PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM ...

37 downloads 90 Views 126KB Size Report
pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di ... pendidikan SMA yang digunakan oleh peneliti sebagai sampel penelitian. ... terlebih dahulu dengan menyusun perencanaan pembelajaran pada silabus dan .... Azzet, Akhmad Muhaimin. 2011. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia:.

PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PKn PADA SISWA TUNAGRAHITA DI SMALB SLB PEMBINA TINGKAT NASIONAL Mindarwati Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasional Malang, (2) mendeskripsikan hambatanhambatan yang dihadapi oleh guru dalam pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasionala Malang, dan (3) mendeskripsikan upaya guru untuk mengatasi hambatan dalam pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasionala Malang. Kata Kunci: Pendidikan karakter, pembelajaran, siswa tunagrahita Dunia pendidikan terdapat dua macam pelaku belajar yang biasa disebut dengan siswa. Ada siswa yang normal dan siswa yang diluar batas normal. Peran pendidikan sangatlah penting baik bagi siswa normal maupun siswa yang memiliki keterbatasan untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki mutu dalam pembangunan bangsa. Di dalam dunia pendidikan tidak ada diskriminasi walaupun anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam kegiatan pembelajaran. Seperti halnya program pemerintah tentang pendidikan karakter yang sekarang ditingkatkan dalam pendidikan formal. Pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan tidak hanya dilakukan pada anak-anak normal melainkan juga anak-anak yang memiliki keterbatasan. Seperti anak-anak yang tumbuh secara normal, anak tunagrahita juga merupakan bagian dari suatu bangsa sekaligus sebagai generasi penerus perjuangan cita-cita bangsa yang juga berhak untuk mendapatkan pendidikan karakter. Selain itu pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran PKn.

METODE Penelitian dilakukan di SLB Pembina Tingkat Nasional Kecamatan Lawang Kabupaten Malang dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan dan triangulasi.Penelitian dilakukan khusus pada siswa tunagarahita ringan, akan tetapi hanya pada jenjang pendidikan SMA yang digunakan oleh peneliti sebagai sampel penelitian. Sekolah luar biasa (SLB) Pembina Tingkat Nasional di Kecamatan Lawang Kabupaten Malang merupakan sekolah yang dirancang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang dapat memberi skill dan diharapkan dapat bermanfaat di dalam masyarakat. Keunikan sekolah ini adalah telah bersertifikat ISO dan merupakan sekolah terbesar untuk tunagrahita bagian C. Sekolah ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang melainkan terdapat juga kelas khusus tunarungu. Di SLB Pembina Tingkat Nasional juga mengajarkan mata pelajaran ketrampilan Vokasional atau teknologi informatika dan komunikasi pada satuan pendidikan sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB) dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) yang diberikan dengan tujuan agar anak memiliki satu atau lebih ketrampilan yang dapat digunakan sebagai bekal kemandirian di masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasional Kecamatan Lawang Kabupaten Malang Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn dilakukan terlebih dahulu dengan menyusun perencanaan pembelajaran pada silabus dan RPP. Pelaksanaan pendidikan karakter secara umum sudah dilaksanakan tetapi guru kelas siswa tunagrahita belum mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn, karena dalam kurikulum di SLB belum mengembangkan

