya 6 siswa. Berdasarkan gambar di atas nilai terendah siswa di kelas eksperimen pada saat prates adalah 35 dan tertinggi 75. Sedangkan saat pascates nilai terendah 55 dan tertinggi 80. Siswa yang lulus pada kelas eksperimen di awal tes terdapat 6 siswa dan yang gagal sebanyak 27 siswa dan di kelas pasca tes terdapat 21 yang lulus dan 12 yang gagal. Walapun dikedua kelas (eksperimen dan kontrol) masih terdapat yang tidak lulus, namun jumlah siswa yang tidak lulus di kelas eksperimen lebih sedikit yang artinya lebih banyak siswa lulus di kelas eksperimen daripada kelas kontrol. Oleh karena itu, model Quantum Thinker ini dalap digunakan dalam pembelajaran membaca khususnya membaca ekstensif karena dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. SIMPULAN Simpulan Setelah pembahasan selesai peneliti lakukan, beberapa simpulan yang peneliti dapatkan, yaitu sebagai berikut. 1) Kemampuan membaca ekstensif di kelas eksperimen (VIII A) secara keseluruhan meningkat dari prates hingga pascates. Saat melakukan prates nilai terendah yang didapatkan oleh siswa adalah 35 dengan kategori kurang baik. Nilai tertinggi yang didapatkan siswa sebesar 75 dengan kategori baik. Rata-rata yang didapatkan pada prates sebesar 53.30 dengan kategori kurang baik. Setelah melakukan prates penerepan metode pun dilakukan dengan menggunakan model Quantum Thinker sebanyak tiga kali perlakuan, setelah itu, dilakukan pascates. Pada pascates nilai terendah yang didapatkan sebesar 65 dengan kategori cukup baik. Nilai tertinggi yang didapatkan sebesar 85 dengan kategori baik. Rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 80.90 dengan kategori baik. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa terdapat peningkatan yang signifikan antara hasil rata-rata yang didapatkan siswa dari prates hingga pascates. Kenaikan itu adalah 53.30 yang memiliki kategori kurang baik

menuju 80.90 yang memiliki kategori baik. Gain antara kedua rata-rata tersebut adalah 27.60. Peningkatan yang dialami kelas eksperimen menandakan mereka dapat menangkap gagasan yang terdapat dalam teks bacaan dengan menggunakan model Quantum Thinker. Faktor lain yang mendukung peningkatan nilai selain penggunaan model tersebut karena siswa menyimak dengan baik penjelasan guru, suasana lingkungan sekolah pun mendukung siswa dalam berkonsentrasi, siswa pun bersemangat saat belajar bahasa Indonesia di kelas. 2) Kemampuan membaca kelas kontrol (VIII B) dari prates hingga pascates secara keseluruhan relatif meningkat. Saat prates siswa mendapatkan nilai terendah sebesar 35 dengan ketegori kurang baik. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa sebesar 75 dengan kategori baik. Rata-rata yang didapatkan kelas kontrol sebesar 59.54 dengan kategori kurang baik. Pada kelas control setelah prates pembelajaran menggunakan SQ3R di kelasnya kemudian barulah melaksanakan pascates. Saat pascates nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 55 dengan kategori kurang baik. Nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa saat pascates sebesar 80 dengan kategori baik. Rata-rata nilai pascates yang diperoleh sebesar 69.50 dengan ketegori cukup baik. Dari penjelasan di atas terlihat adanya peningkatan rata-rata dari prates ke pascates dengan gain 9.96, yang semula 59.54 dengan kategori kurang baik menuju 69.50 dengan kategori cukup baik. Kenaikan rata-rata di kelas kontrol memang tidak terlalu jauh. Namun, hal itu menunjukkan hal yang baik karena tetap terjadinya peningkatan dari prates menuju pascates. Peningkatan nilai siswa kelas control tidak sejauh peningkatan di kelas eksperimen hal itu bias disebabkan berbagai hal, misalnya siswa belum memahami penggunaan SQ3R dalam pembelajaran membaca yang memang memuat banyak langkah yang harus siswa lakukan dengan waktu tes yang singkat, siswa bermalas-malasan dalam mengerjakan tes yang diberikan guru,dll. 3) Hasil analisis yang peneliti lakukan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Saat melakukan pengujian hipotesis peneliti menggunakan rumus Uji-t untuk melihat tingkat signifikansi kedua

kelas. Di akhir pengujian hipotesis dengan uji-t penulis mendapatkan hasil thitung sebesar 5.15 sedangkan ttabel dengan taraf signifikansi α = 0.05 adalah 1.665 thitung = 3.75 > ttabel(0.05)(64) = 1.665 . Hal itu menyatakan thitung > dari ttabel. Maka, hipotesis yang peneliti ajukan dapat diterima yaitu terdapatnya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Dengan demikian, model Quantum Thinker efektif untuk digunakan dalam pembelajaran membaca terutama membaca ekstensif. Hasil penelitian ini bermakna banyak bagi peneliti sebagai calon guru bahasa Indonesia dalam mencapai tujuan pembelajaran kelak karena model Quantum Thinker ini dapat membantu siswa dalam menungkatkan kemampuan membaca mereka dan memudahkan mereka dalam menemukan gagasan-gagasan saat membaca. Hasil penelitian ini pun telah menambah wawasan peneliti dalam penggunaan modelmodel pembelajaran yang baik digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Haji Azmi. 2006. Pengajaran Membaca dari Sudut Neropsikolinguistik. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei. Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar Deporter, Bobbi. 2009. Quantum Thinker. Bandung: Mizan Media Utama (MMU). Fitri. (2010). “Tes Tulis dan Tes Lisan”.[online].Tersedia: http://viviap.wordpress.com/2010/04/01/testulis-dan-lisan/[27Desember2010] Furqon & Emi Emilia.2010. Penelitian Kuantitatif & Kualitatif (Beberapa Isu Kritis). Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI. Harjasujana, Ahmad Selamet & Vismaia S. Damaianti. 2003. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara. Harris,L.Theodore (et.al) (ed). 1983.Dictionary of Reading and Related Term. London : Heinneman Educational Book Nurgiyantoro, Burhan.1995.Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE Pandawa, nurhayati, dkk. (2009) .”Pembelajaran Membaca”. [online]. Tersedia:

http://www.docstoc.com/docs/25352832/PEM BELAJARAN-MEMBACA [2010 Desember2010] Saryono, Djoko.2007.”Pembelajaran Kuantum sebagai Model Pembelajaran yang Menyenangkan”. [online]. Tersedia: http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/11/ pembelajaran-kuantum-sebagai-modelpembelajaran-yang-menyenangkan/ [21Mei 2011] Setiawan, Agus. 2010. Baca Kilat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sudarso. 1989.Materi Pokok Membaca. Jakarta:PT. Gramedia. Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta. Sugiyono.2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung: Angkasa. Suherli. (2008).Kajian Keterbacaan BerdasarkanPerspektif Peristiwa Membaca.[online]. Tersedia: http://suherlicentre.blogspot.com/2008/10/hut-70tahun-profdryusrusyana.html[26Desember2010] Susanto, Eko.2008.”Ciri-Ciri dan Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas”. [online]. tersedia: http://eko13.wordpress.com/2008/03/16/ciriciri-dan-faktor-yang-mempengaruhikreativitas/[21Februari2011] Tampubolon,D.P..2008.Kemampuan Membaca (Teknik Membaca Efektif dan Efisien). Bandung: Angkasa Tarigan. Henry Guntur. 1985.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bebahasa. Bandung: Angkasa Wahid nashihuddin.(2010).”Rendahnya Minat Baca Masyarakat Kita” KOMPAS. [online]. Terdesia: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/21/ren dahnya-minat-baca-masyarakat-kita/ [26 Desember 2010] Wahid, Devid Haryalesmana. 2009. “Jenis-jenis Membaca”. [online]. Tersedia: http://guruit07.blogspot.com/2009/01/jenisjenis-membaca-dan.html [27Desember 2010] Yurnaldi.2008.”Kemampuan Otak Belum Dioptimalkan”, KOMPAS. [online]. Tersedia: http://otomotif.kompas.com/read/2008/08/25/1 9131323/kemampuan.otak.manusia.belum.dio ptimalkan.[21Februari 2011] Yusuf, A.Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.

Suggest Documents