pendidikan karakter. Silabus di SLB Pembina tingkat nasional berisi: (1) identitas mata pelajaran, (2) standart kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator, (5) materi pokok, (6) pengalaman belajar, (7) alokasi waktu, (8) teknik penilaian, (9) bentuk instrumen, (10) instrumen/soal, (11) sumber belajar sesuai dengan Permendiknas RI Nomor 1 Tahun 2008 tetang standar proses pendidikan khusus.. Dari isi silabus masih belum ada pengintegrasian nilai-nilai karakter. Hal ini terlihat dengan tidak memasukkan nilai-nilai karakter didalam kolom tersendiri, sehingga akan berdampak pada penyusunan RPP, karena silabus merupakan acuan pengembangan dalam RPP. Sedangkan RPP yang dibuat guru di SLB Pembina Tingkat Nasional Malang berisi: (1) identitas mata pelajaran, (2) standart kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator, (5) tujuan pembelajaran, (6) materi pembelajaran, (7) alokasi waktu, (8) metode pembelajaran, (9) langkahlangkah pembelajaran, (10) sumber dan media belajar, dan (11) penilaian sesuai dengan Permendiknas RI Nomor 1 Tahun 2008 tetang standar proses pendidikan khusus.. RPP yang dibuat guru kelas X SMALB tidak mengembangkan nilai-nilai karakter hal ini terlihat dengan tidak ada point pengembangan nilai-nilai karakter, guru hanya menilai penilaian kognitif saja tanpa mengukur perkembangan karakter. Dalam penelitian, Peneliti melakukan kolaborasi dengan guru SLB untuk mengajar siswa tunagrahita dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn. Peneliti mengajar materi gotong royong yang terintegrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PKn. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru peneliti terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegitan inti, dan kegiatan penutup. 1. Kegitan pendahuluan a. Guru memperhatikan kehadiran peserta didik nilai yang ditanamkan adalah kedisiplinan bahwa siswa harus hadir tepat waktu masuk kelas. b. Guru menanyakan kabar siswa dengan fokus pada mereka yang tidak datang atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang, nilai yang ditanamkan adalah nilai peduli sosial bahwa siswa harus memiliki rasa empati kepada teman yang lain.

c. Guru bersama siswa berdoa sebelum memulai pelajaran dengan membacakan surat al-fatiha, nilai yang ditanamkan adalah nilai religius bahwa siswa harus melaksanakan ajaran agama yang dianutnya. d. Guru mengabsen siswa, nilai yang ditanamkan adalah nilai peduli sosial bahwa siswa harus memiliki empati kepada teman sekelas. e. Guru memotivasi siswa dengan mengajar siswa menyanyi bersama-sama sebuah lagu dengan judul “ Rayuan Pulau Kelapa” nilai yang ditanamkan adalah nilai semangat kebagsaan, siswa harus mempunyai rasa cinta tanah air. 2. Kegiatan inti a. Guru memberikan bahan ajar dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca selama 10 menit materi gotong royong. Nilai yang ditanamkan adalah gemar membaca, siswa harus memiliki kebiasaan untuk membaca. b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum dipahami nilai yang ditanamkan adalah demokrasi, siswa diberi kesempatan untuk berfikir dan menanyakan materi yang kurang dipahami. c. Dalam melaksanakan model talking stick guru menyuruh siswa maju kedepan untuk membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan nilai yang ditanamkan adalah nilai mandiri dan kerukunan siswa diharapkan mampu melaksanakaan perintah yang diberikan tanpa bantuan, rukun dan saling bekerja sama. d. Guru mengambil tongkat yang sudah dilapisi kertas yang berisi pertanyaan dan memberikan kepada siswa, setelah itu secara estafet tongkat diberikan kepada teman sebelahnya. Nilai yang ditanamkan adalah nilai disiplin, siswa diharapkan mentaati aturan yang sudah ditentukan. e. Siswa yang memengang tongkat harus menjawab pertanyaan tersebut, kalau pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab maka tongkat tersebut harus diberikan kepada teman sebelahnya. Nilai yang ditanamkan adalah nilai disiplin dan kreatif bahwa siswa harus mentaati aturan yang telah disepakati.

3. Kegiatan penutup. a. Siswa dipandu oleh guru untuk membuat kesimpulan mengenai materi yang sudah dijelaskan, nilai yang ditanamkan adalah nilai kreatif siswa diharapkan numbuhkan daya pikir. b. Guru memberikan salam dan mempersilahkan siswa keluar kelas dengan tertib pada waktunya dan saling berjabat tangan, nilai yang ditanamkan adalah tertib dan disiplin, siswa diharapkan mampu bersikap sesuai aturan. Pada tahap penilaian dalam pembelajaran PKn yang sudah terintegrasi dalam pembelajaran PKn adalah penilaian pengembangan diri dan pada waktu pelaksanaan model pembelajaran talking stick menggunakan penilaian lisan. 2. Hambatan yang dihadapi guru dalam pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasional Kecamatan Lawang Kabupaten Malang Ada dua faktor penghambat dalam pengintegrasian pendidikan karakter pada pembelajaran PKn yaitu faktor guru dan faktor siswa. 1. faktor guru a. Pada tahap perencanaan Guru mengalami kesulitan dalam membuat silabus dan RPP yang berkarakter dan kesulitan dalam menentukan nilai-nilai karakter pada perencanaan pembelajaran. b. Pada tahap pelaksanaan 1) Siswa tunagrahita cenderung pelupa 2) Waktu berkurang untuk menyampaikan materi berikutnya 3) Guru kesulitan dalam menyampaikan materi karena IQ siswa tunagrahita yang berada di bawah rata-rata c. tahap penilaian Guru hanya mengembangkan penilaian kognitif tanpa mengukur perkembangan karakter siswa. 2. Faktor siswa Dari pengalaman peneliti mengajar pada siswa tunagrahita kelas X SMALB di SLB hambatan yang dihadapi guru peneliti adalah:

a. Kondisi psikologis siswa yang cenderung diam dan kurang aktif b. IQ siswa yang berada di bawah rata-rata 3. Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasional Kecamatan Lawang Kabupaten Malang Setiap hambatan tentunya memerlukan usaha dalam mengatasi hambatan tersebut. Usaha–usaha yang ditempuh guru untuk mengatasi hambatan dalam pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn adalah 1. Faktor guru a. pada tahap perencanaan guru kelas di SLB Pembina Tingkat Malang melakukan kolaborasi dengan peneliti dan mengikuti workshop terkait dengan pendidikan karkater b. pada tahap pelaksanaan 1. Menggulangi kembali materi yang sudah diberikan 2. Memberikan pekerjaan rumah untuk mengatasi materi yang belum bisa disampaikan. 3. Penyampaikan materi dilakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana seperti bahasa jawa, memberikan contoh-contoh gambar, guru melakukan pendekata pada setiap siswa agar materi yang di jelaskan dapat dimengerti, guru dalam mengajar harus sabar dan tulus ikhlas agar materi yang disampaikan dapat diterima. c. pada tahap penilaian Melakukan penilaian pengembangan diri yaitu dengan melihat sikap dan perilaku siswa pada saat pembelajaran PKn yang sesuai dengan nilai pengembangan karakter yang ditentukan dalam indikator. 2. faktor siswa a. Untuk melihat keaktifan dan pemahaman siswa terhadap materi, perlu menggunakan metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa

b. Menyampaikan materi dengan menggunakan gambar, memberikan contoh yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dan penyampaian materi harus disederhanakan karena siswa kesulitan menerima hal-hal yang abstrak PENUTUP Kesimpulan Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn pada siswa tunagrahita SMALB di SLB Pembina Tingkat Nasional Kecamatan Lawang Kabupaten Malang secara umum sudah terlaksanakan tetapi pada perencanaan pembelajaran pada silabus dan RPP masih belum mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn. Saran saran kepada guru kelas di SLB Pembina Tingkat Malang sebagai berikut: (1) mengingat siswa tunagrahita cenderung pelupa seyogyanya guru mengulangi materi. (2) guru diharapkan sering memberikan motivasi kepada siswa (3) Guru seyogyanya melakukan pendekatan kepada siswa (4) guru diharapakan lebih kreatif dan inovatif dalam merancang metode pembelajaran yang dapat memunculkan nilai-nilai karakter (5) Guru diharapkan dapat menyesuaikan metode pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa karena nilai-nilai karakter yang dikembangkan tidak bisa disamakan dengan siswa normal. DAFTAR RUJUKAN Al Hakim, Suparlan. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan tinggi. Malang: Universitas Negeri Malang. Amri, S., Jauhari, A., dan Elisah, T. 2011. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran: Strategi Analisis dan Pengembangan Karakter Siswa dalam Proses Pembelajaran. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya. Azzet, Akhmad Muhaimin. 2011. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan Karakter terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Tunagrahita. Bandung: PT Refika Adhitama.

Efendi, Mohammad. 2008. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan dan Budaya Karakter Bangsa. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Kemendiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter: Berdasarkan Pengalaman di Satuan pendidikan Rintisan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Kesuma, D., Triatna, C., dan Permana, J. 2011. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Moleong, Lexy, J. 2010. Metodelogi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muljono, A., dan Sudjadi. 1994. Pendidikan Luar Biasa Umum. Jakarta.: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Suggest Documents